Pesta Blogger Nostalgia

Mengenang 10 tahun #PestaBlogger, ngeblog berantai, drama di kolom komentar, komunitas jalan2 & makan2™, menang lomba, nulis buku, keliling Indonesia sampai bisa ke Amerika.

Ngeblog sejak masih kuliah di akhir 2004, nggak pernah sangka berawal dari nulis tentang patah hati bisa membawa hingga sejauh ini.

Terima kasih teman-teman Maverick atas malam reuni yang begitu menyenangkan.

Selamat Hari Blogger Nasional.

#BlogUntukIndonesia #PestaBloggerNostalgia

Belajar Hidroponik Bersama “Garasi Hidroponik”

Belakangan ini, saya mencoba hal baru yaitu belajar hidroponik. Sebagai alumnus IPB, tentu pengetahuan tentang hidroponik tidak baru-baru amat namun baru kali ini menyempatkan diri untuk baca-baca lebih jauh dan berminat untuk mencoba. Sepertinya menyenangkan untuk praktek sendiri karena kalau sukses bisa punya stok sayur yang fresh dan dekat dari dapur.

Awalnya adalah munculnya konten tentang hidroponik yang dilakukan oleh sahabat sejak kuliah, Umi, di Facebook. Bermula dari hobi, rupanya kini Umi dan suami menjadi praktisi hidroponik yang jadi rujukan tetangga dan teman-teman online. Menarik sekali melihat foto-foto sayur dan buah yang dipanen sendiri di atas garasi di rumahnya. Maka ketika Umi mengadakan pelatihan di Bogor, saya langsung mendaftarkan diri dan ayah saya untuk ikutan.

Bertempat di Nusagrow Fruit Farm & Nurseries – Bogor, Minggu lalu saya mengikuti Pelatihan Hidroponik untuk Pemula bersama Garasi Hidroponik yang dikelola oleh Umi dan Yudhan suaminya. Materinya seputar basic belajar hidroponik mulai dari pengertian, pemilihan media tanam, teknik-teknik hidroponik, dan praktek menyemai benih. Pengetahuan dasar tentang hidroponik penting sekali untuk memulai hobi ini, karena bila sudah jalan, ada banyak website, YouTube channel & grup komunitas hidroponik yang bisa menjadi rujukan nantinya.

Tips dasar yang dipelajari di pelatihan misalnya seperti cara memotong media tanam rockwool yang benar. Rockwool (yang saya kira spons biasa ternyata serat mineral berbahan dasar batu!) yang tidak dipotong dan ditanam dengan benar bisa mengakibatkan benih tidak tumbuh dengan baik. Hal ini baru diketahui saat pelatihan oleh ayah saya yang sudah duluan memulai hidroponik. Tips-tips lainnya seperti cara membuat wadah dari barang-barang bekas di sekitar, memilih benih yang sehat, atau membuat pestisida organik dipelajari juga di sini.

Nggak pernah rugi belajar hal yang baru. Meskipun masih cari-cari waktu untuk praktek sendiri, namun ikut pelatihan ini untuk belajar hidroponik jadi bikin semakin termotivasi. Untuk yang ingin berkebun tapi punya space terbatas seperti di apartemen, atau malas kotor-kotoran sama tanah, ini hobi yang menarik untuk dieksplorasi.

Wajah Baru Pengurus Blogor 2014 – 2016

Pengurus Blogor 2014 – 2016 kok

Enam tahun berlalu begitu cepat. Rasanya belum lama kami berkumpul di Gedung Telkom Bogor, sebagian besar baru bertemu pertama kalinya, untuk pendirian Komunitas Blogger Bogor (Blogor). Dari sejumlah blogger yang bertemu di hari itu, beberapa masih berada di antara kami, beberapa yang lain memilih untuk pergi.

Namun komunitas Blogor masih tetap ada dan anggotanya tetap berkarya (walaupun terpisah di banyak komunitas). Meskipun sudah lama tidak ada kegiatan bersama, tapi  kami masih merasa sebagai bagian dari badan yang sama. Tetap aktif di mailing list menjaga komunikasi seraya mencari-cari alasan untuk reuni dan bikin acara lagi.

Selama enam tahun usianya, Blogor telah dipimpin oleh tiga orang Pupuhu berbeda. Pupuhu pertama sekaligus co-founder, Hanggadamai, kini memilih menjadi pengusaha. Pupuhu kedua, Matahari Timoer, membawa Blogor menyukseskan banyak kegiatan online dan offlind. Lalu Pupuhu Ketiga, Harris Maulana, ah siapa sih yang nggak kenal namanya?

