He who has gone, so we but cherish his memory, abides with us, more potent, nay, more present than the living man. ~Antoine de Saint-Exupery

Kematian datangnya tidak diduga yah. Satu berita kematian datang, saat itu pula kita tersadar kita tidak akan bertemu dengannya lagi, mendengar tawanya lagi, makan bersama dengannya ataupun chatting bersamanya.

Belum setengah tahun berlalu sejak meninggalnya sepupu saya, kali ini berita duka mengenai om saya (adiknya Mama). Ah ya, sedih… Sedih sekali. Beliau meninggal setelah koma selama dua hari. Koma setelah terjatuh di kantornya. Satu jam sebelum jatuh, om masih chatting dengan saya di Yahoo Messenger…

Almarhum adalah salah satu orang yang paling rame di keluarga besar selain Mama saya. Canda yang sangat melekat misalnya:

  • Pit, HP-nya baru yah? Beli di mana, sebelah tukang daging bukan?
  • Pit, kok bisa sih masuk IPB? “Bayar”-nya berapa?

Ketika sedang kumpul keluarga besar, tak jarang om saya itu traktir duren untuk dimakan beramai-ramai. Atau asinan. Atau rujak. Ah ya, sungguh Om yang menyenangkan.

Om saya ini lumayan sering jalan keluar negeri (kerjanya di travel agent). Saya masih ingat waktu masih SD, sepulang sekolah saya langsung membuka lemari baju. Ada boneka kucing warna putih dengan ekor melingkar di depannya. Manis sekali. Mama melihat dan berbisik, “Itu oleh-oleh dari Mang Deddy”.

Pada saat pemakamannya minggu lalu, terlihat bahwa memang om saya ini orang yang disukai semasa hidupnya. Ratusan orang dalam puluhan mobil mengantarkan kepergiannya.

Goodbye my beloved uncle…
You’ll always in our heart….