3 December 2008
Perda Rokok, Sejauh Apa?
Posted by nonadita under: rokok .
Pelarangan merokok di tempat umum sudah dimulai di beberapa tempat di Jakarta. Sudah basi? Memang, karena peraturan ini mestinya sudah aktif sejak tiga tahun lalu. Seperti banyak peraturan lainnya di negeri ini, seringkali heboh di awal penetapan, lalu terlupa beberapa tahun kemudian. Peraturannya galak, tapi penerapannya tak bergigi.
Nonadita: bukannya pelarangan merokok di tempat umum udah sejak lama ya? Kok heboh lagi sekarang?
Teman: Lah gimana pemerintah mau razia? Susah juga kali cari petugas razia yang bukan perokok.
Nonadita: bener juga ya.. *membatin*
Begitulah, ancaman kurungan selama 6 bulan ATAU denda 50 juta rupiah diharapkan bisa mengurangi jumlah perokok yang senang hembus-hembuskan asapnya di tempat umum.
Ancaman penyakit karena rokok? Itu udah basi! Peringatan pemerintah yang berisi: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, sudah terlihat sebagai bagian dari desain bungkus rokok saja. Tak terasa mengancam apalagi menakutkan. Mungkin banyak perokok yang sudah impoten, jadi ya telanjur basah sekalian (tetap merokok).
Kabarnya, banyak perokok yang “lupa” sudah ada peringatan tersebut. Lah peringatannya ditulis di bagian belakang, padahal ketika mengambil rokok, yang terlihat adalah bungkus bagian depan. Mungkin sudah saatnya bungkus rokok di Indonesia didesain begini:

Seorang teman yang perokok mengatakan, dia bukannya tidak tahu bahaya merokok bagi kesehatan. Namun, nyatanya data statistik mengenai peningkatan jumlah penderita sakit jantung dan kanker paru tidak cukup menghentikannya. Suatu hari, dia MUNGKIN akan berhenti. Bila saja sudah melihat bukti nyata teman atau saudaranya yang sakit akibat rokok. Kenapa menunggu adanya korban orang dekat dulu untuk berhenti?
Smoking can kill you, walaupun saat ini belum terasa akibatnya. Tapi yang jelas (punishment of) smoking can kill you, bila saja sanksi denda dan kurungan ini jadi diterapkan. SEMOGA YA TUHAAANN!!
Gambar: dari berbagai sumber, dicampur oleh nonadita.
99 Comments so far...
zam
Says:
3 December 2008 at 2:54 pm.
Saya bukan perokok, jadi gak bermasalah dengan perda itu. La wong yang perokok saja juga “gak bermasalah”..
Perda itu kan cuma dibikin untuk mendapatkan duit (bagi anggota DPRD) karena ikutan sidang. Selama sidang, apalagi yg enak kalo nggak sambil merokok?
Heheh
Anggi
Says:
3 December 2008 at 2:58 pm.
hati-hati menampilkan bungkus rokok, nanti dituntut loh, hihihi… (Kalo perokok walaupun ga ngeliat merknya, udah bisa mengenali rokoknya)
Kalo di luar negeri sih (misal Singapore), bungkus2 rokok sudah didesain seperti gambar di atas, bahkan lebih mengerikan. Tapi buat pecandu, gambar tinggallah gambar…Kereta Api tut..tut…tut…maju terus… ![]()
Anggi
Says:
3 December 2008 at 3:21 pm.
@ zam: Pencemaran nama baik kali, hehehe…(meskipun tidak sebanding dengan pencemaran udaranya :D), soalnya bungkus rokok di Indonesia kan belum ada yg seperti itu, jadi menurut hemat saya, desain itu langsung diusulkan saja ke LSM peduli stopmerokok.
Peace….
bangsari
Says:
3 December 2008 at 3:23 pm.
rokok juga menghidupi negeri ini. jadi ya ga mungkin pemerintah bisa konsisten. :d
zam
Says:
3 December 2008 at 3:26 pm.
@ Anggi: pencemaran nama baik? saya kira tidak relevan. ini soal desain kemasan produk. kalo mau menerapkan pasal ini, kenapa yang membuat “plesetan” produk itu juga ndak kena?
duh, ini malah mbahas soal kemasan..
aku pikir ide kemasan rokok seperti ini bagus. cuma tak pikir ndak akan efektif jugak.
kalo mau yg efektif, sekalian aja tutup itu pabrik rokok. namun permasalahan tidak semudah itu. ada faktor di belakangnya yang bakal mengikuti. menutup pabrik rokok berarti menutup sumber devisa negara, menambah pengangguran, dan hilangnya even-even yg disponsori perusahaan rokok.. ![]()
Anggi
Says:
3 December 2008 at 3:39 pm.
@ zam: Saya juga ga tau ada pasalnya ato ngga, tentang Perda sendiri saya tidak tahu isinya apa. hehehe
Tapi yang jelas saya kan hanya mengingatkan untuk berhati-hati, kalau memang tidak ada masalah ya tidak apa, karena hal seperti ini kan pasti menimbulkan pro kontra.
Kalo satu2nya cara menghentikan kegiatan merokok dengan menutup pabriknya saya setuju, karena sampe sekarang saya masih belum tau gimana caranya berenti merokok ![]()
antown
Says:
3 December 2008 at 3:40 pm.
masak sih zam gak ngerokok? *salaman
sama dunk….heehhe
bisa jadi dit, dengan desain seperti itu orang jadi takut dan berhenti untuk merokok. Desain itu entah hanya contoh atau emang sudah diaplikasikan tapi saya sih setuju2 aja diterapkan pada kemasannya.
Kalau di sini soalnya yang saya temukan malah bergambar alat musik, yang keren2 dan sangar2. Jd mereka ya tambah tertarik untuk beli. Udah gitu kadang untuk nonton konser diwajibkan bayar sekian lalu dapat rokok. ah embuh, pelik ah…
sing penting sy gak ngerokok. dan saya masih terganggu sama orang yang merokok
*minum jus alpukat lagi…
ndebakulsempak
Says:
3 December 2008 at 3:43 pm.
hmmm….maybe yang bikin peraturan ada juga yang merokok
fahmi!
Says:
3 December 2008 at 4:14 pm.
hehe, dugaanku, desain kemasan rokok yg seperti itu nggak akan bikin takut. malah semakin laris diburu kolektor macem djoko santoso
aGoonG
Says:
3 December 2008 at 4:15 pm.
Memang banyak yang menganggap perokok menyebalkan
Tapi dengan membeli rokok juga menghidupi banyak jiwa
Bayangkan kalau rokok dilarang !
Berapa banyak jumlah pengangguran yang akan tercipta
aGoonG[bilang]ke @Pemerintah : Pengangguran = Kejahatan
Semakin banyak pengangguran maka kejahatan akan semakin menjadi pula
anKa
Says:
3 December 2008 at 4:21 pm.
dita… kalo gambar efek buruk dari rokoknya seperti itu… kurang serem ach… ada yg lebih serem lagi… saya pernah dpt di email… asli bikin saya eneg n jijik… nah kabarnya temen saya juga sempet cerita waktu dia dpt tugas di thailand… dicafe yg terbuka pun disana gak boleh ngerokok, jadi kalo mau ngerokok kudu keluar cafe dulu… n design efek buruk dari rokok disana juga serem2 bo….
so kapan nih indonesia bebas dari asap rokok… cape euy… jadi perokok pasif mulu, mending perokok aktifnya sadar diri ini mah kaga euy….
*peace ach*
regards
anKa
nonadita
Says:
3 December 2008 at 4:23 pm.
@ zam: karena situasi, kita terpaksa jadi perokok pasif. Jadi mestinya perokok pasif juga peduli dengan pelaksanaan perda tersebut
@ anggi: peringatan dan gambar memang dianggap angin lalu, itu karena rokok menjadi candu. Candu kok dipertahankan..
@ iman26: siga nu loba duit wae yeuh, ngadurukan duit!
@ gungde: hiya, mudah-mudahan aja ada perokok yang menangkap pesannya
@ bangsari: iya saya tau dilema yang dihadapi pemerintah, Mas. Makanya nggak bisa tegas mengambil sikap. Karena pemasukan ekonomi yang besar dari sektor rokok juga sudah menjadi candu tersendiri bagi pemerintah
@ antown: betul, mas. Pencitraan rokok sedemikian hebatnya sehingga konsumen merasa dirinya gaul, padahal nyatanya sedang meracuni diri sendiri
@ ndebakulsempak: bisa jadi. Karena itu peraturan tinggal peraturan
@ fahmi!: saya juga suka rokok. Tapi yang mentah, dan tidak dibakar
@ aGoonG: pelarangan rokok memang sulit (sekarang ini), yang lebih candu dari rokok saja masih ada kok. Tapi kan usaha boleh jalan terus dong?
@ anKa: hehehe kurang serem ya? Boleh dong minta kalo ada gambar yang lebih seram![]()
mantan kyai
Says:
3 December 2008 at 4:25 pm.
saya bukan perokok. tp semprul2 disekitar saya ngudud semua. jadi sama aja mungkin gambar paru2 saya begitu juga …
alit
Says:
3 December 2008 at 5:37 pm.
hm… kalo perda itu bener2 diterapin… bisa2 jakarta sepi tuh… pada masuk bui semua… hihihi
lagian namanya juga harapan… terpenuhi bagus… ga terpenuhi ya mungkin blom waktunya…. hihihi
djoko
Says:
3 December 2008 at 7:01 pm.
Merokok sih masih boleh, yg gak boleh itu merokok ditempat sembarangan,
Klo merokok tidak boleh, atau rokok tidak boleh dijual, artinya saya akan kaya raya kerena saya punya koleksi rokok 800 bungkus yng nantinya akan langka hehehehe
mbakDos
Says:
3 December 2008 at 11:50 pm.
iya, setuju.. udah basi (banget) emang itu perda. jamuran. tapi kok ya gak dibuang2 ya?!
tooooooooooopics
Says:
4 December 2008 at 12:49 pm.
paling beberapa bulan lagi hilang ditelan bumi.. kan kaya gitu di indonesia.. musiman.. termasuk peraturan2 yang dibuat.. ah luweh.. yang penting aku ndak ngrokokk bukan karena perda.. tapi karena aku ndak suka merokok dan rokok..
nonadita
Says:
4 December 2008 at 4:02 pm.
@ dony alfan: awas kesundut rokok!
