Keresahan Seorang Pekerja
Sebuah email berjudul “Sudahkah anda berada di tempat yang tepat?” membangunkan suatu perasaan di hati saya. Memunculkan (lagi) pertanyaan di benak saya, yang (lagi-lagi) dibayang-bayangi ketidakpuasan seputar pekerjaan yang kini dijalani.
***
Ketika kuliah, pernahkah anda membayangkan akan bekerja sebagai apa? Akankah bekerja di bidang yang dipelajari selama kuliah? Lalu ketika sudah bekerja, masih adakah idealisme yang dulu tumbuh semasa kuliah?
Seorang teman menjawab, “saya kan oportunis!” ketika kami mendiskusikan soal ini. “Ada peluang untuk hidup lebih baik, ya ambil saja”, begitulah kira-kira katanya. Seakan mengamini pilihan teman-teman kami yang membelokkan kemudi hidupnya, berbeda dengan bidang yang selama ini digelutinya. Termasuk mereka yang bekerja di tempat yang dulu sempat “dimusuhinya”.
Ada mantan mahasiswa anti rokok yang kini menjadi karyawan di perusahaan rokok, mantan calon dosen yang kini meniti karir menjadi bankir, juga mantan aktivis BEM yang malah bekerja di perusahaan yang dulu ditentangnya habis-habisan.
Tak perlulah muncul pertanyaan, “ke mana idealisme yang dulu dibangun bersama?”, karena jawabannya sudah jelas meski kadang terdengar sebagai pembenaran. Apa salahnya bekerja di perusahaan rokok yang menghidupi ribuan petani tembakau? Apa jadinya petani tanpa bank yang akan memberikan kredit mikro? Orang bisa berubah, termasuk juga semua perusahaan dan institusi yang kita kenal.
Kenyataannya, kita masuk kampus sebagai individu pun ketika kita lulus darinya juga sebagai individu. Individu yang bertanggung jawab atas pilihannya. Sehari setelah wisuda, sarjana segera menghadapi kenyataan bahwa dunia kerja tak selalu semulus bayangannya. Berbagai kompromi (harus) terjadi. Pekerjaan itu ‘kan adalah hasil senggol-senggolan antara minat pribadi, peluang dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Bila idealisme perlahan terkikis, bukan semata-mata karena keadaan tapi konsekuensi sebuah pilihan. Diakui atau tidak, pada akhirnya semua pekerjaan berpulang pada pilihan yang kita ambil. Di mana kita sekarang dan akan menjadi apa kita nantinya, tergantung pada pilihan yang dibuat pada detik ini.
Idealnya adalah memang bekerja untuk tujuan yang baik, di tempat yang baik dan menjalankan proses kerja yang baik pula. Di mana pun itu, menjadi apapun itu. Sayangnya, tidak semua bisa mendapatkan kesempatan demikian. Termasuk saya, yang masih mencari peluang ke arah sana. Semata menjaga sebuah idealisme, namun tak bisa berkompromi dengan hasil yang ala kadarnya.
Moral postingan ini: Tak semua orang berkesempatan bekerja sesuai keinginannya, selalu saja ada penyesuaian di berbagai sisi. Syukurilah kesempatan yang ada, namun buka mata untuk kesempatan yang datang. Sebelum lupa, tentukan dulu tujuan hidup kita.


wah….saya masih lom dapat kerja neg mbak
realitas dunia memang seperti itu, alangkah eloknya bila kita punya kemampuan yang cukup sehingga mempunyai kekuatan untuk menempuh idealisme sembari mencari uang
Hmm.. paling enak kalau bisa bekerja sesuai dengan keinginan dan mendapatkan reward melampaui harapan. Kalau pun kondisi tidak memungkinkan jangan sampai cita-cita lepas dari genggaman, genggam terus wujudkan kelak di saat yang tepat, pada waktunya.
Hidup itu Dit, kalau dipikir-pikir sama seperti dirigen sebuah orchestra, harus bisa mengharmoniskan semua instrumen agar enak bunyinya pada waktunya. Kapan waktunya kita mainkan instrumen pragmatis? Kapan waktunya yang tepat kita mainkan idealisme kita?
