17 November 2008
Live Music di Perjalanan
Posted by nonadita under: indonesia .
Ujung gitar kecil (ukulele?) itu menyentuh lutut saya setelah diedarkan ke seluruh penumpang yang ada di angkot pada saat itu. Saya pun mengangkat tangan sebagai tanda tidak memberi uang padanya. Namun ujung gitar dengan gelas Aqua terikat padanya itu belum juga beranjak. Setelah saya mengangkat tangan untuk kedua kalinya, barulah pengamen itu pergi. Entah pasrah atau marah.
Segera saja, dia menyeberang jalan. Naik ke angkot yang menuju arah tempat saya datang. Maka lagunya pun akan didendangkan lagi, setelah dia mengucapkan prolog standar yang minim inovasi. Penumpang yang seangkot dengan saya sepertinya sudah lupa kepadanya. Tidak ada yang tampak memperhatikan saat dia menyanyi, apalagi ketika dia pergi. Saya pun kembali bernyanyi dalam hati mengikuti lagu dari pemutar musik saya yang setia menemani.
Pengamen itu hanya seorang dari banyak sekali pengamen yang tersebar di jalanan Bogor. Sebagian besar masih berusia muda, semuda anak usia TK hingga yang sudah beranjak remaja. Namun memang, debu jalanan telah menuakan mereka hingga beberapa tahun ketimbang sebenarnya. Mereka datang, bernyanyi, lalu pergi, tanpa meninggalkan kesan yang berarti.
Pengamen di Bogor sudah terlalu banyak. Dalam satu rute perjalanan angkot 03 (Bubulak-Baranangsiang), penumpang bisa bertemu pengamen cilik di enam titik. Perempatan jalan hingga jalan utama kota, disanalah mereka ada. Jarang sekali saya bertemu dengan pengamen yang unik. Penampilannya pun hanya sedikit yang menarik.
Bila bertemu dengan pengamen yang nyanyiannya bagus, kepadanyalah receh saya berpindah tangan. Tapi bila bertemu dengan pengamen yang bermodal seadanya misalnya tepuk tangan yang tidak bernada, mendengarnya pun saya kurang suka. Ah, apa saya yang berharap terlalu banyak? Padahal mereka ‘kan pengamen jalanan, bukannya vokalis band di pensi SMA.
Mungkin tidak banyak penumpang yang berpikiran sama dengan saya. Seorang teman seringkali memberikan uang justru kepada mereka yang mengibakan hatinya. Pengamen yang bernyanyi tanpa alat, atau mereka yang sudah serak suaranya. Pengamen yang raut mukanya lebih menunjukkan permintaan belas kasihan tanpa semangat menghibur orang. Beda-beda tipis dengan pengemis.
Di lain waktu, saya memberikan receh saya kepada mereka yang membuat saya bernostalgia. Ada kalanya lagu-lagu bisa membangkitkan kenangan tertentu. Saya yang merasa beruntung bisa mendengar lagu semacam itu di perjalanan, tanpa pedulikan suaranya, bisa senang-senang saja mendengarnya.
Ada juga pengamen yang sukanya menekan. Prolognya seringkali diwarnai dengan kalimat bernada ancaman. Awalnya minta uang untuk makan, namun ujung-ujungnya bilang karena nggak mau sampe malak orang. Pengamen yang penuh intimidasi seperti ini, nggak jauh beda dengan preman.
Itulah sekian alasan yang melatarbelakangi pemberian sumbangan (atau keterpaksaan?) kepada pengamen. Saya menyadari, saya tak punya sikap tegas mengenai hal ini. Sikap saya masih terjebak pada dua pendapat yang berperang sama kuatnya di daerah pengambilan keputusan di benak. Pemberian receh ini diharapkan bisa membantu mereka melewati hari itu, pada kasus tertentu bisa melindungi kita dari intimidasi. Tapi ini hanya solusi jangka pendek, besoknya mereka masih tetap memenuhi jalanan, berharap plastik-plastik mereka dipenuhi uang dengan cara yang relatif instan.
Kenapa mereka ada di sana? Ke manakah orangtunya? Mengapa mereka malah ada di perempatan, bukannya belajar Biologi di sekolahan? Padahal beberapa spanduk bercap Pemda yang saya baca menyatakan sekolah di Bogor bebas biaya. Pikiran naif yang mengesampingkan kenyataan bahwa biaya tetek bengek sekolah (sumbangan ekskul, darmawisata, seragam dan sepatu hitam) bisa puluhan kali lebih mahal ketimbang SPP itu sendiri.