@ mantan kyai: iya, polusi udara udah parah. masih ditambah polusi dari asap rokok
@ ngodod: ngodod, sebaiknya tidak ngudud!
@ didut: betul, makan kan jadi daging. ngerokok jadi kanker
@ alit: iya bener. Penghuni terminal, pasar, halte, dll. bakal pindah ke bui dah
@ djoko: dikoleksi saja ya, Pak. Jangan dibakar! Eman koleksi rokoknya
@ mbakdos: mungkin para penggiatnya sudah lupa bahwa perda itu pernah ada
@ nothing: tapi pelaksanaannya tidak bagus
@ raffaell: saya juga sakit gara2 asap2 ini
@ tooooooooooopics: saya juga bersuudzon gitu, Mas. Kemungkinan rame2nya Perda itu nggak bakalan lama. Kelibas sama isu lain yang lebih aktual
Cecep
Says:
4 December 2008 at 4:05 pm.
selama konser-konser musik masih disponsori perusahaan rokok
selama acara-acara olahraga masih disponsori oleh perusahaan rokok
selama iklan di tv masih didominasi oleh iklan rokok
selama pendapatan dari cukai rokok masih jadi penerimaan yang lumayan besar buat pemerintah
aturan apapun seputar rokok akan terasa seperti asal ada dan sifatnya hanya pajangan saja ![]()
Mr. Tipz
Says:
4 December 2008 at 6:52 pm.
Hmmmmmmmmmmm gk masalah bagi saya……………….
;
;
;
;
;
;
;
;
;
;
;
;
;
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
@del
Says:
4 December 2008 at 6:56 pm.
Saya termasuk perokok, yang menyebabkan susahnya berhenti merokok adalah kesempatan dan keisengan. Jujur aja merokok itu karena iseng, mo dibilang kenyang, ga ngenyangin, mo dibilang obat stress nggak bener juga, coz klo doit dah kempes gara2 beli rokok, malah tambah stress.
Jadi merokok itu hanya sekedar iseng saja.
iqbal
Says:
4 December 2008 at 7:50 pm.
bbrp jawaban temen gw waktu gw suruh brenti:
junjun: rokok itu kan barang kapitalis, jd wajib kita bakar!
aci: ahh, saya mah mendingan gak makan drpd gak ngerokok
hendra: wiiih, jangan salah, gara2 orang kyk saya devisa negara besar..
edan!
Saca Firmansyah
Says:
4 December 2008 at 8:56 pm.
ehm … nona, berapa banyak ‘orang suci’ telah mengancam manusia dengan neraka di akhirat yang sangat menakutkan dan begitu menyiksakan, tapi berapa banyak yang jadi baik dan takut untuk berbuat kejahatan?
hahahaaa … kalo kata anak kriminologi, kejahatan -tindak melawan aturan- adalah realitas yang abadi.
tapi kita harus tetap bergerak ‘menyentuh’ titik kesadaran kawan-kawan di sekitar kita, demi atmosfer kehidupan yang labih baik … tanpa asap rokok dan tanpa menambah kemiskinan buruh pabrik rokok!
karena kita adalah manusia … itu saja.
omiyan
Says:
5 December 2008 at 8:25 am.
DILEMA..itulah yang terjadi disatu sisi demi kepentingan orang banyak yaitu kesehatan..tapi efek sosial ekonomi bakal terjadi yaitu para karyawan yang notabene kaum ibu seandainya ROkok jadi diharamkan……kalo saya mah emang diharamkan pastinya berhentilah……
permasalahan lainnya cukai rokok adalaha salah satu penyumbang masukan negara terbesar..nah lho…ada solusi terbaik
kianaza
Says:
5 December 2008 at 8:57 am.
peraturan emang tinggal peraturan n beberapa waktu pasti akan tedup..tinggal kita aza yang bantu untuk mengkampanyekannya ato setidaknya membuat para perokok aktif itu tidak nyaman. Dirumah, andai ada yang mo merokok, walo itu malam..saya akan suruh keluar. Kalo dikereta andai ada yang merokok, saya akan kipas2 kenceng ato bahkan mengipasi yang merokok….heheh saya bisa langsung sesek kalo nyium bau rokok. tapi kalo merokok di t4 yg semuanya perokok that’s fine tapi kalo ngerokok bareng ma yang g ngerokok itu namane “pembunuhan”..saran saya yang dah nyandu…silahkan ngerokok bareng perokok.
guspitik
Says:
5 December 2008 at 10:35 am.
setahu saya, memang ada larangan dirokok ditempat umum…hehehe
herdianto
Says:
5 December 2008 at 10:54 am.
rokok khan nyandu, jadi klo cuma tulisan sih gak ngaruh kali bagi mereka
nina
Says:
5 December 2008 at 10:57 am.
yg ngga merokokpun jika dekat dgn perokok bs disebut perokok pasif dan menanggung akibat lebih parah,gimana k-lo peraturannya diubah jd “siapa saja yg bs menghentikan kebiasan merokok dan dinyatakan benar2 bebas dr rokok maka akan mendapat reward sejumlah rupiah”hehe..V(^_^)
nonadita
Says:
5 December 2008 at 11:01 am.
@ cecep: konser dan kegiatan amal/CSR seringkali berperan sebagai iklanterselubung para produsen rokok. Pemasukan dari rokok? Ah, terdengar seperti pembenaran saja
@ Mr. Tipz: masalah bagi sebagian masyarakat, sayangnya..