Saya cuma berpegangan pada pepatah,..
Nggak ada sekolah buat Presiden, Nggak ada sekolah buat jadi Sutradara Film hebat, Nggak ada sekolah buat jadi bankir hebat…
Semuanya hanya basic foundation, apapun pendidikannya. Selebihnya tergantung nasib baik dan kerja keras.
uwah, gitu ya kalo nanti udah kerja.. haduh, realita kadang suka engga sama dengan yang kita impikan.. tapi setuju tuh sama Yoga, kata2nya bagus hehe
sebetulnya nanti yang nentuin ya kita2 juga kan,
kata spiderman : We always have a choice
Excellent post! Memang indah hidup dalam dunia idealis dan menjadi sakit ketika diharuskan menjadi realistis. Tapi bersikap realistis bukan berarti sikap yang pasrah. Mungkin hidup tidak sesuai dengan idealistisnya kita dan realistis seperti menjadi pilihan yang terbaik. Tapi bersikap seperti itu bukan berarti menyerah.
Saya setuju, dengan kamu. Mensyukuri ya, tapi jangan berhenti untuk menjadi lebih baik lagi. Pilihan di tangan kita dan dengan tangan kita pula kita harus mampu mengatasi resiko-resikonya.
Untunglah ada blog, karena setidaknya kita bisa menjadi seorang idealis di hidup yang serba realistis he..he..he..
Salam kenal ya Dit, a very nice blog you have here
yah itulah hidup .. itu cmn salah satu contoh kasus aja kli ..

…
.. tapi allah know the best 4 us
enjoy the proses aja
gw mah ikut kata kang kabayan aje deh
“seblum kaya mending kita mimpi dulu jadi kaya..” heheh,, bukan mksd males or something like..
but 4 me .. “life are paths of chasing my dream”
tanpa mimpi apa arti nya hidup
tanpa harapan dan tujuan apa arti nya hidup .. so menurut gw.. punya idialisme itu bagus
@ ryu: bener banget heheh! masih inget ya?
realistis memang bukan berarti pasrah, saya cenderung untuk mengartikannya sebagai adaptasi (tentu dengan tidak serta merta melepas mimpi). Tapi ada kalanya, bahkan di blogosphere pun kita harus kehilangan idealisme kita. Semua bisa terjadi.
@ angga: betul, semoga setelah lulus tidak berganti dengan keresahan mencari kerja yah
@ mutia: menjadi yang terbaik atau berusaha memberikan yang terbaik nih?
@ okta sihotang: nanti cerita yah kalau kamu udah dapet kerjaan. heheh!
@ henny p: hohohow.. elok sekali itu sih. Sukses sekaligus happy
@ yoga: intinya fleksibel yah, mas? beradaptasi dengan keadaan yang ada
@ iman brotoseno: bener, mas iman. nasib baik dan kerja keras itu yang langka, dan tidak semua orang punya. Memang masih bisa diusahakan sih..
@ ghea doang: realita kadang berbeda 180 derajat dengan impian kita lho. tapi kadang di ketidaksamaannya itu kita menemukan hikmah
@ adit; terimakasih mas
@ just “z”: saya juga pernah mendengar nasihat, bermimpilah ketika kita sedang terjaga, bukannya ketika tidur. Karena kalau sedang terjaga, maka mimpi itu akan berbuntut dengan rencana/usaha untuk mencapainya. Kalau nggak salah sih gitu
Setelah Membaca ..