Sementara saya berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan, mereka masih mengulang-ulang lagu Ungu dan Peterpan. Padahal hari terus berganti, esok hari pun mungkin saya sudah tak lagi peduli.
43 Comments so far...
zam
Says:
17 November 2008 at 10:44 pm.
lebih suka mendengarkan pengamen di bus Jakarta (UKI) - Bogor.. lebih beradab.. dan bagus nyanyiannya!
Anang
Says:
17 November 2008 at 11:34 pm.
beda pengamen dan penyanyi tipis banget…. hanya nasib yang membedakan.. penyanyi bisa mendapat puluhan juta dalam sekejap.. tapi pengamen hanya mendapatkan kepengan duit logam saja….. seandanya semua jadi penyanyi gitu yak apa ya
Nazieb
Says:
18 November 2008 at 12:09 am.
Itulah bedanya pengamen di Indonesia dan di luar negeri…
Dari cerita seorang teman yang pernah ke luar negeri, di sana pengamennya lebih banyak “menunggu bola” alias melakukan aksinya di satu titik saja.. Jadi justru pejalan kaki yang mendatanginya karena aksinya memang benar-benar menggunakan skill, bukannya tampang memelas..
Fenty
Says:
18 November 2008 at 12:35 am.
Sekarang udah jaman lagunya d Masiv sama Changcuters … hahahahaha *komen norak*
r1d0aja
Says:
18 November 2008 at 12:35 am.
Entah kenapa, setiap saya pulang ke solo, pengamen di kereta ‘ekonomi’ sudah tidak ada lagi, sedikit nyaman, tapi kadang saya juga rindu kehadiran mereka yg bernyanyi dengan hati…^^
omoshiroi_
Says:
18 November 2008 at 1:20 am.
kalo saya lebih sering memberi uang kepada pengamen yang beruntung..beruntung karena saya lagi ada recehan..
meong
Says:
18 November 2008 at 1:38 am.
dit, jd inget nih. di suatu ruas jalan jogja, ada spanduk yg menghimbau utk tdk memberi sedekah ke peminta2 dan sejenisnya, krn akan menyuburkan praktek pengemisan. lbh baik sdekah disumbangkan utk pemberdayaan masyarakat.
eh, kata temenku, pengamen di bandung ganteng2. apa iya ???
cm4nk
Says:
18 November 2008 at 9:33 am.
Ahh pengamen..ingatan saya balik lagi ke perjalanan pertama kali naik kereta dalam kota Stasiun Kota - Kalibata… gerbong kereta jadi panggung orkestra buat mereka (yup anggotanya banyak,dengan alat2 yg lengkap,biola,violin,sampe bas betot yg gede ntu ) ..
=-=-=
http://cm4nk.multiply.com/journal/item/2/Orkestra_Jalanan…
Mutia
Says:
18 November 2008 at 9:46 am.
iyya, bener tuh, pengamen di bogor sudah terlalu banyak. Dan sayang nya sampai saat ini belum bertemu pengamen yang berkesan di angkot2 bogor.
nonadita
Says:
18 November 2008 at 10:00 am.
@ zam: hoo.. kadang2 ada juga lho yang nggak OK. Mungkin karena udah nyanyi selama beberapa rit dalam sehari
@ Anang: banyak juga lhoo penyanyi yang mengawali karirnya dengan diupahi kepingan uang logam
@ Nazieb: iya, saya suka lihat yang kek gitu di film-film. Masalahnya, tampang memelas itu lebih mudah diusahakan ketimbang skill
@ Fenty: tapi di KRL Jabotabek ada yang konsisten nyanyi lagu barat lho
@ r1d0aja: hiya.. kadang2 kalo nggak ketemu pengamen, rasanya perjalanan kurang lengkap
@ omoshiroi_: sama dong! *TOSS!*
@ meong: hiya, Mbak. Sudah banyak lembaga pemberdayaan masyarakat, baiknya kita mengembangkannya bersama2. Woh ada yang ganteng kah? Kurang tau juga
@m mantan kyai: hiya, biar variasi gitu
@ cm4nk: saya juga sering liat ituu!! Emang keren, bisa diundang ngisi acara hajatan juga
@ mutia: kalo ketemu yang berkesan, cerita2 lho Mut
sitampandarimipaselatan
Says:
18 November 2008 at 10:05 am.
bukan ukulele, mbak. kalo di sini, saya sama anak2 nyebutnya ‘kencrung’ ![]()
Yudha Ginanjar
Says:
