Kemapanan dan Chemistry Itu

Dia adalah salah seorang kawan dekat saya. Senang berbagi cerita juga ungkapkan cita-citanya. Mendapat suami kaya adalah salah satunya. Cita-cita yang seringkali terucap di tengah canda, terkadang di tengah sesi curhat bebas. “Ya, gw pengen dapet laki kaya. Biar gw nggak cape kerja”, begitu katanya. Kadang saya bertanya-tanya, seriuskah dia dengan ucapannya?

Sampai suatu ketika dia pulang, ternyata jalan menuju cita-citanya tersebut jadi lumayan terang. Dia dijodohkan. Bukan dengan sembarang pemuda, tapi dengan anak pejabat di daerahnya. Kaya, berkarir bagus dan sudah lulus pascasarjana pula. Ah, betapa nasib baik berpihak untuknya bukan?

Tapi sambil tertawa-tawa dia bercerita, “gw kabur, Dit. Gw nggak pulang ke rumah. Ogah gw dijodohin”. Lho lho lho.. ketika kesempatan baik sudah sedemikian dekat padanya, kenapa dia berpaling muka?

Sungguh, bahkan hingga hari ini saya pun belum menemukan jawabannya.

Kasusnya ini mengingatkan saya pada salah satu pernyataan dalam buku Female Brain karya Louann Brizendine. Katanya, dalam setiap kebudayaan, perempuan tidak begitu mempersoalkan daya tarik visual seorang calon suami dan lebih tertarik pada kekayaan materi serta status sosialnya. Konon preferensi ini didasarkan pada naluri dasar seorang perempuan yang membutuhkan perlindungan serta mempermudah akses terhadap pangan, papan dan sumberdaya lainnya. Naluri ini diwariskan oleh nenek moyang manusia, terekam dalam struktur sirkuit otak perempuan.

Dalam beberapa hal, saya akui pendapat Brizendine ada benarnya. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa di dalam banyak kebudayaan, lelaki memegang peran sebagai penyuplai utama kebutuhan keluarganya. “Naluri dasar” yang katanya alamiah itu semakin lestari saja di masyarakat. Namun tentu ini tak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa perempuan sudah matre dari sononya.

Jadi, lagunya Neo yang berjudul Cewek Matre itu benar dong?
Ah, saya belum bilang begitu lho.. Tapi kayaknya teman saya bisa jadi salah satu bukti hidup yang mendukung pernyataan ini. :mrgreen:

Bila hal ini saya diskusikan dengan teman saya itu, dia pasti dengan semangat bilang: memang gitu kok! Pernyataan tegas yang memunculkan pertanyaan lain, lalu di mana tempatnya cinta dan proses naksir-naksiran itu ada?

Dia lalu merujuk pada pendapat lama yang sempat diyakini oleh para pendahulu kita. Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta ada karena biasa bertemu. Perjodohan dianggap sebagai upaya untuk menyatukan dua manusia dalam suatu ikatan yang resmi. Perasaan suka dan sayang bisa muncul setelah itu. Asal kedua pihak menjalankan peran sesuai dengan yang seharusnya, maka semua akan baik-baik saja. Kemapanan sang calon suami menjadi nilai tambah yang dianggap sebagai penjamin kehidupan si perempuan di masa depan. Mapan duluan, cinta belakangan.

Lalu mana yang lebih dulu, mapan atau cinta dulu?
Asli deh, nggak tahu. Makanya saya menulis postingan ini untuk kita diskusikan bersama.

Skema yang dibayangkan teman saya, cari masa depan aman dulu dan cinta bisa muncul belakangan, bisa jadi benar. Nyatanya, saya melihat beberapa pasangan hasil perjodohan yang bisa langgeng dan bahagia sampai masa tuanya. Tapi gagasan bahwa hubungan harus diawali dengan cinta dulu dan kemapanan bisa dibangun belakangan juga menghampiri pikiran saya dengan hebatnya.

Ada sintesa tentang ini?
Ah, haruskah? Saya percaya, bila sesuatu diawali dengan niat yang baik dan melalui proses yang baik, maka hasilnya akan baik juga. Karena itu, mungkin tidak terlalu penting ngotot-ngototan mana yang lebih penting/dulu: kemapanan atau cinta. Untuk kasus teman saya, walaupun kebutuhan yaitu kemapanan pasangan pada akhirnya terwujud, mungkin jauh di lubuk hatinya dia masih mendambakan munculnya chemistry alias perasaan naksir-naksiran itu. Mungkin lhoo, makanya dia kabur :mrgreen:

Cinta yang diwujudkan dengan bentuk perhatian, dan dukungan/motivasi pastinya akan membantu pasangan kita mencapai titik terbaiknya. Bisa mengeluarkan potensi yang ada dalam dirinya, mungkin bisa mendorong untuk berkarya dengan baik (dan kemudian jadi orang kaya tentu saja). Idealnya begitu ‘kan?

Pertanyaan postingan ini: ada komentar atau ingin berbagi pengalaman? Silakan lho ..

69 Responses to “Kemapanan dan Chemistry Itu”

  1. EdoNo Gravatar says:

    Klo pas milih kaya, trus abis married 5 taun bangkrut… Apa mau ditinggalin tuh suaminya?
    hmmm…hmmm….