Hingga tibalah saatnya pergantian masa kepengurusan sekaligus memberi nafas  baru di komunitas. Continue reading…

How to Find Missing Items on a Taxi

As one of those Jakartans who relies on public transportation, I use taxi quite often here. Even though I’ve heard number of bad stories on how awful some taxi drivers treating their passengers -and some criminal stories as well, taxi is just the most reliable and safest transportation mode so far. Doesn’t mean that I don’t use other transportation at all tho, I use ojek, commuter line train, etc. but I just use taxi more often. Been using various taxi services for years has taught me on choosing which taxi to stop, what to do/not do and how to prevent yourself from unwanted experience like losing your belongings on the taxi.

Kalau supir taksinya ganteng gini, seru ya

But no matter how alerted you are, shit happens sometimes. In my case, I left my laptop on the taxi. But, we’ll get to it later. I’ll tell you other story first.

Case 1
It was back then in 2012 when my dear friend, Kounila, came from Cambodia to attend a journalism workshop in Jakarta. We had dinner with fellow bloggers at fX Sudirman. I took Blue Bird taxi and accompanied her to Grand Mahakam hotel before I go home to my place. Around 30 mins later she called me to inform that she lost her wallet somewhere. I thought she accidentally dropped her small wallet at the mall. But there was no chance to go back to the mall and search as it was already midnight.

She was quite sure that she accidentally dropped it inside the taxi. None of us remembered either the taxi number or the driver’s name. But then I called Blue Bird anyway and provided their Customer Service with these details: route (where you were picked up, destination), argo and my guess on the taxi’s number. I wasn’t sure that they would find her wallet.

But they finally found it in just less than 3 hours, past midnight. The driver was even willing to drive and deliver the wallet to Kounila’s hotel at 6 AM next morning. Kudos to Blue Bird.

Case 2
It happened several weeks ago on my way to RS Pusat Pertamina to visit my boss’ hubby. I went there from Plaza Indonesia along with my colleague. When we finally arrived at the hospital, I was on a middle of a phone conversation and busy to put a lipstick on my lips (a little touch up won’t hurt you, no?). So my colleague paid for the taxi and then we headed quickly to the hospital lobby, without looking back to find what’s left on the taxi floor.

Then it hit me… I left my Acer LAPTOP inside the taxi. And of course we didn’t see it because my laptop bag was black, same color with the taxi’s carpet.

I tried to be as calm as possible, called the Blue Bird Customer Service number and explained the situation. I provided them with these details: route, argo plus details of me and my colleague (two women with many carry hand-bags). Within 30 minutes, I received a call from their CS confirming they have found the taxi, then they sent him to go back to RSPP. How fast!

So don’t forget to put this as SOP when you use taxi service in Jakarta:

  1. Always check the taxi number (usually 6 digits combination of letters and numbers), remember it or share it to your trusted friends
  2. Remember details of your trip e.g. time when you’re picked up, from where, destination, arrival time and argo
  3. Remember details of the driver e.g. name and driver’s ID. It’s always located on the dashboard
  4. It’s good to have taxi’s customer service number saved on your phone as well, just in case you need to call them asap. For those in need:
    • Blue Bird Customer Service (Jakarta): (021) 797 1245
    • Express Taxi Customer Service (Jakarta): (021) 500 122

I never experienced losing stuffs on other taxis, but I think it applies anywhere. Got something to say? Put in on comments box below 😉

Credit:
“Supir taksi ganteng” image from Rurisiruri’s blog.

Mengawal Perhitungan Suara Pilpres 2014

Pemilu 2014 kali ini memang berbeda. Atensi dan partisipasi warga lebih tinggi dibanding pemilu-pemilu yang pernah dilakukan sebelumnya. Pada Pemilu 2014 kali ini pula, kita menyaksikan lahirnya banyak kreativitas dari mulai cara kampanye, hingga beragam inisiatif untuk mengawal keseluruhan proses.

Sejumlah teman pun memulai inisiatif dan berbagi kesadaran untuk mengawal proses perhitungan suara yang dilakukan oleh KPU. Hal ini dilakukan karena website KPU yang sekarang ada tidak menyediakan data yang lebih mudah dibaca oleh publik. Karena itulah, sejumlah netizen berinisiatif untuk melakukan rekap data Form C1 yang lebih mudah dibaca (karena dalam bentuk tabel). Pada akhir perhitungan suara secara resmi -andai tim relawan rekap bisa menyamai kecepatan KPU-, maka kita bisa melihat ada/tidaknya diskrepansi atau pergeseran hasil rekap perhitungan suara.

Contoh kejanggalan C1 di Website KPU.

