Heu heu…

Kasus 1.

Keluarga Tionghoa ini punya anak balita bernama Bryan. Suatu hari datanglah pembantu baru ke rumah. Si Nyonya sudah mengenalkan masing-masing anggota keluarga lengkap dengan pelafalan nama yang diharapkan. Apa daya, si Bibik canggung memanggil dengan pelafalan-nama-yang -diharapkan-itu. Sore hari, waktunya Tuan Bryan untuk mandi, menggemalah panggilan: Briyan..Briyan…mandi dulu!

Si Nyonya cuma mesem-mesem karena berharap si Bibik memanggil dengan pelafalan: Braiyen.

Kasus 2.

Tetangga saya, keluarga Sunda totok. Sunda pisan. Ibunya bernama Cicih, bapaknya bernama Asep. Punya anak bernama Angel. Pelafalan-nama-yang-diharapkan: Einjel. Setiap mau berangkat kerja, Teh Cicih akan melambai ke balitanya sambil berkata, “Daaah … Jejel!”

Aiihh…..Angel kok jadi Jejel?

Kasus 3.

Tetangga lain lagi, bernama Kevin. Pelafalan-nama-yang diharapkan tentu: Kevin. Teman-temannya (yang kebanyakan adalah generasi muda Sunda asli) kalau manggil di depan rumahnya dengan panggilan, “KEPIN, KEPIN … maen yuuuu!”

Kenapa orang Sunda banyak yang ngga bisa ngomong P? Analisis nonadita adalah karena orang Sunda terbiasa makan Peuyeum, bukannya Veuyeum atau Feuyeum.

Moral postingan ini: kasih nama anak pake nama-nama yang mudah diucapkan sama orang setempat aja!