Saya Jadi Ingin Terus Kuliah Aja …
ini email yang ada gambar orang di dalem mesin ATM dsb dst itu bukan sih? hhe.. yah semoga kita semua dapet kerjaan yang terbaik menurut Allah.. =)
Setiap orang selalu berkembang dan berubah…
dari awal, saya masuk jurusan kuliah ini udah kejebak… lalu tetap dijalani… bahkan tempat saya bekerja sekarang pun, sebenarnya adalah tempat yg dari dulu paling dihindari… dari dulu saya emang selalu realistis aja… ga mau terlalu idealis… dan saya bersyukur… saya senang… (ga biasa pake saya, jd berasa aneh… hehe…)
Akh, aku sih ga pernah kepikiran gitu sih dan ga pernah muncul pertanyaan gitu di benak….. karna do wat u like and dont do what u dont do what u dont like….
salam kenal non…
kerja sesuai bidang saat kuliah (komputer) ? aku dapatkan.
imbalan yang sesuai ? ya…lumayanlah, itu relatif, walau masih banyak tanggungan hutang dan belum bebas secara finansial.
puas ? nggak juga tuh. karena aku merasa kuliah dan pekerjaanku sekarang hanya sebatas untuk survive sebagai manusia hidup. kuliah di bidang yang masih banyak dibutuhkan, dan alhamdulillah akhirnya cepat dapat kerja yang lumayan (relatif lagi). tapi, sesungguhnya ujung dari keinginanku adalah bisa punya bengkel sendiri dan mencintai otomotif dengan sepenuh hati. Nah, kuliah dan kerjaan yang sekarang adalah bridge menuju ke sana (asal jangan kejebak terus di tengah jembatan ya, hehe ). ngumpulkan modal, kalo bisa (harus dong).
nah, sekarang waktunya kita berdoa bareng2, biar bisa dapat kebahagiaan dan keinginan masing2, yang kadang2 di tengah jalan mengalami ralat.
kata orang bijak:
“cintailah pekerjaanmu, bukan perusahaanmu. Karena kamu tidak akan pernah tahu kapan perusahaan berhenti mencintaimu…”
pekerjaan..
another phase of life challenge
MAJU TAK GENTAR, MEMBELA YANG BAYAR ….
Tulisannya bagus, saya forward ke milis ya.
uang…lagi lagi uang…
Ucapan Arai dalam Sang pemimpi lebih memompa semangatku untuk bekerja dengan sungguh-sungguh
”Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!”
Aku tersentak dan terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai berdesingan dalam telingaku, membakar hatiku.
”Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…..”
Aku merasa beku, serasa disiram seember air es.
”Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi disini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!”
Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. PESIMISTIS TAK LEBIH DARI SIKAP TAKABUR MENDAHULUI NASIB.
”Kita lakukan yang terbaik di sini!!”
bekerja tak perlu ngeluh karena bekerja itu sehat dan ibadah
keresahan seoran pekerja…
guwe banget
Oala mbak2, sudah punya kerjaan saja masih resah, apalagi yang belum punya kerja.
yup.. yup..
hiks… yang masih pengangguran jadi tambah minder baca ini
Memang bicara tentang idealisme dalam kenyataan hidup sehari-hari agak sulit, apalagi dihadapkan pada pilihan dalam kaitannya dengan perut.
Saya setuju dengan pernyataan “Bila idealisme perlahan terkikis, bukan semata-mata karena keadaan tapi konsekuensi sebuah pilihan. Diakui atau tidak, pada akhirnya semua pekerjaan berpulang pada pilihan yang kita ambil. Di mana kita sekarang dan akan menjadi apa kita nantinya, tergantung pada pilihan yang dibuat pada detik ini.” dan juga paling tidak kita punya gambaran-gambaran konsekuensi yang kita ambil saat ini. spertinya memang kita masihperlu belajar banyak
iya pak Joko, memang harus belajar terus menerus hehe
wah! rame banget blognya. blog say juga kan seperti ini! akan dan harus bisa! ya kak? walau masih sma. sy punya potensi. siapapun anda, anda punya potensi. blog adalah potensi luar biasa untuk membangun bangsa kit. btw, kita sama-sama ank pramuka nih kak! wah, kita hebat. pramuka bangga memiliki kita.
Belajar di dunia kerja memang perlu juga
no money nodong
Wah, cara bikin blog bisa banyak komentarnya gimana yak. Apa harus berubah jadi cewek hihii….