Aku memilih untuk melanjutkan hidupku. Apapun yang terjadi kemarin, hal itu tak akan dapat menghentikan langkahku.

Tidakkah kau sempat bersedih?
Aku memilih untuk tidak merasakan kesedihan itu.

Kau tidak bersedih?
Kau kira aku bukan manusia? Kau kira aku tidak bisa merasakan kesedihan? Ya tentu saja aku sedih. Aku bahkan menangis. Sekarang kau bisa yakin, ya aku memang manusia biasa. Dua puluh satu tahun persahabatanmu denganku, pasti selama itu pula kau menunggu untuk melihatku menangis.

Tapi kemana Akal yang kau agung-agungkan sejak dulu?
Akal meninggalkanku sejak detik pertama pertemuanku dengan Dia. Ketika Dia pergi, aku memilih untuk meninggalkan Hati di tempat kami berpisah. Selangkah setelah aku berjalan, aku bertemu kembali dengan Akal. Aku berlutut di depannya dan memohonnya untuk tidak pernah tinggalkan aku lagi.

Bagaimana dengan Hati, tidakkah dia pernah menyusulmu?
Satu hal yang belum kuceritakan padamu, aku tidak sekedar meninggalkannya, aku mengikatnya, sehingga dia tidak pernah bisa menyusulku.

Hati pasti merasa kesepian…
Hati bukan teman yang baik. Hati cemburu pada Akal yang selalu menjadi kawan baikku. Ketika Dia bertemu denganku, rupanya saat itulah Hati melancarkan rencananya.
Hati menguasaiku dan entah bagaimana mengusir Akal keluar dari diriku.

Kau tidak sempurna lagi…
Lebih baik begitu daripada merasakan lagi apa yang pernah kurasakan.

Akal tidak selalu baik padamu…
Setidaknya dia selalu mengajakku berdiskusi mengenai segala sesuatu. Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu, dia tidak pernah mencoba menguasaiku.

Bukan dirimu yang berbicara saat ini..
Aku bahkan tidak dapat mengenali diriku lagi, tapi itu tidak menjadi masalah. Akal tidak akan mencelakakanku.

Apa kau bisa yakin?
….

Tidakkah kau merindukan Hati?
Tidak!!

Sedikitpun?
…..
…..
…..
Aku sudah lupa tempat dimana aku mengikatnya…

Inginkah kau kutemani mencarinya?
Dan kembali melewati jalan itu maksudmu?! Tentu saja tidak!

Kau akan tidak sempurna selamanya…
Kuambil resikonya. Lebih baik daripada kembali ke sana. Aku sudah berjalan sejauh ini, tidakkah itu hanya membuang-buang waktuku saja? Aku tidak mau kembali ke sana…

Lalu bagaimana dengan Hati?
…..
…..
Seseorang akan menemukannya, membebaskan ikatannya dan mempertemukanku kembali dengan Hati.
Suatu hari nanti *berdoa*.