@ adel: saya berharap perokok-sekadar-iseng itu bisa mensubtitusi keisengannya dengan hal lain yang sehat
@ iqbal: bener, Bal. Edan!!
@ saca firmansyah: walaupun terdengar seperti utopia, tapi saya rasa suatu tujuan yang baik masih layak diperjuangkan, gimanapun sulitnya
@ omiyan: iya, memang persoalan rokok ini suatu dilema bagi pemerintah. Tapi melepaskan diri dari ketergantungan terhadap pabrik rokok, bisa dilakukan secara perlahan kok
@ kianaza: mesti tegas ya, Kian. Well done, gal!
@ guspitik: bener. Semoga pelarangan ini berlangsung terus dan konsisten
@ herdianto: iya, nggak ngaruh sih kayaknya. Tapi masa mau tunggu sakit beneran?
@ nina: rewardnya adalah kesehatannya sendiri dan orang lain. Itu sangat berharga menurut saya
latree
Says:
5 December 2008 at 6:34 pm.
aku yakin para perokok itu sudah mengerti dan sadar betul akibatnya. tapi tetep saja ada yang bilang, ‘belum ada sejarahnya orang mati karena rokok’. ya memang belum ada orang yang tersedak rokok sampai mati. tapi efek berkelanjutannya itu lho…
ok deh, silakan yang suka merokok untuk merokok. tapi mbok ya jangan ngajak-ngajak kita yang ngga ngrokok untuk ikut ngisep asepnya… aku paling ngga suka orang yang merokok di ruangan berAC dan di kendaraan umum. bener- bener tidak berperikemanusiaan…
mastongki
Says:
5 December 2008 at 8:23 pm.
Ndlepus iku kabeh, di sekolahku aja masih ada guru yang ngrokok. Padahal sekolah itu masuk salah satu daerah dilarang merokok…. Lha kalo gurunya aja ngroko’ piye tho muridnya?
maruria
Says:
5 December 2008 at 8:55 pm.
pemerintah gag melarang untuk merokok kok, tapi melarang untuk merokok di tempat umum, ya ga dit?
jadi bagi temen2 yang mau merokok, silakan saja (it’s your choice), tapi mohon liat sekeliling, jangan sampe membuat orang lain tidak nyaman. hehehe
hai dit..ayo jengjeng ke nusakambangan…
Rian Xavier
Says:
5 December 2008 at 9:10 pm.
susah memang menghentikan seperti ini..
My Blog :
1. http://d-revoz(dot)com
2. http://virnity(dot)wordpress(dot)com
adinata
Says:
5 December 2008 at 9:49 pm.
kalo rokok diharamkan, gimana nasib para pekerja dan keluarganya ya ??
NanTo
Says:
6 December 2008 at 1:17 am.
I choose a left one,,hahahahaha…boleh juga tuh klo bungkus rokoknya kayak gitu.. Tapi emang sih perokok,khususnya di Jakarta ga tau tempat. Mungkin matanya udah tertutup sama asap rokok,jadi mereka ga liat sekelilingnya.
Salam Kenal..
-nanto-
lupek
Says:
6 December 2008 at 3:47 am.
gimana ya,, kalo saya sebagai perokok,, malah gag nyaman ngrokok di tempat umum,, rasanya aneh,, hehehe
——–
salam kenal ya mbak. ![]()
istantina
Says:
6 December 2008 at 7:46 am.
sejauh mata memandang.. masih banyak puntung rokok di sembarang tempat…
sejauh hidung ini mengembara.. asap rokok masih tajam tercium..
sejauh mana perda rokok diterapkan??
boyin
Says:
6 December 2008 at 10:05 am.
mudah2an ada sedikit perubahan dari hasil perda itu. sekarang perubahan dikit aja di harepin banget lho..
nonadita
Says:
6 December 2008 at 10:35 am.
@ nino: err.. saya malah berharap fatwa pengharaman rokok bisa segera keluar
@ latree: betul! Kalo bosan hidup sehat, jangan ngajak2 orang lain ya
@ mastongki: ingatkan saja gurunya. Saya yakin gurumu paham apa “manfaat” rokok untuk tubuhnya
@ maruria: betul, Mbak. Perda itu soal pelarangan meroko di tempat umum, kok. Nusakambangan? Serem, Mbak! Horor!