18 November 2008 at 10:07 am.
Pengamen *yang berkualitas* sudah pasti ngamennya di antara warung - warung Makan ![]()
klo yg di jalan sih yang gak lolos audisi utuk ngisi acara di warung2 itu :d
nico
Says:
18 November 2008 at 11:45 am.
yah, nyari mudahnya dit dgn ngamen. apalagi yng cuman modal krecekan doang. kita gag terbiasa dididik untuk berproses dalam jangka waktu lama…
didut
Says:
18 November 2008 at 12:01 pm.
kalo ada receh saya kasih kecuali terlalu sering - kalo gak ada receh mosok mo dipaksa ![]()
mitchee
Says:
18 November 2008 at 12:36 pm.
iya… gw juga suka kepikiran gitu… padahal kan kalo mau ngasih harus ikhlas ya… jadi suka bingung sendiri…
tapi biasanya kalo yg anak2 kecil gitu, gw nggak kasih… dengan harapan biar mereka nggak disuruh ngamen lagi… kan nggak menguntungkan…
ade
Says:
18 November 2008 at 1:59 pm.
*bahas pengamennya aja*
walau terkadang mengganggu
tapi adakalanya malah menyenangkan
aGoonG
Says:
18 November 2008 at 2:37 pm.
Pengamen memang kadang menjengkelkan
Apalagi yang suka maksa-maksa
Pernah kejadian ada pengamen, tapi pas pula gak ada receh
Udah ngulang lagu dua kali gak pergi-pergi
Akhirnya dikasih rokok sebatang baru mau pergi
silly
Says:
18 November 2008 at 4:10 pm.
Dit,
Aku pernah loh, nyuruh anak kecil nyanyi terus sampe turun dari bis, karena suaranya bagus banget. Aku bilang, “mbak janji ngasih kamu duit yang banyak, asal kamu nyanyi lagu yang mbak minta”
Usianya sekitar 10 thn, perempuan, dan suaranya seperti malaikat. Sayang mungkin dia gak punya keluarga yang bisa ngikutin dia ke acara Idola Cilik. Kalo ada aku yakin dia pasti juara.
Dan sianak dengan sukses menyanyi sampe aku turun ditempat tujuanku. Sukses juga bikin uang bulananku Rp 50.000 pindah ke genggamannya (padahal dulu tuh uang saku saya sebulan cuma Rp 250.000, termasuk makan dan uang kost Rp 40.000 hahaha (di depok, apa2 murah sih, kalo bokek tinggal ngutang ama bu warung… jadi saya gak merasa keberatan ketika harus menghargai usahanya menyanyikan nyaris semua lagu yang saya minta. Bener2 talented. saya gak tahu anak ini skarang dimana, mungkin skarang udah gede, spantaran kamu kaliii, dan mungkin sudah bekerja sebagai penyanyi club malam… ahhh, semoga saja tidak… )
Tapi to be honest, suaranya beninggggggggggggggg banget!!!
*kalo gue inget2, suaranya mirip banget beningnya ama suara gue, hahaha*
chocoluv
Says:
18 November 2008 at 7:30 pm.
aah. eksploitasi anak. sebel banget. ini udah sering banget dibahas di kuliah2ku.
dan selalu berakhir pada satu kesimpulan: lingkaran setan
![]()
nonadita
Says:
18 November 2008 at 8:29 pm.
@ sitampandarimipaselatan: hoo… terbetulkan kalo begitu
thank you, saya baru tau
@ yudha ginanjar: ya jalanan sebagai wahana latihan dulu
@ nico: mending krecekan! Ada yang tepuk tangan doang, irit hihihi!
@ didut: kalo gaada receh, ya minta kembalian dong ah!
@ mitchee: betchul. Sejak awal mereka akan terbiasa cari jalan pintas untuk dapet duit
@ lala: katanya pengamennya ganteng juga?
@ ade: bila tak ada malah dirindukan
@ aGoonG: woh praktis itu! toh receh2 itu pada akhirnya ada yang dipakai untuk beli rokok
@ silly: Semoga pengaman cilik itu sekarang sudah sukses ya, Mbak. Rasanya kok tidak adil bila melihat mereka yang punya skill disertai dengan kerja keras tapi karirnya lempeng2 aja
@ chocoluv: lingkaran setan yang berjalan dengan melemparkan anak ke jalanan
dondanang
Says:
18 November 2008 at 10:11 pm.
semoga pengamen di bogor gak bertambah banyak. Semoga mereka menjadi penyanyi top. ![]()
suprie
Says:
19 November 2008 at 9:31 am.
Aku lebih suka penyanyi di kereta, atau musisi jalanan yang bener-bener nyanyi.
