Belakangan ini, ada saja ajakan untuk reunian baik dengan teman sekolah ataupun teman kuliah. Mendengar kata “reuni”, mendadak saya merasa tua. Kala mendengarnya, yang terbayang adalah acara kumpul-kumpulnya teman-teman sekolah, yang sudah matang, menikah dan membawa anak-anak. :mrgreen:

Mendadak bermacam perasaan lantas teraduk menjadi satu. Senang, bergairah hingga cemas pun kini berpadu. Senang bisa bertemu kembali kawan lama, ingin tahu bagaimana kabarnya. Namun tak dipungkiri ada cemas yang terasa, adakah kali ini saya lebih baik dibanding saya di masa lalu?

Kenangan pun berkelana ke sepuluh tahun lalu, ketika sama-sama menjelang seragam abu-abu. Beragam kata perpisahan terucap seraya berharap reuni segera terlaksana. Ada rasa tak rela berpisah dengan sahabat dan lingkungan sekolah yang sudah terasa nikmat. “Kapan kita akan bertemu lagi ya? Semoga bisa cepat-cepat reuni”, begitulah kira-kira waktu itu.

Tapi bisa jadi ketika waktu itu tiba mendadak muncul rasa ragu. Bisa jadi merasa nggak PD dengan statusnya kini, pendidikan tinggi yang belum selesai juga atau bentuk fisik yang tak lagi sexy. Kerinduan sejenak terlupakan, berganti rasa minder dan malu. Akhirnya reuni tak lagi menjadi hal yang ditunggu.

Muncullah dialog semacam ini,

Nonadita:  Dateng reuni lo?
Teman: Aduduuh…minder gw masih gini-gini aja!
Nonadita: ….
Teman: Lagian gw bingung pake baju apa ke sananya..
Nonadita: Yuk beli baju dulu buat reuni. (adezig!)

Atau begini,

Nonadita: Lo dateng reuni ga?
Teman: Aduduuh…minder gw masih jomblo, mantan gw aja udah beranak
Nonadita: Nggak mungkin juga ngedadak kawin sebelum reuni kaan?!

Kecemasan biasanya muncul mengenai hal-hal seputar pendidikan, karir dan hubungan pernikahan. Tak heran karena memang pada poin-poin ini keberhasilan orang dewasa seringkali dinilai. Celakanya poin-poin inilah yang biasanya ditanyakan setelah pertanyaan pembuka, “apa kabar sekarang?”.

Tak heran bila muncul upaya-upaya memoles penampakan luar. Mulai dari penataan rambut, membeli baju baru sampai gadget keren sebagai pelengkap. Semata terlihat lebih shiny yang berujung peningkatan percaya diri. Wajar… sewajar perasaan kita ingin terkesan baik pada pertemuan pertama dengan seseorang. Alami… sealami usaha-usaha lain yang dilakukan supaya bisa menjabat tangan dengan pasti.

Padahal belum tentu teman sebegitu tertariknya soal pencapaian di pekerjaan saat ini. Belum tentu teman akan terkagum pada pernikahan yang dilakukan pada usia dini. Belum tentu juga cinta lama bisa bersemi lagi sekedar karena kita sudah memegang BlackBerry. Reuni berarti bertemu kembali, sekedar untuk tertawa bersama lagi. Sekedar untuk nostalgia masa remaja yang berselang sejak lama. Ah, akankah begitu?

Bagaimana dengan anda, adakah hal-hal yang menghambat anda untuk datang ke reuni?

Dimuat juga di:
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/14/reuni-butuh-lebih-dari-percaya-diri.html