@ rian xavier: Susah tapi boleh kan terus diusahakan
@ adinata: sebagian besar bisa jadi menganggur, atau berusaha bekerja di sektor lain
@ nanto: mungkin kita perlu desain bungkus rokok yang lebih informatif mengenai efek rokok ke kesehatan
@ lupek: sayangnya banyak juga perokok yang nyaman2 saja merokok di tempat umum
@ istantina: dan ke mana pun kaki melangkah, rokok dengan mudah disa didapatkan dalam harga murah
@ boyin: saya juga berharap Perda itu bisa bawa perubahan yang lebih baik
emyou
Says:
6 December 2008 at 6:16 pm.
semoga bisa segera benar-benar diterapkan. biar ga makin banyak perokok pasif yang dirugikan.
r1d0aja
Says:
6 December 2008 at 8:55 pm.
Dan meskipun MUI ngasih statement kalo rokok ntu kharam, aku masih enjoy aja ma rokok… nikmat ga harus di cari alasan kenapa melakukannya sich, se enggaknya aku nyoba ga nggangu manusia laen yg ga ngerokok…
dan non, mati bisa kapan aja dengan cara apa aja… ngyahaa..
utchanovsky
Says:
6 December 2008 at 10:29 pm.
Kalo sampai hari minggu besok (6 Des), berarti saya udah ada 3 minggu-an berhenti ngerokok
yogie
Says:
7 December 2008 at 7:20 am.
dari segi sanksi dan law enforcement aja udah keliatan klo perda itu susah ditegakkan dan gak berguna sama sekali…
iwan/igor
Says:
7 December 2008 at 9:18 am.
ah saya juga berhenti ah.
sekali ngroko lg kmaren ngrasa ada yg bolong gitu di dada. sakit2 gimanaa gitu.
ngerii..
iwan/igor
Says:
7 December 2008 at 9:22 am.
“Lha kalo gurunya aja ngroko’ piye tho muridnya?”
muridnya ngrokok berlari! hehe
nirleka
Says:
7 December 2008 at 9:35 pm.
Hahaha… Jadi inget, gara2 para perokok aktif kumpret itu, Saya diopname di rumah sakit kena pnuma thorax. Sampai sekarang juga masih ada sisa-sisanya…
Intinya, klo merokok jgn ditempat umum. Di ujung dunia sana! (ada yg ujung dunia?)
Masalah ekonomi? Itu juga alasan klise. Biasa, paradox manusia… Mempertahankan yg buruk, membuang yg baik.
Kok jadi curhat? Gak curhat, cuma berbagi dendam…
Gobet
Says:
7 December 2008 at 10:43 pm.
wah merokok sekarang sudah dilarang terus negara rugi berapa persen nie
kishandono
Says:
8 December 2008 at 7:32 am.
semua tahu bahaya dan resikonya kan? nah, tinggal pilih deh…
nonadita
Says:
8 December 2008 at 11:56 am.
@ emyou
Saya juga berharap Perda ini bisa segera ditetapkan. Malah kalau b isa lingkupnya diperluas, tidak sekedar peraturan daerah
@ r1d0aja: Mati memang bisa kapan saja dan dengan cara apa saja. Tapi setidaknya ketika hidup, lakukan yang terbaik untuk diri dengan tidak merokok
@ utchanovsky: SELAMAT! Semoga istiqomah di jalan yang benar!
@ yogie: Betul. Mari kita dukung supaya peraturan serta punishmentnya bisa lebih tegas lagi
@ iwan/igor: Nggak usah nunggu sampe bolong beneran kan?
@ fauzan: Bisa berhenti! Alihkan saja perhatian ke kegiatan lain, misalnya makan buah.
@ iman: bener banget. Emang perokok mau tanggung kalo orang jadi kanker gara2 kelakuan mereka?
@ nirleka: iya, merasa sesak karena asap rokok orang lain kan ga enak. KESALnya itu lho..
@ gobet: lebih rugi kalo semakin banyak warganya yang menderita penyakit pernafasan dan akibatnya tidak bisa produktif
@ kishandono: dan semoga pilihan kita masing2 sudah dipertimbangkan baik dan buruknya, serta siap dengan resikonya
Wongbagoes
Says:
8 December 2008 at 1:37 pm.
Hmm… STOP PABRIK ROKOK!!!
*lah pekerjanya mau dilarikan kemana
kenji
Says:
8 December 2008 at 6:04 pm.
pabrik rokok di indonesia banyak, klo rokok dilarang beneran pengangguran banyak dah… orang di luar negeri mah ga peduli, wong mereka ga kerja di perkebunan tembakau ataupun pabrik rokok ![]()
ichanx
Says:
9 December 2008 at 1:14 am.
the fact is… kalo orang kena kanker, dan dia perokok.. maka bakal dibilang “Tuh kan!!! lo kanker gara2 rokok sih!!!”.. kalo non-smoker kena kanker, bakal dibilang “pasti dia perokok pasif dan sering berada di sekitar perokok”… intinya rokok itu berbahaya, karena udah tercipta stigma bahwa rokok berbahaya… hidup perokok!!! hihi
Maghleb Elmir
Says:
9 December 2008 at 8:37 am.
klo maleb,,slm yg perokok itu keluarga,atau dia ada di deket2 kita dan ngerokok,dijamin bkl maleb semprot..
tapi klo org lain..yah,,yg mati dia ini (seleksi alam aja)
tar klo perokok pd matikn,,bumi jadi lebih bersih,,hehehe….