Pernah waktu SMA gw ketemu pengamen kecil yang nyanyi lagu jambalaya, gaya nya juga kaya orang spanyol megang gitar ,suara bagus, disuruh nyanyi lagi eh dia malu :))
Di Bis Jakarta - UKI keren juga, apalagi klo yang nyanyi ibu - ibu gendut, suaranya enak di denger.
Klo di Buncit yang naek punker, bau, suara gak jelas, ngasih pun segan.
Di Cibinong juga gitu, gw pernah denger mereka nyanyiin lagu sheila on 7 tanpa vokal, cuman gitar, perkusi, dan biola.
Oiya lupa, yang dikereta itu, pengamennya maen selain gitar dan perkusi juga pake bas betot
mpokb
Says:
19 November 2008 at 10:18 am.
untuk pengamen anak2, saya sudah stop kasih uang, karena uang membuat posisi mereka rentan. untuk pengamen dewasa, saya kasih dengan berbagai pertimbangan. ada yg memang menghibur dan profesional :), ada yg karena kasihan, dan ada yg tidak dikasih karena pas nggak ada uang kecil ![]()
Kebon jahe
Says:
19 November 2008 at 6:38 pm.
Gak pernah denger pengamen nyanyi lagu genjer-genjer. Takut ditangkep polisi kali ye :p
latree
Says:
19 November 2008 at 9:19 pm.
kalo ngamennya sambl tepuk tangan doang, kasih aja tepuk tangan dit… ![]()
dj martha
Says:
19 November 2008 at 10:35 pm.
ingat gitar, jadi ingat anak-anak yang setiap minggu saya iringi menyanyi dengan gitar, walau tak seakhli pemain gitar sungguhan….
ega
Says:
20 November 2008 at 8:36 am.
duh diittt..
ini nih yg jd perang batin..
abisny mreka tuh mostly dikoordinir..apalagi yg anak kecil
makanya…drpd mrka dieksploitasi, gw ga prnah ksih uang, walo sbtulnya kasian, tp klo mrka dpt uang, bsok akand tg lg, lg dan lg…
so, mnding klo kebtulan punya makanan kecil, mnding itu aja yg dikasih.biar lgsg masuk perut, ga usah disetor ke calonya!
ega
Says:
20 November 2008 at 8:36 am.
duh diittt..
ini nih yg jd perang batin..
abisny mreka tuh mostly dikoordinir..apalagi yg anak kecil
makanya…drpd mrka dieksploitasi, gw ga prnah ksih uang, walo sbtulnya kasian, tp klo mrka dpt uang, bsok akan dtg lg, lg dan lg…
so, mnding klo kebtulan punya makanan kecil, mnding itu aja yg dikasih.biar lgsg masuk perut, ga usah disetor ke calonya!
iqbal
Says:
20 November 2008 at 12:13 pm.
hmmm…kyknya lbh cocok masuk ke bogorwatch ni dit…
btw, gitar kecil itu namanya bukan ukulele, tp gitar kuncrung…kata temen gw sih gitu…
Gilijk
Says:
20 November 2008 at 1:02 pm.
Ngamen = suatu kegiatan. Pengamen = orang yang melakukan kegiatan tsb.
Namun para pengamen yang kita lihat itu, baik yang di persimpangan jalan, di bis, di angkot, di kereta atau yang jalan ke rumah-rumah (tapi gua belum pernah lihat yang di pesawat
), apakah ada yang melakoninya karena memang ingin menjalankan profesi tsb ?
Rasa-rasanya sih enggak. Sebagian besar (kalau tidak semua), lebih karena tidak ada kesempatan yang lebih baik (mungkin sekarang dengan adanya acara idol-idolan ada sedikit celah kesempatan ya?), paling parah ya karena itu kesempatan satu-satunya untuk bertahan hidup ke hari esok.
namakuananda
Says:
21 November 2008 at 3:13 am.
Lampu Bang Jo menyala merah, seorang ibu turun dari mobil Avanza dan langsung turun mendekati seorang ibu sedang duduk (mungkin sedang melihat anaknya jadi artis di jala)
“Ibu orang tua anak yang mengamen itu,”sambil menunjuk ke arah anak yang sedang nyanyi di deket motorku.
“Emang Ibu siapa,”Tanya balik ibu anak pengamen.
“Ibu kok membiarkan anak ibu mencari uang di jalan?,”Lirih terdengar karena suara lalu lintas di perempatan Jl Baru.
