26 November 2006

Beberapa hari ini saya kerap bersitegang dengan bokap. Beliau ini –satu dari sekian orang yang mencintai dan saya cintai- rupanya terganggu karena belakangan ini saya sering pulang malam. Kekhawatiran beliau, untunglah dapat saya pahami sebagai satu bentuk perhatian. Bagaimanapun bentuk penyampaiannya (SMS, telepon, pertanyaan di waktu pagi), kekhawatirannya adalah salah satu alasan yang mendorong saya selalu ingin kembali ke rumah. Bagaimanapun beliau adalah satu-satunya anggota keluarga di rumah yang tidak bisa tertidur ketika ada anggota keluarganya yang masih tercecer di luar rumah.


Kali ini, kekhawatirannya berpusat pada (menurut anggapannya) kurangnya waktu tidur saya. Penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan mudah, karena beliau dengan memang mengetahui kegiatan rutin saya. Itulah sebabnya saya hampir tidak pernah kehabisan pulsa, bokap menjamin ketersediaan pulsa ponsel untuk memudahkan saya melapor kegiatan dan posisi saya kepadanya.


Kembali lagi ke masalah kurang istirahat, ya… ngga bisa dibilang begitu sih. Kurang waktu tidur tepatnya. Beberapa hari belakangan ini memang ada saja kegiatan yang memaksa saya tidur larut malam. Mulai dari tiga hari lembur waktu ditugaskan memanage pembuatan film pendek, makan malam dengan klien, meliput untuk Pariwara sampai hang out bersama teman (satu hal yang sudah jarang sekali saya lakukan). Dan seringkali waktu melek itu masih berlangsung hingga larut malam.
Ada saja hal yang memaksa saya untuk tidur semakin larut. Mulai dari mendesain publikasi untuk kebutuhan training, mentransfer rekaman wawancara dan mambuat rekapnya, menonton film-film bagus kalau sedang diputar di TV hingga ngobrol dengan teman (tengah malam) yang kebetulan mendapat jatah freetalk. Oh ya, empat hari ini juga saya diganggu sariawan besar yang cukup membuat tubuh selelah apapun enggan tertidur pulas.


Yeah well, itu kira-kira rincian kegiatan saya yang cukup membuat bokap hakul yakin saya kurang tidur. Padahal jatah tidur saya hari-hari ini tidak lebih sedikit dibanding ketika saya masih kuliah dulu. Beruntung sekarang saya tidak dipusingkan dengan paper-paper KPM yang jumlahnya mencapai lima perminggu itu. Kegiatan saya juga tidak lebih melelahkan dibanding saat kuliah dulu. Beberapa bulan ini, saya banyak menggunakan waktu dengan duduk di depan komputer. *Pekerjaan ini disebut monitoring=memelototi monitor komputer. Meminjam istilah teman saya dari UGM.


Jadi kalau selama bertahun-tahun ini saya bisa menjalani hidup tanpa gangguan kesehatan yang berarti (karena jam tidur yang sedikit), kenapa beliau harus khawatir? Tapi sekali lagi, pertanyaan saya terhenti pada dua kata saja: karena sayang.


Sesungguhnya, saya tidak merasa kekurangan waktu bersantai. Santai ya seperti saat ini, Minggu dini hari berteman handphone+earphone dan buku pinjaman dari seorang teman. Inilah salah satu bentuk santai menurut saya. Ah ya, kok saya memaknai santai berbeda dengan bokap ya? Buat saya, santai bisa berarti detik-detik di mana kita bisa berbagai cerita lucu dengan teman, tertawa bersama karena buruknya audio system bioskop dan juga detik-detik menjelang tidur yang saya lewatkan dengan mengenang kelucuan- kelucuan yang terjadi pada siang harinya.


Intinya, santai tidak harus berarti berbaring di kamar tidak mengerjakan apapun. Santai adalah setiap detik yang dilewatkan dengan senyuman, rasa nyaman yang menjaga setiap sel di tubuh bersemangat mengerjakan fungsi normalnya. Karena saya merasa menjadi orang yang lebih banyak tersenyum daripada khawatir, punya lebih banyak cerita lucu untuk dibagi ketimbang cerita sedih, lebih banyak teman daripada musuh (semoga), rasanya kok saya santai terus ya?