*usul : kadar nikotinnya ditambah aja sm perusahaan rokok,,biar matinya lebih cepet,,ups… ![]()
Maghleb Elmir
Says:
9 December 2008 at 8:40 am.
oya,,pabrik rokok nimbulin penggangguran??ktnya sih tenaga buruh pabrik rokok cuma ada 2%,,dan klo ngomongin kesejahteraan upahnya “katanya” juga di bwh UMR..
drpd ngabis2in duit pemerintah buat kampanya anti rokok, mending duitnya buat pengalihan tenaga kerja phk-an pabrik rokok yg ditutup deh..gk kaya juga Indonesia punya pabrik rokok…bullshit aja tu alesann…
goenoeng
Says:
10 December 2008 at 12:07 pm.
aku mau ngomong diluar pelarangan merokok ditempat umum ya. hanya masalah merokok.
buktinya simbah2ku dan sodara2nya mencapai usia 70-80 keatas, walaupun perokok berat. bahkan mbah buyut usia 100 lebih. biar fair, kayaknya perlu bikin statistik yg mencakup keduanya deh.
lagian, ribuan orang yg terserap dan keluarganya yg hidup dari sektor itu akan dikasih makan apa, bila tiba2 banyak orang menghentikan rokok ? apa sudah ada yg memikirkan itu ?
yuk kita bareng2, jangan cuma mikir menghentikan rokok, tapi nasib orang dibalik itu. oke ? peace !
Arip
Says:
10 December 2008 at 1:47 pm.
Perdanya kurang ampuh, sangsinya kebangeten sih.
Coba kalo dendanya cuman 35.000 diambil paksa langsung dari dompet
ato push-up 17 kali pake satu tangan
ato berdiri kaki satu setengah jam sambil tangannya pegang kuping
ato disuruh nulis “aku tidak akan merokok di tempat umum” tujuh halaman folio bolak-balik
ato nyapu trotoar 500 meter
ato digundulin separo
mungkin orang-orang akan kapok
(apa tidak mungkin?)
mpokb
Says:
10 December 2008 at 6:23 pm.
rokoknya ogah, tapi pajaknya diterima terus. aturan yang aneh..
nonadita
Says:
10 December 2008 at 7:25 pm.
@ wongbagoes: contohlah Malaysia. Konon pemerintahnya bisa mengalihkan pekerja pabrik rokok ke perkebunan tanaman lain
@ kenji: betul. Mereka cuma modalin doang. Rokok dilarang, bisa investasi di bidang lain
@ ichanx: yeh, hese dibere nyaho yeuh!
@ maghleb: ah, hanya nikotin yang ditambah? Pajaknya juga dong
@ aLe: Alhamdulillah, jangan merokok lagi ya, Le!
@ lala: tuh baca kata Lala!
@ goenoeng: ya, tapi setiap manusia berkesempatan dan berhak untuk menjalani hidup dengan sebaik2nya, salah satunya adalah dengan tidak menjaga kualitas kesehatan. Mengenai pekerja pabrik rokok, apakah mereka benar-benar disejahterakan dengan bekerja di sektor tersebut? Di sinilah dibutuhkan komitmen bersama, misalnya menyediakan lapangan kerja di bidang lain, yang minin mudharatnya
@ arip: atau disuruh ngepel pelataran Monas mungkin?
@ hafiz: apakah itu “mati pucuk”?
@ mpokb: memang aneh, seperti menempatkan kaki di dua perahu
JedagJedug
Says:
10 December 2008 at 8:13 pm.
Duh, saya perokok berat
Jadi ingat, katanya rokok itu “Tuhan Sembilan Centi” itu kata Taufik Ismail
Dan mungkin kata sebagian perokok itu, hehehehe…
makanya rokok tetep disembah bagi sebagian perokok dan sekalian dibakar dan hisap
bagi sebagian pemimpin negeri ini, nggak jauh beda, pajaknya juga disembah-sembah hehehehe
duh.. kenapa komen saya seserius ini ya?, padahal tadinya cuman mau bilang kalo saya ini perokok, itu aja, titik!.
preventordoctor
Says:
10 December 2008 at 8:39 pm.
hmmm, numpang ngobrol
merokok sudah jelas membahayakan kita semua..
ingatlah, untuk para suami… membunuh para istrinya dan anak2nya pelan2 akibat rokok yang mereka hisap
inget ya, ga cuma kanker paru aja lho, perokok pasif bisa merupakan tersangka kanker2 laen
sudah sangat banyak kasusnya..
thx u..salam kenal buat semua
preventordoctor
Says:
10 December 2008 at 8:45 pm.
o iya..gue juga postingan tetntang rokok…check my blog yah
saya bersimpati pada perokok2 yg telah bersusah payah menghentikan bad habitnya, tapi tetep gak bisa..
ora popo mas.
semangat wae, niat wis diitung siji
Arief
Says:
10 December 2008 at 11:51 pm.
Pemerintah membuat aturan tentang merokok. Pemerintah juga membuat aturan tentang produksi rokok. Pemerintah juga harus membuat aturan tentang produksi tembakau. Pemerintah juga semestinya membuat aturan perlindungan terhadap petani tembakau. Pemerintah juga selayaknya membuat aturan tentang perlidungan bagi konsumen rokok.
