Pembaca Setia: Jiyaaah… gaya banget neh sekarang posting tentang Pilkada. Akhirnya bikin postingan serius juga dia!

Nonadita: Belum tau aja dia apa yang eyke bahas di sini (dalam hati seraya cengengesan)

*bingung mau mulai darimana sebab jarang bikin postingan serius*

Jadi.. hari ini pagi-pagi ortu (dalam keadaan sudah mandi pagi dan berpakaian rapi) mengajak saya ke TPS untuk mencoblos. Sebenarnya saya enggan, karena tidak mengenal (dan tidak mencoba mengenal juga sih) ketiga pasang calon pemimpin Jawa Barat itu. Tapi lalu saya ingat pesan Gage semalam, kalaupun tidak ada calon yang berkenan di hati, coblos saja semuanya. Setidaknya kertas suara yang tidak sah mengurangi resiko kertas suara kosong dicoblos oleh oknum. Ah begitukah?

 

Belakangan saya tahu bahwa dua dari ketiga calon gubernur tidak memiliki KTP Jawa Barat alias masih tercatat sebagai warga DKI Jakarta. Saya kok merasa janggal ya? Dulu isu yang ramai dihembuskan adalah sebaiknya memilih putra daerah sebagai pemimpin daerah. Putra daerah itu pun agak blur definisinya, apakah orang yang berasal dari suku dominan di daerah tersebut, ataukah orang yang pernah tinggal minimal berapa lama gitu ataukah cukup punya status domisili di daerah tersebut. Ngga punya KTP ini nih .. masa kalah sama mahasiswa (yang ngekost doang) namun diwajibkan punya KTP lokal.

 

Saya tidak punya cukup informasi mengenai prestasi dan program-program apa saja yang dijual oleh masing-masing calon. Sebagai orang yang terbiasa mendapatkan berbagai info dari internet, saya ngga segitunya menyengaja datang ke situs mereka untuk mencari tahu tentang si calon. Toh itu situs juga dibuat oleh tim kampanye bukan? Pastilah isinya indah-indah semua. Kalau saja saya sudah sering membaca berita mengenai prestasi mereka yang dibuat oleh orang lain (dan sebelum masa kampanye), mungkin saya tidak sebingung ini. Jadi, satu-satunya media informasi yang menumbuhkan keterdedahan saya tentang Pilkada ini yaa banner-banner, spanduk dan selebaran yang saya baca sepanjang perjalanan. Sayangnya, ketiga media informasi ini tidak memberikan informasi yang cukup. Kebanyakan cuma berisi slogan kampanye, coblos saja nomor anu dan foto calon dalam pose senyum (memangnya mau jadi coverboy?). Selebaran kampanye calon Ketua OSIS saja lebih informatif ketimbang itu.

 

Satu catatan lagi, saya kaget juga bahwa masih ada calon yang berani bilang: Bila program-program ini tidak tercapai pada tahun kesekian, saya siap mundur. Saya bingung, ini maksudnya bahwa dia tidak serius mengejar jabatan tersebut ataukah hanya sekedar strategi anti-marketing (seperti yang Temon pernah jelaskan, tapi saya lupa apaan artinya)? [Temon: dasar otak geser!]

 

Moral postingan ini: Jadilah pemimpin yang ketika dianggap gagal, malah siap bekerja lebih keras lagi (bukannya mundur).

** UPDATE: ada gosip seputar Pilkada Jawa Barat, mau tau?