Kajian #fq Berjamaah. Seksis.

#fq yang saya maksud pada judul, tak lain adalah Farah Quinn (FQ). Chef cantik yang tenar tak hanya karena penampilannya di TV, namun juga karena menjadi bintang di ranah kicau. Untuk sebagian tweeps, ramainya hashtag #fq setiap weekend sudah terasa familiar. Apalagi bila ternyata bila sama-sama memfollow orang-orang dari kelompok yang berselera sama dan tanpa dikomando ngetwit soal objek pembicaraan yang sama. Jemaah Al Farah Quinniyah alias tweeps ini, bisakah kita sebut fansnya FQ?

Tweeps ini menonton demo masak tak hanya untuk belajar & mencari inspirasi menyiapkan sajian. Mereka ngetwit mengenai pakaian apa yang FQ kenakan hari ini. Mengomentari apa efek warna bajunya, bagaimana pakaian tersebut tampak di tubuhnya, seberapa ketat, dan apakah gambar di kaosnya “rusak” setelah menunduk.  Ketika membaca twit-twit ini, terkadang saya merasa sedang membaca ulasan dari komentator fashion seleb.

Tweeps ini mengomentari bagaimana gaya FQ menerangkan tahapan-tahapan memasak. Bagaimana caranya memegang bahan makanan tertentu, gayanya mengucapkan kalimat tertentu yang kemudian “dituduh” ambigu dan bagaimana caranya mengoles topping di atas sajian.

Tak cuma live report acara demo kemudian berkomentar mengenainya. Rangkaian timeline yg disusun oleh tweeps dengan objek obrolan yang sama rupanya menggelitik imajinasi beberapa orang. Ada yang lalu membayangkan gimana kalau kembennya melorot (ya masup angin lah :mrgreen: ), gimana seandainya jadi pisang yang sedang dipegang atau gimana kalau kembennya dioles madu.

Selera politik bisa berbeda, namun ketika FQ mengudara semua bisa satu suara. Demo masak ditonton sama-sama sekedar ingin melihat chefnya yang memanjakan mata. Salahkah? Tidak (tahu). Kita “terbiasa” untuk menerima bahwa penampilan seorang perempuan cantik lazim menjadi topik joke yang disukai para lelaki. Kita “terbiasa” untuk sepakat bahwa sudah dari alam sonolah laki-laki tertarik secara visual. (more…)

Read Users' Comments (24)

Orang Miskin Dilarang Merokok

Saya mendengar berita ini dari TV di suatu sore, kabarnya Pemda DKI Jakarta berencana mencabut jaminan kesehatan untuk orang miskin yang merokok. Nggak cuma si perokok, tapi jamkes untuk keluarganya pun ikut dicabut. Tega, heh? :shock:

Merokok atau tidak, mungkin pendapat dan perasaan kita terbagi antara senang dan kecewa. Terus terang, saya mendukung idenya yaitu untuk mendidik orang untuk lebih menentukan prioritas. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 20 persen pendapatan rumah tangga miskin dihabiskan untuk membeli rokok. :roll: Rokok menempati prioritas yang lebih tinggi dibanding alokasi dana untuk kesehatan dan pendidikan anak.

Rasanya miris gitu kalau mendengar berita tuntutan akan pendidikan & pengobatan gratis, sementara orangtua masih saja bisa membeli rokok (yang mestinya bukan kebutuhan pokok). Agak kesal juga bila menyumbang pengamen yang minta uang untuk makan, tapi di sudut jalan terlihat merokok dengan santainya. (more…)

Read Users' Comments (27)

Berbagi Cerita Berbagi Cinta – Ngerumpi

Coffee, anyone?

Coffee, anyone?

Hari terakhir di bulan penuh cinta Februari, saya mau berbagi review buku yang ditulis dengan penuh cinta. Buku ini berjudul Berbagi Cerita Berbagi Cinta. Bukan, ini bukan buku tentang poligami dan perselingkuhan (meskipun ada tulisan-tulisan yang membahas itu di dalamnya).  Ini adalah karya kolaborasi warga ngerumpi yang seneng berbagi cinta lewat tulisan-tulisannya.

