Saya terinspirasi sama postingan Rina yang bisa dibaca di sini. Jika menggunakan sudut pandang yang sama, saya bisa menambahkan tiga lagi ciri orang Indonesia, khusus seputar perilaku pengguna angkutan umum di Bogor.

1. Ngga mau geser

Angkot di Bogor (seperti juga di banyak daerah lainnya) didesain sedemikian sehingga cuma mampu menampung 10-12 orang penumpang bayar. Lebar body angkot juga ngga pernah selebar metro mini, makanya kadangkala angkot penuh cuma menyisakan gang kecil di antara lutut kedua penumpang. Udah tau angkot kecil, masih ada aja orang yang ngga mau geser ke dalem walopun ada orang baru naek! Ini masih ditambah parah sama kebiasaan sopir angkot yang buru-buru cabut padahal penumpang belum duduk dengan selayaknya, biasalah takut digetok sama polisi karena naekin penumpang sembarangan.

2. Calo-calo angkot penipu

Udah naluri calon penumpang untuk milih angkot yang keliatan penuh atau yang udah mau jalan. Ternyata perilaku ini diamati oleh para sopir angkot dan sekutunya yaitu calo angkot. Nah…bersekongkollah mereka untuk nipu calon penumpang dengan menuh-menuhin angkot sama calo…pas banyak penumpang udah naik, berbondong-bondonglah itu calo ble’e turun…

3. Meracuni sistem pernafasan orang (baik)

Perhatian khusus kepada para cowok!! Bukannya bermaksud bias gender, tapi selama saya hidup (22 tahun tahun kurang satu minggu) ini emang belum pernah menemukan penumpang angkot yang merokok berjenis kelamin perempuan. Tahukah kalian bahwa pada umumnya lelaki dianugerahkan keringat yang lebih banyak dan lebih bau? Tolong jangan semakin meracuni sistem pernafasan kami (orang baik perokok pasif) dengan asap rokok, karena angkot penuh orang ditambah bau keringat dan asap rokok menyiksa sekali rasanya ketika berada di dalamnya.

Gimana Rin, ini masuk ke kriteria nasionalis sejati menurut blog lo ga?? Heu heu………