Ujung gitar kecil (ukulele?) itu menyentuh lutut saya setelah diedarkan ke seluruh penumpang yang ada di angkot pada saat itu. Saya pun mengangkat tangan sebagai tanda tidak memberi uang padanya. Namun ujung gitar dengan gelas Aqua terikat padanya itu belum juga beranjak. Setelah saya mengangkat tangan untuk kedua kalinya, barulah pengamen itu pergi. Entah pasrah atau marah.

Segera saja, dia menyeberang jalan. Naik ke angkot yang menuju arah tempat saya datang. Maka lagunya pun akan didendangkan lagi, setelah dia mengucapkan prolog standar yang minim inovasi. Penumpang yang seangkot dengan saya sepertinya sudah lupa kepadanya. Tidak ada yang tampak memperhatikan saat dia menyanyi, apalagi ketika dia pergi. Saya pun kembali bernyanyi dalam hati mengikuti lagu dari pemutar musik saya yang setia menemani.

Pengamen itu hanya seorang dari banyak sekali pengamen yang tersebar di jalanan Bogor. Sebagian besar masih berusia muda, semuda anak usia TK hingga yang sudah beranjak remaja. Namun memang, debu jalanan telah menuakan mereka hingga beberapa tahun ketimbang sebenarnya. Mereka datang, bernyanyi, lalu pergi, tanpa meninggalkan kesan yang berarti.

Pengamen di Bogor sudah terlalu banyak. Dalam satu rute perjalanan angkot 03 (Bubulak-Baranangsiang), penumpang bisa bertemu pengamen cilik di enam titik. Perempatan jalan hingga jalan utama kota, disanalah mereka ada. Jarang sekali saya bertemu dengan pengamen yang unik. Penampilannya pun hanya sedikit yang menarik.

Bila bertemu dengan pengamen yang nyanyiannya bagus, kepadanyalah receh saya berpindah tangan. Tapi bila bertemu dengan pengamen yang bermodal seadanya misalnya tepuk tangan yang tidak bernada, mendengarnya pun saya kurang suka. Ah, apa saya yang berharap terlalu banyak? Padahal mereka β€˜kan pengamen jalanan, bukannya vokalis band di pensi SMA.

Mungkin tidak banyak penumpang yang berpikiran sama dengan saya. Seorang teman seringkali memberikan uang justru kepada mereka yang mengibakan hatinya. Pengamen yang bernyanyi tanpa alat, atau mereka yang sudah serak suaranya. Pengamen yang raut mukanya lebih menunjukkan permintaan belas kasihan tanpa semangat menghibur orang. Beda-beda tipis dengan pengemis.

Di lain waktu, saya memberikan receh saya kepada mereka yang membuat saya bernostalgia. Ada kalanya lagu-lagu bisa membangkitkan kenangan tertentu. Saya yang merasa beruntung bisa mendengar lagu semacam itu di perjalanan, tanpa pedulikan suaranya, bisa senang-senang saja mendengarnya.

Ada juga pengamen yang sukanya menekan. Prolognya seringkali diwarnai dengan kalimat bernada ancaman. Awalnya minta uang untuk makan, namun ujung-ujungnya bilang karena nggak mau sampe malak orang. Pengamen yang penuh intimidasi seperti ini, nggak jauh beda dengan preman.

Itulah sekian alasan yang melatarbelakangi pemberian sumbangan (atau keterpaksaan?) kepada pengamen. Saya menyadari, saya tak punya sikap tegas mengenai hal ini. Sikap saya masih terjebak pada dua pendapat yang berperang sama kuatnya di daerah pengambilan keputusan di benak. Pemberian receh ini diharapkan bisa membantu mereka melewati hari itu, pada kasus tertentu bisa melindungi kita dari intimidasi. Tapi ini hanya solusi jangka pendek, besoknya mereka masih tetap memenuhi jalanan, berharap plastik-plastik mereka dipenuhi uang dengan cara yang relatif instan.

Kenapa mereka ada di sana? Ke manakah orangtunya? Mengapa mereka malah ada di perempatan, bukannya belajar Biologi di sekolahan? Padahal beberapa spanduk bercap Pemda yang saya baca menyatakan sekolah di Bogor bebas biaya. Pikiran naif yang mengesampingkan kenyataan bahwa biaya tetek bengek sekolah (sumbangan ekskul, darmawisata, seragam dan sepatu hitam) bisa puluhan kali lebih mahal ketimbang SPP itu sendiri.

Sementara saya berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan, mereka masih mengulang-ulang lagu Ungu dan Peterpan. Padahal hari terus berganti, esok hari pun mungkin saya sudah tak lagi peduli.