27 November 2006

Dulu, ketika SMP saya tergabung dalam organisasi Pramuka. Saya bangga sekali karenanya sebab ketika itu Pramuka SMP Negeri 4 adalah yang terbaik di Bogor. Langganan Juara Umum Lomba Pramuka, bahkan kalau kami hanya membawa piala Juara Dua pun rasanya hina sekali.

Sebagai pencinta Pramuka, saya menerapkan beberapa ilmu Pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuknya adalah menggunakan Sandi Morse untuk menulis catatan harian saya. Saat itu selain Pengetahuan Umum, Morse adalah salah satu andalan saya dalam menghadapi bermacam lomba. Catatan-catatan harian ini, saya simpan dalam satu binder yang sama dengan file catatan pelajaran saya. Catatan harian ini mencakup juga cerita-cerita tentang gebetan saya waktu itu, seorang teman Pramuka dengan inisial A. Catatan harian ini, sayangnya menarik perhatian seorang teman (Nilam) untuk mengetahui isinya.

Suatu hari saat kami sedang berkumpul di Sanggar Pramuka, Nilam melepas paksa catatan harian itu. Sambil berlari pulang, dia berteriak “gw kembaliin besok. Gw terjemahin dulu isinya!”. Dan ternyata dia serius, Nilam memang tidak hafal Sandi Morse. Namun nyata bahwa dia berusaha keras karena ada coret-coretan pensil yang tidak terhapus sempurna di kertas-kertas itu keesokan harinya.

Tentu saja dia jadi tahu perasaan saya terhadap cowok itu.

Jadilah dia menjadi salah satu mak comblang yang dengan serius berusaha mendekatkan saya dengan si cowok. Berkat kemampuannya melobi, mak comblang saya menjelma menjadi sebuah tim solid dengan anggota beberapa anak Pramuka yang tersebar di beberapa kelas. Dia menjadi salah seorang yang ikut senang ketika melihat si cowok mengajak saya pulang bareng. Dia menjadi salah seorang yang bersemangat ketika melihat saya terlibat canda dengan si cowok sedemikian dekat. Dan dia juga menjadi salah seorang yang ikut marah ketika suatu hari si cowok malah jadian dengan adik kelas saya (karena suatu kecelakaan yang konyol).

Saya akhirnya memang ngga pernah jadian sama cowok itu. Beberapa bulan kemudian, saya jadian dengan seorang teman les yang berbeda sekolah tapi punya nama yang sama dengan cowok anak Pramuka itu.

Kisah ini terjadi pada tahun terakhir saya di SMP 4. Sayangnya si anak Pramuka ini tidak satu SMU dengan saya, NEM-nya tidak cukup bagus saat itu hehehe.. Beberapa tahun setelah itu, sesekali saya masih suka menulis diary menggunakan Sandi Morse. Saat ini saya masih hafal sekitar 90 persen huruf Morse. Ah ya, walaupun sekarang teknologi sudah makin canggih dengan adanya software-software diary dengan pengaman password, Morse tidak akan pernah hilang dari kenangan saya.