Sepanjang hidup saya, ada beberapa pertanyaan yang belum bisa (atau tidak akan bisa) saya pahami. Di antaranya adalah:

kenapa orang-orang terdidik (bahkan dokter) masih juga merokok sedangkan mereka tahu apa bahayanya?,

Saya tidak paham konsep kecanduan. Karena saya tidak pernah mencandu apapun. Mungkin ini sebabnya, saya tidak pernah merasakan yang namanya kecanduan. Ada beberapa hal yang sangat saya sukai, makan bubur ayam Cianjur dan browsing internet. Tapi saya masih bisa menjalani hari-hari tanpa harus mengawali pagi dengan makan buryam. Saya masih bisa senang-senang tanpa browsing internet. Sampai kemudian, saya mencoba menerima satu pemahaman: bahwa mungkin sebenarnya saya kecanduan, hanya saja pada tahap ringan. Tapi bukankah kecanduan berarti tidak bisa hidup tenang tanpa candunya?

Kenapa orang bisa sedemikian lemah pada suatu benda? Kenapa ada orang-orang yang bisa sedemikian taat beragama? Kenapa seseorang bisa mengabaikan penggunaan logika? Kenapa ada orang yang bisa yakin mau jadi apa dalam hidupnya, sementara ada orang yang hidup sekedar berusaha untuk bisa bangun esok harinya?

Terlalu banyak pertanyaan membuat orang tua pada langkah pertama. Saya takut jadi kayak gitu. Tapi saya kan jenis orang yang penasaran. Species Homo penasaranus.

..

….

Suatu sore di pelataran Balairung Universitas Indonesia, saya bertemu dengan satu pertanyaan lagi. Satu pertanyaan yang membuat saya merasa semakin bodoh. Satu pertanyaan yang tidak bisa (dan enggan untuk) saya pahami:

kenapa perbedaan suku bisa menjadi sedemikian penting sehingga bisa mencegah bersatunya dua orang yang saling mencinta?