Saya rasa anda wartawan bodrek,
Anda muncul di awal acara, merokok di luar ruangan selama pelaksanaan acara, dan datang lagi menjelang penutupan acara.

Saya curiga anda wartawan bodrek,
Bukannya memotret jalannya acara, anda hanya memotret suasana ketika ruangan sudah hampir sepi. Miris saya melihatnya, ternyata “kantor pers” anda hanya mempersenjatai anda dengan ponsel kamera keluaran lama yang tentu saja kualitas fotonya kurang baik.

Saya hampir yakin anda wartawan bodrek,
Anda meminta info dari saya, maka saya akan bantu sebisa saya. Namun, tolonglah tulis dengan benar judul acara diskusi yang kami selenggarakan ini. Anda tampak tidak serius menulis apa yang saya diktekan. Saya berkata “action plan”, Mas. Bukannnya “eksenplen”.

Saya yakin anda wartawan bodrek,
Anda ngotot berkata bahwa anda mencari info dari saya. Bukankah jalannya acara, naskah press release dan wawancara dengan narasumber kami sudah merupakan info buat anda? Ah ya, tentu saja. “Info” yang anda maksudkan adalah lembaran-lembaran yang tersimpan dalam amplop.

Saya tahu anda wartawan bodrek,
Anda gelagapan ketika saya bertanya nama surat kabar tempat anda bekerja. Alih-alih menunjukkan kartu pers anda, anda malah memperlihatkan sebentuk surat kabar lusuh yang tampaknya terbitan beberapa hari lalu.

Saya percaya anda wartawan bodrek,
karena itu saya tidak akan mencari-cari liputan mengenai acara ini pada surat kabar yang namanya anda sebutkan tadi. Ya, tidak akan. Karena memang anda wartawan bodrek alias wartawan tanpa surat kabar alias WTS.