Inisiatif ini dimulai hari Jumat, 11 Juli 2014 siang oleh @suprie dan kawan-kawan. Setelah inisiatif ini dilempar ke Twitter siang harinya, mulai banyak email yang datang untuk menawarkan bantuan. Bahkan sudah ada juga sejumlah relawan lain yang memiliki ide yang sama dan telah melakukannya lebih dulu. Mereka kemudian setuju untuk berkolaborasi.

Hasil rekap form C1 yang sudah disubmit oleh relawan bisa diakses via Google Drive di Hasil Rekap C1 Pilpres.

Anda juga bisa berpartisipasi!

Caranya:

  1. Buka website KPU halaman C1 Pilpres 2014 dan ikut pantau, minimal dari area tempat Anda tinggal.
  2. Kirim email ke [email protected] Suprie akan menginfokan mana provinsi atau kabupaten yang belum tercover
  3. Download format rekap berikut ini (klik kanan, Save As) dan mulai rekap hasilnya berdasarkan data di website KPU halaman C1 di atas.
  4. Kirim segera hasil entri data yang anda lakukan ke [email protected] untuk digabungkan dengan data dari relawan lain
  5. Jika menemukan hasil perhitungan Form C1 yang aneh, silakan infokan ke

Pls note: karena datanya direkap oleh umum, ada kemungkinan kesalahan entri. Karena itu, tetap diperlukan adanya cross-check ke website KPU. Siapa yang melakukan? Kita, Anda juga.

Semakin banyak relawan yang berpartisipasi dalam inisiatif ini, semakin baik dan semakin transparan proses perhitungan suara yang sedang dilakukan. Mari berpartisipasi dan kawal terus pelaksanaan demokrasi di Indonesia!

UPDATE 14 Juli 2014
Tim relawan lain yang menamakan dirinya Crowd Sourced Count membuat aplikasi rekap suara dari form C1 dan penghitungan database berbasis crowdsourcing. Mekanismenya adalah pengelola menyediakan halaman yang akan menampilkan hasil scan C1 dari TPS serta form data entry secara acak. User (crowd) bisa berpartisipasi dengan mengisikan data ke form, memverifikasi jumlah/adanya tandatangan dan kesesuaian TPS serta memberi catatan bila hasil scannya salah.

Untuk berpartisipasi, langsung saja klik halaman aplikasi Kawal Suara.

Aplikasi Kawal Suara

Not That Ordinary Valentine Flowers

Yesterday, I found that one of my colleagues set a prank on her husband. Instead of giving him a small yet portable bouquette, she decided to give him a larger one. So unique and cute, it makes me wanna do a quick update on this blog.

The Book of Mainstream taught us to do these rituals every Valentine’s Day:

  1. Buy or make some gifts for your loved ones e.g. flowers, chocolate, necklace
  2. Dress in pink for the romantic dinner
  3. Request a love song through a local radio
  4. Send greeting card admitting your feelings to your crush
  5. Rots on your single bed or find some excuses if you have no date on V-day

Do I follow the “guidelines”? No. Just like I once wrote my opinion on this years ago, for me Valentine’s Day is just one of those “special days” made up and maintained by global conspiracy consist of people from various industries (chocolate, fashion, teen magz, wine, hotels, etc.) so we, the customers, buy the idea and make a purchase.

It has nothing to do with demoralization or promoting free sex. Well at least, that’s how I see it.

But Valentine’s Day has some nice things we can get benefits from. This is one of those shopping seasons when you can buy some nice dresses (at discounted price), cakes, and other cute things without feeling guilty. And if you were lucky, you can get them for free! Remember the gift giving tradition attached to V-day?

Speaking of which, yesterday I just found one of the most creative Valentine surprises. But no, it wasn’t happened to me, too bad (or should I say, thank God?). My colleague sent this huge, awesome board of flowers to her lovely husband.

Not that ordinary Valentine bouquette

So, this is what she wrote on her Facebook (I have her permission to reshare her story):

 My husband and I dated in the 90’s where man usually gives flower or gifts during valentine’s day. Skip forward 20 years later, we’re now living in the 21st century and for some reason, he thinks it’s the other way round: a girl should send flowers sooooooo for so many years he stopped the gift giving things. Then I decided to send him a BIG reminder on how things supposed to be. So, I sent one big flowers to his office and put in front of his car.

You should’ve seen her husband’s face… LOL! Well, it was just a prank from a wife who (perhaps) was silently expecting small gift or extra attention from her significant one.

What I’m trying to say is.. it doesn’t mean that daily dose of love is not enough but sometimes it’s nice to show some extra love to your loved ones, on any special occasions. A small gift won’t hurt your financial stability. And remember, underline this, don’t limit it to V-day only.

Like my dear friend says, “Don’t let our love be defined by Valentine’s Day”.