Hari ini saya melihat satu lagi iklan baru produk kosmetika pemutih kulit. Produk ini (Skin Care, maaf karena telah menyebut merek) menggunakan pakem yang sama dengan sebagian besar iklan produk pemutih kulit lainnya. Dikisahkan si wanita kecewa karena gebetannya tidak meliriknya dan membuatnya beranggapan warna kulitnya yang gelap sebagai penyebabnya. Kemudian mulailah dia melakukan perjuangan: mandi dengan sabun (untuk memutihkan kulit, memangnya sebelumnya dia tidak pernah mandi?) guna menarik perhatian si cowo.

Jauh dalam hati saya, sejujurnya saya merasa iklan seperti ini makin memuakkan. Iklan seperti ini, yang saya sebut iklan bodoh, rupanya membodohi banyak wanita untuk memutihkan kulit dengan membabi buta. Dan akibatnya si kulit yang sehari-hari sudah terpapar sinar matahari pun masih harus bersentuhan dengan berbagai bahan kimia (yang tidak semuanya aman). Semua demi penampilan impian.

Saya juga bodoh kalau masih mempertanyakan pertanyaan bodoh ini: benarkah semua pria tertarik hanya pada wanita berkulit putih? Saya tahu jawabannya pasti tidak. Kenapa? Saudara saya dan beberapa kenalan saya tidak putih, tapi masih ada pria baik yang mau memperistri mereka. Saya tidak berkulit putih, tapi saya tidak minder karenanya sebab masih ada aja tuh pria yang mau dekat dengan saya. Jadi, kulit putih bukan satu-satunya alasan pria tertarik kepada seorang wanita.

Alasan yang bisa jadi terlontar dari orang-orang yang kontra dengan saya mungkin adalah: kulit putih kan eye catching, langsung kelihatan. IYA!! Jelas saya mengerti hal itu. Di Indonesia yang sebagian besar orang-orangnya berkulit gelap (rata-rata sawo matang), tentu saja kulit putih akan menarik perhatian. Coba saja anda yang berkulit sawo matang nongkrong di pasar di Afrika. Niscaya kehadiran anda di sana akan menarik perhatian juga. Kenapa? Karena anda berbeda dengan sebagian besar orang. Anda akan dianggap unik. Dianggap paling cantik? Belum tentu. Karena setiap masyarakat secara alamiah mempunyai standar tertentu dalam menentukan kualifikasi kecantikan. Mungkin saja di Afrika sana, yang hitam malah dianggap lebih menarik. Jadi itu pendapat saya, menarik perhatian karena beda dengan yang lain. Tidak lebih.

Namun sesungguhnya ada permasalahan yang jauh lebih besar di sini. Kulit putih yang digembar-gemborkan para produsen kosmetika sedikit banyak telah menyentuh persoalan kelas. Anda tentu paham bahwa apa-apa yang dikonotasikan sebagai milik ‘kalangan atas’ akan mendapat derajat penghormatan lebih tinggi. Di Indonesia, kulit putih dianggap lebih keren karena si pemilik dianggap sebagai orang yang lebih sering mandi, terlindung dari sinar matahari (mungkin karena selalu naik mobil ber-AC) dan bukan pekerja kasar. Ini anggapan yang merupakan warisan dari penjajahan Indonesia oleh bangsa Belanda dulu. Kulit putihnya dianggap ada kemiripan dengan noni-noni Belanda yang sering mandi memakai sabun. Kalau dipikir-pikir, kita merendahkan diri kita sendiri ya kalau minder dengan keadaan kita sendiri. Padahal ini semua persoalan genetik semata.

Masih belum percaya dengan permasalahan kelas yang saya kemukakan tadi? Di negara Barat (yang notabene kulit mereka sudah putih dari sono-nya), mereka yang berkulit kecokelatan malah dianggap lebih berkelas dan menarik. Karena mereke yang berkulit coklat biasanya punya kondisi finansial yang cukup untuk digunakan berlibur ke Bali dan berjemur di sana.

Kenapa terpikir sebegini jauh? Well mungkin saya tidak akan terlalu peduli andai saja salah seorang teman dekat saya tidak curhat sampai menangis mempertanyakan kenapa dia tidak kunjung dapat pacar. Dia pikir penyebabnya adalah perawakannya yang gemuk dan kulitnya yang tidak putih. Kalau begini, siapa yang kemudian harus disalahkan?