Gilijk
Says:
11 December 2008 at 1:50 pm.
Kalau bicara perokok dan bukan perokok, pasti jumlah perokok jauh lebih sedikit dibandingkan yang ‘bukan perokok’. Dikaitkan dengan hak azasi manusia maka sudah sepatutnya, diberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum, namun di tempat-tempat umum tersebut harus disediakan tempat khusus merokok, seperti misalnya kalau kita ke mal-mal ada tempat khusus tempat menunggu untuk sopir. Sama juga mestinya disediakan tempat khusus untuk menyusui.
Pemerintah sudah seharusnya, menjadikan penyediaan fasum seperti itu sama halnya dengan tempat sembahyang, dll sebagai syarat dalam mengeluarkan IMB. Jadi desain suatu mal harus menyediakan tempat sembahyang, tempat menyusui, tempat merokok, toilet.
Pertanyaannya …. Bisa nggak ? Bisa (khan bersama kita bisa). Mau nggak ? Nah ini yang susah ngejawabnya.
aNGga Labyrinth™
Says:
11 December 2008 at 11:29 pm.
Susah di indonesia siapa sie yang ngak merokok,
Coba lah pajak untuk rokok tuh dinaikan barang 900% bakal berkurang sendiri tuh perokok,
Dijepang sana merokok bukan pada tempat nya dan merokok d bawak umur bisa masuk penjara loh
garasi komputer
Says:
12 December 2008 at 12:02 am.
Salam kenal ya mbak. Saya sambung - putus dengan rokok. Tapi sesekali iseng aja kok dan gak di tempat umum apalagi wc umum…he..he..
ariawan
Says:
12 December 2008 at 3:23 am.
itu perda jakarta aja kan ya? bukan di bogor? :p
saya masih sering liat yang ngerokok di stasiun tuh.. kayaknya razianya ga sampek stasiun…
Maleb anak baik :D
Says:
12 December 2008 at 8:34 am.
yoweiss,,monggo yang mau ngerokok,,asal jgn deket2…
nonadita
Says:
12 December 2008 at 9:32 am.
@ jedag-jedug: Tuhan Sembilan Centi? Wah menduakan TUhan itu namanya..
@ preventordoctor: iya nih, kami perokok pasif tak mau ikutan kena kanker paru-paru!
@ arief: sayangnya peraturan sudah banyak, tapi yaa penerapannya tidak tegas
@ gilijk: nah, saya mau. Semoga lebih banyak orang yang mau berkomitmen untuk mengatasi candu rokok ini. KITA BISA KALAU MAU!
@ angga labyrinth: Pajaknya dimahalin? Betul itu, bagus!
@ ikhsan: rokok… i hate it..
@ garasi komputer: iya, kalau merokok jangan deket-deket apalagi ngajak orang ya
@ ariawan: penerapannya memang belum maksimal. Semoga selekasnya bisa nyampe stasiun-stasiun
@ maleb: lebih bagus lagi di padang pasir, supaya nggak ngeganggu orang
@ fajar ramadhitya: memang masih jauh banget, mari kita sukseskan!
Jessi
Says:
12 December 2008 at 9:41 am.
mbak, lam kenal…
bisa minta sumber data statistik yang mbak tulis ga?
thx
Funky
Says:
13 December 2008 at 5:37 am.
Pingin Ngepel Jalan SUDIRMAN deh kalau ngomongin Perda yang ada di Jakarta. Gubernurnya saja sableng dan gemblung.
ee..tuh gambar paru-paru bagus ya kalau dicantumkan di setiap kotak rokok, kasihan si Pitoe tuh.
navi
Says:
13 December 2008 at 3:09 pm.
saya perokok…biarpun bukan pecandu rokok…
tapi…saya suka juga “dirokok”…..lalalalalalala….
risyuwono
Says:
14 December 2008 at 2:43 pm.
Alhamdullilah saya tidak pernah merokok saya batang rokok pun, karena:
1. Tidak punya alasan kenapa harus merokok.
Analisis sebab2 sekitar saya merokok: Gaul, Persahabatan, Gengsi, kan Laki-laki, Ndak Pede, Mulut Kecut, Ketagihan (Kalo ndak, ada yang kurang). Bisa terlewati klo ada niat.
2. Saya mengibaratkan orang merokok di depan umum, seperti orang kentut di depan umum tapi ndak malu. Orang klo kentut kan sebentar, dan malu mengganggu karena bau, padahal efeknya hanya 1 menit. Bayangkan Anda merokok yang jelas tidak hanya baunya yang menyakitkan bagi yang tidak suka rokok, tapi juga mematikan Anda sendiri, waktu yang Anda habiskan tuk merokok lebih dari 5 menit, dan Anda tidak malu…bayangkan…keras kepalanya Anda.
