Akhir tahun lalu, saya melakukan jengjeng yang lumayan lama (dan lumayan jauh untuk ukuran saya). πŸ˜€ Bogor-Bali boo, dengan singgah pada beberapa kota di antaranya. Bukan perjalanan jauh seperti biasanya, karena kali ini saya naik BIS dilanjut dengan ferry. Nggak kurang tepos aja jadinya tuh b*k*ng. :roll:

Perjalanan ini menjadi aktivitas tutup tahun yang membahagiakan. Pada tahun 2008 inilah pertama kali saya berkesempatan mengunjungi Yogya, kota di mana waktu seakan berputar dua kali lebih lambat. Tak sangka empat bulan setelah kunjungan pertama itu, saya bisa mampir lagi dan dilanjut ke Bali pula. Maka beberapa entri sekaligus telah tercontreng dari daftar Tempat yang Ingin Kukunjungi.

Tapi tour bersama Mama dan geng-nya ini ternyata tak seperti yang saya bayangkan! Bukannya berlama-lama di tempat-tempat wisata alam, namun fokus utama adalah wisata belanja. Tour ini mengubah kami saya menjadi seseorang yang berbeda. Tour ini membangunkan macan tidur dalam diri saya.

Macan impulsive buyer. :mrgreen:

Harusnya saya sudah curiga sedari awal. Teman-teman seperjalanan ini sebagian besar adalah ibu-ibu yang sudah hafal sudut-sudut Bali dan sudah biasa blusukan di pasar tradisional. Mulai pasar batik Pekalongan, Beringharjo di Malioboro hingga Sukowati di Bali. Maka titik-titik inilah yang jadi sasaran utama. Lalu terseretlah saya dan menghamburkan rupiah di sana.

Sungguh, saya bukan shopaholic. Saya belanja baju kala sudah dirasa perlu. Saya belanja buku hanya bila punya sisa waktu (senggang). Saya bukan penggila sepatu, atau pemburu gadget terbaru.

Ah, salahkanlah selera saya pada barang-barang kerajinan tangan yang lucu-lucu. Minat saya pada suvenir dari bahan alami yang melimpah, .. tentu dengan harganya yang murah meriah. Kepada mbok-mbok di Yogya dan bli-bli di Sukowati, rupiah saya berpindah.

Kalau sebagian ibu-ibu itu yang mendadak jadi impulsive buyer, rasanya kok wajar-wajar saja ya. Memangnya ada ibu-ibu rumah tangga yang nggak begitu? *dipentung* Menurut pandangan mata kemarin itu sih begitu, beberapa mengakui bahwa barang yang mereka beli sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Namun, penampilan batik yang cantik dan murahnya bedcover meluluhkan mereka. Dibeli dulu mumpung murah, setiba di rumah tinggal diatur mau dipakai sendiri atau jadi oleh-oleh. Hal ini berlaku juga untuk aksesoris kerang-kerang, tas-tas khas Bali, hingga patung ukiran yang ikut diborong. Begitulah.

Lalu kenapa harus ibu-ibu yang kalap belanja di sana? Seorang sahabat dengan santainya berkata, “ah, lo kan punya segudang kegiatan untuk menghibur diri. Dari internet sampe kegiatan bareng komunitas. Lah ibu-ibu rumah tangga itu? Wisata belanja gini ini yang bikin mereka merasa “hidup”.

Maka, wisata belanja di akhir tahun beserta segala keriuhannya cukuplah menjadi sarana recharge energi untuk bekerja giat di tahun berikutnya. Diskon dan harga murah yang ditebar cukuplah menjadi reward atas lelah bekerja pada tahun itu. “Recharge energi dan reward” atau “pembenaran untuk perilaku impulsive buying“? Entahlah…

Moral postingan ini: Work smart, shop smart (Bahkan di saat bersenang-senang pun saya masih sibuk berhitung-hitung proporsi uang belanja dengan besaran gaji pada bulan itu. Terlalu kakukah saya? Ah, tante-tante, mohon ajari untuk bisa menikmati hasil jerih payah saya tanpa merasa bersalah..)