  2. vivikecilNo Gravatar says:

    Hmmm,,, mungkin kaya scara hati juga sgt di perlukan kali ye … walo harta jg perlu …. smua butuh halah … :-D

  3. KakaNo Gravatar says:

    hm enak .. kalo barengan teruss!
    http://www.asephd.co.cc

  4. lalaNo Gravatar says:

    sumpah.. chemistry dulu..!!!

    di mulut mah bisa ngomong apah ajah.. (works in every case)

  5. goenoengNo Gravatar says:

    [nonadita said : @ goenoeng: woh ada dua aliran gitu ya? kalo Mas ini pengikut aliran mana, chemistry kah?]
    sebenarnya sih, oportunis….tapi malah kejebak yang ‘romantis’ :D

  6. cKNo Gravatar says:

    konon setelah menikah, lelaki akan termotivasi untuk meraih kemapanan tersebut. tapi memang sebagai wanita tentunya berharap seorang pria yang mapan. mapan bukan berarti gaji besar atau tajir mampus, melainkan mampu menghidupi sebuah keluarga… :D

  7. naviNo Gravatar says:

    saya kok lebih setubuh….eh setuju…witing tresno jalaran soko nglibet…:p~

  8. nonaditaNo Gravatar says:

    @ rossik: harta bersama yang dicari berdua, sip.. seru banget tuh keknya
    @ anggi: iya, mapan lho, bukan tajir. Kalo nyarinya yang tajir mah repot juga hihi! Memang benar bahwa yang penting
    harus ada rasa nyaman,… nyaman untuk pacaran dan untuk bekerja
    @ azkaa: mari berdoa dan berusaha :wink:
    @ edo: wakakak! nggak segitunya kali, tapi nanti saya tanyakan
    @ vivikecil: hoo kaya secara hati. Setuju :D
    @ Kaka: sip!
    @ lala: chemistry juga kadang bisa menipu lho. Tertipu oleh perasaan sendiri. Halah!
    @ goenoeng: ah ya nggak masalah mau ikut dua aliran bersamaan juga kok, Mas!
    @ cK: Hoo… betul itu. Pemahaman kalimat “rejeki akan mengikuti dengan sendirinya” yang paling bener ya itu. Karena keduanya akan termotivasi untuk kerja lebih keras dan memelihara rejeki yang didapat
    @ navi: saya ndak ngarti basa jawa :mrgreen:

  9. [H]No Gravatar says:

    haloo para wanita,,,ada yg mw sama sayah?!?! saya kaya lhoooo!!

    kaya Leonardo Di Caprio,,,nyehiehie!! :mrgreen:

  10. pemalasNo Gravatar says:

    pilih saja salah satu, cinta or kemapanan. mau idealis or realistis, pilih yg paling bisa mendatangkan kebahagian menurut ukuran masing2. ribet yak.
    kalo dapat dua2nya, itu namanya rejeki.

  11. mpokbNo Gravatar says:

    konon naluri purba emang gitu non.. saya pernah nonton di film dokumenter, wanita zaman purba cenderung memilih pria yg paling mahir berburu (mencari makan buat keluarga). dan pria cenderung memilih wanita yg berbodi sedemikian rupa sehingga bisa memberikan keturunan sebanyak2nya :D banyak sekali naksir2an yg muncul dari standar itu..

  12. tukangimpi!No Gravatar says:

    jadi harus kaya dulu nih….siappp!
    tunggu 4 tahun lagi yah….
    (untuk perempuan yg calon suaminya kudu mapan dulu)

  13. iqbalNo Gravatar says:

    bokap gw bilang ke kk’ gw (cewe): cari cowo baik itu susah, jd yg nomor satu dia baik…
    bokap gw ngomong ke gw: bang, klo abg sukses, kaya, mau cewe yg mana juga bs ayah atur…

    bingung aing

  14. ikhsanNo Gravatar says:

    setuju dengan iqbal..

  15. RestiaNo Gravatar says:

    Kalau mnurutku, cewe yang ‘pinter’ biasanya akan lihat background dan kepribadian si cowo dahulu, jika sesuai dengan kriteria yaitu sebagai cowo yang mapan dan sudah siap nikah, trus rasa cinta itu biasanya akan lebih mudah timbul karena si cewe tidak akan merasa ilfeel atau under-estimate kepada si cowo, itu menurut aku lo…
    Karena walau bagaimana pun, ga ada seorang pun yang ingin menderita, nelangsa setelah menikah, tul ga ? Pasti ingin happy kan, dan materi untuk saat ini adalah salah satu parameternya, apakan setelah menikah akan dipusingkan dengan urusan materi atau telah dimudahkan karena si calon telah ‘berkecukupan’ dalam hal materi.
    Begitu Mba Nonadita… ;)
    Salam kenal…

  16. Bagus TampanNo Gravatar says:

    Kebetulan Gw dapet Cwe
    Model2 kya gini !
    Apes Gw !

    Salam Semuanya !

  17. winartooNo Gravatar says:

    kalo dijodohin terus ada rasa CLICK di dada keduanya sih , lanjut aja.
    Tapi kalo dijodohin cuman ngejar kemapanan tanpa lewat proses naksir-naksiran… takutnya
    dibelakangnya SELINGKUH-kan bisa aja.

    takutnya rasa pengen naksir-naksiran sudah jadi ibu RT gimana yaa..?

    “”…… mendambakan munculnya chemistry alias perasaan naksir-naksiran itu “”

  18. wah, ngga seru kalo ngga pake pacaran dulu. masa ketemu, married langsung ohok2, dah kaya jajan diluar aja wkwkwkwk…

  19. kruzzNo Gravatar says:

    semoga masi ada yg baca suatu hari, yg penting kita percayain semuanya pd yg diatas, jodoh ada yg ngatur , soal mapan(materi) gak ada alat ukurna dan gak ada puasna kita sebagai manusia, yg ptg dah bisa buat makan berdua ya cukup, sisanya akan ditambah kalo dah berkeluarga kata yg diatas dalam al quran.. gitchu deh

Leave a Reply