Kata “ngerumpi” memang (di)identik(kan) dengan perempuan. Bahkan ada stereotipe perempuan-perempuan yang demen ngerumpi itu biasanya perempuan yang kurang kerjaan dan demennya ngomongin orang dan tidak direncanakan untuk jadi istri (oopss…). :mrgreen: Aslinya sih, awalnya saya mengira ngerumpi akan jadi wadah untuk aktivitas semacam itu. Diasuhnya oleh Silly dan Simbok Venus pula,dua emak-emak lenong rumpi ahahahha… *disundut rokok*

Saya tak pernah sangka, situs ngerumpi ini berkembang sedemikian sehingga punya sejumlah warga yang ehm, fanatik dan akrab? Saya tak tahulah istilahnya apa. Tapi bisa kebaca ada hubungan pertemanan yang harmonis di situ. Ditambah lagi, bukannya kumpulan tulisan remeh temeh cemen menye-menye yang ada di sana, tapi sejumlah tulisan inspiring yang terkadang membuat saya membatin, “ah ceritanya gw banget nih. Senangnya bisa mendapat sudut pandang lain”.

Akhir tahun lalu, Ngerumpi mendapat kesempatan untuk menerbitkan buku. Isinya kompilasi sejumlah tulisan terpilih dari lima topik utama di sana. Maka, jadilah “paket lengkap” tulisan inspiring mengenai kehidupan dari penulis-penulis yang sebagian besar perempuan. (more…)

Read Users' Comments (18)

Mau Legal tak Mesti Mahal

Sebentar, sebelum ngetik mau nyetel lagu dulu di komputer.

#nowplaying lagu Daniel Powter

Seperti biasa, memang rasanya lebih menyenangkan bila bekerja (atau ngeblog) sambil ditemani musik. Sayup-sayup aja nggak usah keras-keras. Seringkali musik menenangkan hati, melancarkan inspirasi. Bersama secangkir kopi, cocoklah untuk menemani hari.

Lalu bila ada kesempatan, dengan senang hati saya nonton pertunjukkan musik yang ada di kota saya. Senang aja gitu nyanyi-nyanyi bareng di tengah keramaian, bisa lihat permainan asli si artis apalagi kalo dapet tiketnya gratis. :mrgreen:

Segitu belum bisa dikategorikan sebagai penikmat musik kali ya? Sepertinya baru sampai taraf pendengar musik. Saya mendengarkan lagu ya pilih-pilih, nggak semua lagu dari satu artis saya dengarkan pun nggak ngefans pada artis tertentu secara berlebihan. Seperlunya dan se-moodnya saja.

Sebagai pendengar-musik biasa, ada satu fakta rahasia: sampai hari ini, tak pernah sekalipun saya membeli CD atau DVD lagu. (more…)

Read Users' Comments (41)

Nico: Pemuda Yogya yang Berjaya

A winner is someone who recognizes his God-given talents, works his tail off to develop them into skills, and uses these skills to accomplish his goals.Larry Bird

Nico BS 2010Penilaian salah satu kompetisi blog terbesar di Indonesia saat ini telah selesai. Para juri sepakat menobatkan Nico Wijaya, pemuda sukses dari Kota Gudeg itu, sebagai peraih Microsoft Bloggership Award 2010! Nico menang karena tak hanya bisa menulis dengan cerdas, namun juga karena beraksi nyata di komunitas. Ya, teman kita itu memang layak jadi juara.

Tentu ini bukan klimaksnya, juga bukan akhir dari sebuah hajatan, karena perjalanan Nico baru akan dimulai. Sejumlah tempat menanti untuk disinggahi, sejumlah pengalaman tentunya kemudian akan dibagi. Dan kita sebagai pembacanya, siaplah menjadi saksi tumbuhnya berbagai cerita menarik, ide segar dan opini.

Nico memang penuh semangat & senang belajar hal baru. Inilah yang saya lihat darinya ketika dia ikut dalam kunjungan saya ke Jawa Tengah untuk Microsoft Bloggership tahun lalu. Nggak semua orang tertarik untuk ikut jalan ke pelosok desa, bertemu dengan orang-orang baru & berbagi cerita yang didapatnya. Tapi di tengah kesibukannya kala itu, dia mau bergabung dengan antusias. Hai Nico, butuh teman jalan-jalan nggak kali ini? “wink-wink” :mrgreen:

(more…)

Read Users' Comments (35)

Bukan Bank, Hanya Terhutang

Koin koin

Secara (jieehh “secara” :p) hukum yang saya tahu, berhutang adalah hal yang dibolehkan. Memfasilitasi orang untuk berhutang, dengan demikian pun tidak dilarang, karena bisa menolong orang. Bila kemudian memberikan pinjaman bisa memudahkan urusan orang, mestinya hati kita jadi ikut senang ‘kan?

Tapi bagaimana bila urusan hutang-piutang mulai terasa mengganggu?

(more…)

Read Users' Comments (37)