27 November 2006

Dalam suatu suasana yang nyaman untuk diri saya, biasanya saya bicara lebih banyak ketimbang menjadi pendengar. Selain suka berbicara, kegemaran saya yang lain adalah menulis. Banyak hal yang saya tulis dan saya punya dokumentasi yang cukup mengenai beberapa kejadian penting dalam hidup saya. Namun, saya kurang suka mencatat materi pelajaran maupun kuliah. Entah kenapa, saya merasa kurang sreg bila harus menyalin apa yang orang lain sudah tulis. Terlebih kalau saya bisa mendapatkan materi yang sama tanpa harus membuat catatan.

Suatu hari ketika saya masih menjadi murid kelas 3-I di SMP Negeri 4 Bogor, saya membuat seorang guru marah besar. Guru ini, wanita tua yang mengajar pelajaran Matematika sesungguhnya adalah salah seorang guru favorit saya karena gaya cuek dan celetukan khas ibu-ibunya di tengah pelajaran. Saat itu, beliau sedang menerangkan hal-hal yang bisa dihitung dari sebuah kerucut, mulai dari volume hingga irisannya. Saya memperhatikan secara seksama ketika beliau menerangkan dan bermain tebak-tebakan dengan teman (Yudha) ketika teman-teman lain menyalin apa yang Ibu tulis di papan tulis. Ibu Guru berkeliling kelas menghampiri setiap meja.

Ketika sampai di meja saya, beliau langsung melihat buku tulis saya dan bertanya, “mana..mana..? Lihat catatan kamu”.

Saat itu, saya dengan polosnya menjawab, “Ngga nyalin, bu”.
“Kenapa?!”
“Kan udah ada di buku cetak…”
(jawaban polos atau bego sih?)
Kemudian beliau menghela napas dan BRAAKK!! Ibu Guru menggebrak meja saya dengan tangannya dan berteriak, “TULIS!!”. Kelas terhenyak dan langsung melihat ke arah saya.


“Kamu pikir untuk apa Ibu menulis kalau bukan untuk disalin?”, marahnya. Saya diam. Sambil melotot, beliau melanjutkan ceramah panjangnya yang dalam setiap jeda selalu dijawab teman-teman seperti bebek, “iya, bu..”.Selesai mengomel, Ibu Guru kemudian berlalu dan berkata, “tulis sekarang”. Tanpa memperpanjang urusan, saya menulis dengan tangan gemetaran setelahnya. Saya gemetar bukan karena takut, tapi seratus persen merasa sangat marah.
Bahkan ketika itu pun saya tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada alasannya. Ketika itu adalah masa-masa di mana saya sangat bisa mengandalkan daya ingat saya. Saya memang tidak terbiasa menulis apa yang sudah ada di buku. Saya hanya menulis poin-poin perkataan guru yang diambil dari buku lain. Dengan tingkat kemalasan demikian, saya merasa cukup dengan selalu masuk golongan lima besar di kelas. For your information, SMP Negeri 4 Bogor adalah salah satu sekolah unggulan di kota ini.

Saya memang tidak lantas berubah menjadi rajin setelah kejadian itu. Saya tetap pada kebiasaan saya mencatat hanya bagian-bagian yang saya anggap penting dan tetap pintar dengan memperhatikan pelajaran dari guru secara serius. Tentu saja saya jadi lebih berhati-hati setelahnya, ketika teman-teman mencatat, saya berpura-pura ikut sibuk padahal yang tercipta dari pulpen saya hanyalah kartun sapi dengan bunga di kupingnya. Tapi peristiwa tersebut menyumbang suatu poin pemahaman bagi saya untuk sesekali memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain. Seringkali saya keukeuh dengan apa yang menjadi kebiasaan saya karena yakin bahwa hal tersebut tidak menyakiti orang lain. Saya tidak memikirkan perasaan guru saya yang kecewa karena menganggap saya tidak menghargai pelajarannya. Padahal sumpah Bu, Pak, saya selalu memperhatikan kata-kata Ibu dan Bapak! Tapi emang males nulis aja

Sekarang, saya memutuskan untuk selalu mencatat. Apapun. Kapanpun. Bahkan Menjadi Penulis adalah satu hal dari Daftar Cita-cita saya yang baru.