3. Masih percaya orang pintar (Dokter). Kalo Anda sakit gigi, sakit kulit, melahirkan, patah tulang, komplikasi kemana Anda pergi? ke Dokter khan…ketika para Dokter menyatakan dengan bulat bahwa rokok berbahaya….Anda bilang ahh masa bodoh…Bayangkan jika Anda sakit seperti yang sudah disebutkan kemudian ke dokter…kemudian Dokternya bilang buat apa lu kesini…bagaimana perasaan Anda…sakit banget khan…nah itulah perasaaan saya sebagai bukan perokok, jika melihat Anda merokok di sebelah saya….kalo tidak ingat pasal penganiayaan, saya tonjok2 langsung…..
andreas30oldy
Says:
14 December 2008 at 10:46 pm.
kalau saya sih ga suka ma rokok!! Asapnya bikin batuk! bukan itu aja tapi efeknya bisa lebih berbahaya lagi..sayangnya pemerintah kurang tegas sih!!!
uchielz
Says:
15 December 2008 at 5:21 am.
Apa kabar bu??
wah…wah…kira-kira gimana kabar paru-paru saya sekarang ya???hikzzz….
Hoho23
Says:
15 December 2008 at 2:09 pm.
Yah, gw sendiri jg pnh liat polisi yg ngerokok.. So, gmn peraturan sendiri diterapkan???
Gw pengen bgt bisa nyiram org yg ngrokok…hohoho Atau gak rokoknya diambil trus tempel ke bibir yg ngrokok…
hohoho
Yasta
Says:
17 December 2008 at 10:10 pm.
SETUJU!!!!!!!!!
Jangan lagi ada asap rokok…
kematian mengincar siapa saja yang merokok.. apalagi yang perokok pasif.. huft. kasian ya yg perokok pasif tapi harus terbiasa makan asap gak guna itu.
Suparno Jumar
Says:
22 December 2008 at 4:14 pm.
kata eyang :
perokok aktif….
perokok pasif…
ah gak tega nglajutinya…
Hans Suta Widhya
Says:
23 December 2008 at 12:04 pm.
Ulama Harus Ikut Pikirkan Dampak Fatwa Haram Rokok
Meski masih dalam tahap wacana, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dikabarkan akan mengeluarkan fatwa haram merokok bagi umat Islam. Isu ini dapat menjadi kontroversi baru karena bisa membuat punahnya sebuah ekosistem dan komunitas yang sudah mapan.
Persoalannya, tentu adalah bagaimana mengatasi krisis yang terjadi pasca fatwa haram oleh MUI. Siapakah yang bertanggungjawab atas dampak negatif dari dikeluarkannya fatwa ini ? Apakah MUI juga sudah memikirkan dampak-dampaknya ?
Memang, seharusnya MUI ikut memikirkan dan turut bertanggungjawab atas dampak negatif yang ditimbulkan oleh fatwa ini. Sayangnya, pengalaman saat pelarangan Ahmadiyah yang memicu kekerasan antar kelompok beragama (yang menimbulkan kerusakan aneka fasilitas), peran MUI pasca pelarangan itu, secara sosial maupun ekonomis terkesan sangat kecil.
Padahal, jika fatwa rokok haram diluncurkan pun pasti dampak sosial ekonomisnya juga akan luar biasa besar. Rokok merupakan salah satu penyumbang devisa bagi negara, dan juga penyumbang berbagai kegiatan (sponsorship) bahkan dalam event resmi pemerintahan dan keagamaan.
Bukan itu saja, berapa juta orang yag akan mendapat kesengsaraan akibat masalah ini. Pengusaha dan karyawan pabrik rokok, meskipun banyak barangkali masih bisa dihitung. Tetapi, berapa jumlah tetangga kita yang menjadi tukang rokok di sepanjang jalan, tentu jumlahnya akan menjadi sangat banyak.
Dalam konteks ini, kita mengharapkan agar para ulama juga turut membantu memikirkan nasib dan masa depan jutaan komunitas manusia yang menggantungkan hidupnya kepada industri rokok. Terima kasih.
Hans Suta Widhya
azies
Says:
26 December 2008 at 6:11 pm.
berbagai macam tanggapan orang mengenai sigaret yang membuat kanbol (kantong blolong) memang, sulit untuk di hentikan. tapi saya peduli terhadap orang yang ga meroko. kasihan mereka, perokok pasif adalah imbas dari para perokok yang ga mau pedili orang disamping mereka. Perda nya bagus. tapi aplikasinya mengecewakan.
minanube
Says:
30 December 2008 at 11:31 am.
Waduh… rokok membuat kaya negera je..
dan tulang punggung petani di desa mbak ![]()
mia
Says:
2 January 2009 at 3:00 pm.
ya ya baru kemaren tuh saya tumben2an naik angkot yang 3 penghuni didalamnya merokok!!! Padahal ini di jkt yang biasanya paling cuma supirnya aja yg ngerokok…
padahal kemaren2 klo ke bandung saya pasti bakal nyinyir klo naek angkot “huh, bandung payah, masih banyak yg suka nerokok di angkot!”
apa ini tandanya saya musti beli mubil ya hehehe…
Rizky Pranata
Says:
4 January 2009 at 8:17 pm.
Saya mah ga ngerokok. jadi ga masalah ada perda juga.