“ibu mau membiayai anak saya sekolah? memberi makan tiap hari? ni, anak saya butuh susu, “ibu mau cari kerjaan buat saya?,”Tanpa memandang, Ibu anak pengamen membasuh raut mukanya yang kusam.
Sedih mbak. salah siapa, ini salah siapa (Ebiet)
nonadita
Says:
21 November 2008 at 4:48 am.
@ dondanang: AMIN!
@ suprie: who prie, pengalamanmu menjumpai beragam pengamen sudah bisa jadi tulisan utuh sendirimayan buat apdet blog
@ mpokb: heheh kalo ada yang profesional sih nggak dikasih uang kecil juga rasanya layak2 aja kok, mpok
@ kebon jahe: hoo disambit massa duluan keknya
@ latree: kalo ada yang ngasih tampang memelas, dikasih senyum manis aja po?
@ DJ martha: tapi yang nyanyi di gereja suaranya bagus ya
@ ega: hitu dia makanyah. Dikoordinir, udah jadi semacam kelompok bisnis gitu
@ iqbal: hiya, udah lama ga apdet BW
@ Gilijk: benar bahwa kemungkinan besar mereka mengamen karena tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi kita juga dtidak memungkiri bahwa ada dia antara mereka yang memilih ngamen ketimbang cari pekerjaan yang lain karena sifatnya yang instan
@ namamuananda: mudah2an bukan salah saya dan kamu
indomie
Says:
21 November 2008 at 9:51 am.
hi hi hi
sebegitu mendalamnya ya mendalami pengamen
so melow guslow
ganbatte!!
iman
Says:
21 November 2008 at 10:48 am.
di bogor ada rumah singgah untuk anak jalanan seperti itu namanya sanggar gesang
terus terang aku ga habis pikir, sebab merekalah yang akan menjadi generasi penerus di Bogor …
:3
Says:
21 November 2008 at 11:10 am.
ahahahai… kalo masalah kenapa pengamen itu ada di jalnan bukan di sekolah sih jawabannya bisa dibuat skripsi mbak. biarkanlah para akademisi yang ingin jadi sarjana saja yang memikirkan itu. yang harus lebih diutamakan adalah sikap kita kepada mereka ;D peduli mungkin lebih berarti daripada bertanya. dan peduli tak harus dengan memindahkan uang kita kepada mereka ;D
saya ? sayangnya saya sering dipastikan tidak pernah memiliki receh di kantong atau pun tas. semua receh di kamar. Jadi saya hanya bisa mengangkat tangan saja ;D
*tak bermoral, jangan ditiru*
enon
Says:
21 November 2008 at 5:08 pm.
hmm…saya punya pengamen idola dlu wkt msh kuliah
ga cakep tampangnya, ga merdu suaranya
tapi kharismanya yg buat saya menghargai dia
*tersenyumanis smbil mengenang*
Jenk
Says:
23 November 2008 at 7:50 am.
ternyata benar ucapan orangtua dulu kalau Bogor bakalan mirip Jakarta…:-(
eleven11
Says:
30 November 2008 at 12:48 am.
klo sayah mah liat performance nya dulu, klo yg asal2an nyanyinya mah ogah ah kasih duit (kebanyakan di angkot tuh). Tapi klo tuh pengamen emang bener2 niat; suara oke, skill gitar oke, lagu2nya top 40/up 2 date and ga pake acara maksa dgn senang hati pasti sayah kasih senyum (abis mo ngasih duit ga ada lg pas buat ongkos huehehe…)
nonadita
Says:
30 November 2008 at 1:16 pm.
@ indomie: hihihi masa segini mellow sih :p
@ iman: Sanggar Gesang ini di mana ya?
@ cello: cello pelit! kasih uang gede aja
@ enon: hoo apakah ini kisah kasih tak sampai?
@ jenk: dan sekitaran Bogor bakalan mirip Bogor sekarang ini
@ ikhsan: cekakaak! emang restoran?
@ eleven11: ah, sama dong. Saya juga seneng ngasih ke pengamen yang nyanyinya bagus
Pandu Bhumi
Says:
4 January 2009 at 5:25 pm.
hmmmm….. siang hari pulang dari rumah kerabat bersama anak istri, terjebak macet di tengah kota Madiun. karena di perempatan ramai mahasiswa berteriak minta bantuan dana untuk saudara di Palestina.
Spontan hati ini teriak,….hei…apakah saudaramu itu hanya yang satu agama!!!!
apakah Tuhan hanya menciptakan saudara bagimu yang se agama!!!
Belajarlah lebih banyak di pandubhumi!

