Saya mendapat banyak undangan pernikahan bulan ini. Di bulan baik, tiada weekend tanpa ada teman yang menikah. Menyenangkan, karena sekaligus menjadi ajang reuni dengan teman sekolah dan kuliah.

Seperti biasa, di tengah kumpul selalu ada canda yang terlontar. Kemarin dua orang teman lelaki saya ngobrol soal pacar mereka yang belum bisa masak. Rupanya si pacar yang juga adalah teman saya kompak menjawab, “ah nanti juga bisa!”. Saya tertawa dan jadi mikir, apa iya hari gini perempuan mesti bisa masak dulu sebelum nikah?

Waktu masih SD, saya sering mendengar pernyataan bahwa syarat seorang perempuan siap berkeluarga bila sudah bisa memasak sayur asem yang enak. Konon, sayur asem adalah sayur yang paling ribet bumbunya. Kurang asem atau terlalu encer, suami dan mertua bisa rewel nggak mau makan.

Belakangan, saya menemui ‘syarat’ yang lain dari teman-teman saya yang laki. Ada yang menyaratkan istrinya harus bisa mengolah paru lah, bikin rendang yang tasty lah, atau sekedar bisa bikin sarapan yang bervariasi. Dari obrolan dengan mereka saya belajar, bahwa sayur asem tidak lagi menjadi satu-satunya jurus yang harus dikuasai seorang perempuan untuk naik level jadi istri orang.

Padahal prakteknya banyak teman dan saudara perempuan yang menikah dalam kondisi belum bisa memasak, tanpa menjadikan ketidakmampuan memasak sebagai masalah. Mungkin karena sebagian besar dari mereka hidup di daerah pemukiman di mana warung nasi mudah didapat. Atau karena waktu mereka banyak tersita di jalan antara kantor dan rumah. Hmm… yang jelas mereka beruntung mendapat suami dan mertua yang nggak riwil soal kemampuan memasak ini. :mrgreen:

Seorang dosen Psikologi saya malah bercerita, ketika dia dilamar oleh suaminya dia meyakinkan bahwa dia nggak bisa masak. Tapi calon suaminya itu malah berkata, “nggak apa-apa. Aku minta kamu untuk jadi istriku, bukan jadi koki”. So sweet, .. hah?

Pikirnya, alah bisa karena biasa. Berikan kami peralatan dapur lengkap dan uang belanja yang memadai, berikan kami keleluasaan serta dukungan moril. Kemampuan memasak bisa jadi muncul setelah terbiasa atau karena “paksaan” situasi. Praktis, memang.

Bila demikian, mestinya belum-bisa-memasak nggak jadi alasan untuk menunda pernikahan atau malah mendiskualifikasi calon pasangan. Karena konon setelah menikah, perempuan jadi berkesempatan untuk mencoba-coba dunia masak, siapa tahu cocok. Tentu bila tidak ada “intimidasi” dari ibu atau mertua. :roll:

Tapi tentu ini nggak bisa dipukul rata untuk semua kasus. Ada juga calon suami dan keluarga yang “berbesar hati” menerima calon istri yang tidak (akan) memasak. Pemenuhan kebutuhan makanan diserahkan kepada asisten rumah tangga atau warung tetangga. Masihkah hal ini menjadi masalah, sementara semakin banyak saja lelaki yang berkarir sebagai koki dan bersedia turun ke dapur.

Beberapa orang teman saya yang laki-laki malah dengan bangga mengaku pandai memasak. Ah, kalau begitu, bila calon istrinya nggak bisa masak, nggak apa-apa tho? Iya, kan? Iya doong.. :mrgreen: *disambit pake wajan* Humm.. ya, bukankah ketidakbisaan masak itu bisa disiasati dengan pengetahuan mengenai pengaturan menu makan harian yang sehat dan cukup jumlahnya ya? Makanannya ya beli saja di warung. Hehehe!

Bagaimana dengan anda? Masihkah beranggapan perempuan harus bisa memasak sebagai syarat menjadi istri?

Moral postingan ini: Banyak nilai-nilai terkait peran gender yang sudah bergeser sekarang ini. Ada dua pilihan, menjadi konservatif atau fleksibel menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi?