#fq yang saya maksud pada judul, tak lain adalah Farah Quinn (FQ). Chef cantik yang tenar tak hanya karena penampilannya di TV, namun juga karena menjadi bintang di ranah kicau. Untuk sebagian tweeps, ramainya hashtag #fq setiap weekend sudah terasa familiar. Apalagi bila ternyata bila sama-sama memfollow orang-orang dari kelompok yang berselera sama dan tanpa dikomando ngetwit soal objek pembicaraan yang sama. Jemaah Al Farah Quinniyah alias tweeps ini, bisakah kita sebut fansnya FQ?

Tweeps ini menonton demo masak tak hanya untuk belajar & mencari inspirasi menyiapkan sajian. Mereka ngetwit mengenai pakaian apa yang FQ kenakan hari ini. Mengomentari apa efek warna bajunya, bagaimana pakaian tersebut tampak di tubuhnya, seberapa ketat, dan apakah gambar di kaosnya “rusak” setelah menunduk.  Ketika membaca twit-twit ini, terkadang saya merasa sedang membaca ulasan dari komentator fashion seleb.

Tweeps ini mengomentari bagaimana gaya FQ menerangkan tahapan-tahapan memasak. Bagaimana caranya memegang bahan makanan tertentu, gayanya mengucapkan kalimat tertentu yang kemudian “dituduh” ambigu dan bagaimana caranya mengoles topping di atas sajian.

Tak cuma live report acara demo kemudian berkomentar mengenainya. Rangkaian timeline yg disusun oleh tweeps dengan objek obrolan yang sama rupanya menggelitik imajinasi beberapa orang. Ada yang lalu membayangkan gimana kalau kembennya melorot (ya masup angin lah :mrgreen: ), gimana seandainya jadi pisang yang sedang dipegang atau gimana kalau kembennya dioles madu.

Selera politik bisa berbeda, namun ketika FQ mengudara semua bisa satu suara. Demo masak ditonton sama-sama sekedar ingin melihat chefnya yang memanjakan mata. Salahkah? Tidak (tahu). Kita “terbiasa” untuk menerima bahwa penampilan seorang perempuan cantik lazim menjadi topik joke yang disukai para lelaki. Kita “terbiasa” untuk sepakat bahwa sudah dari alam sonolah laki-laki tertarik secara visual. Kita “sama-sama mengerti”, bahwa itulah adanya bawaan otak primitif lelaki, takdir biologis. MAKA, semua (harus?) “paham”, ya memang beginilah gaya becandaannya para lelaki.

Saya berasumsi FQ bukannya nggak mengetahui anugerah yang dimilikinya. Nggak salah juga bila kemudian seperti selebritis lain, dia dan TV memanfaatkannya untuk menjadi nilai tambah keseluruhan dirinya. Keterampilannya dalam memasak tidak diragukan lagi, do’i pernah dapet penghargaan kulinari di AS ‘kan ya? CMIIW miaw miaw. Cantiknya hanyalah kemasan yang membungkus kepandaian yang memang sudah ada dalam dirinya.

Mungkin FQ tidak merasa terusik dengan twit seksis (?) mengenai dirinya, toh memang begitulah penampilannya sehari-hari. Komentar jemaah #fq di Twitter mungkin tidak merugikannya secara langsung, melainkan menaikkan popularitasnya. Entah bagaimana jadinya bila komentar-komentar nakal tersebut diucapkan langsung di depan mukanya.

Apakah anda setuju bahwa twit-twit tentang (tubuh) #fq itu adalah: biasa-biasa saja, lazim muncul di obrolan sehari-hari. Begitukah? Nyatanya ada saja yang merasa jengah, misalnya: Oh, lagi acara #fq ya? Off twitter dulu, deh. Jengah baca soft porn nanggung di timeline.

Dalam twit 140 karakter, batasan-batasan seakan kabur. Komentar spontan bisa dianggap pelecehan. Mereka yang lebih peka akan berkata itu sexual harrassment.  Mereka yang tidak sependapat hanya bilang: it all was a joke, why so serious? Lainnya akan bilang, tidak layak menilai moralitas seseorang hanya dari twit semata. Ya, memang tak adil membaca hanya dari yang tersurat, tapi apakah anda pikir orang lain mau bersulit-sulit mencari yang tersirat dari kalimat yang anda tulis sendiri? Setidaknya kita bisa punya penilaian masing-masing tentang orang lain berdasarkan twit spontannya. Ah, cetusan spontan biasanya lebih jujur bercerita tentang pikiran si empunya otak…

Tweets about Farah Quinn’s body is not funny. Saya nggak akan bilang kepada kalian para lelaki, bayangkan bagaimana bila perempuan yang anda sayangi mendapat perlakuan seperti yang FQ alami? Sebab kalian nggak akan pernah bisa membayangkan, toh laki-laki pada umumnya tidak pernah dilecehkan secara lisan oleh lawan jenisnya (tentang tubuhnya). Jadi anda akan sulit membayangkan bagaimana rasanya bila anda yang dikata-katai: sajian masaknya setiap minggu selalu sama, yaitu pepaya gantung.

There, i said it.

Sekarang, maukah anda berbagi pendapat anda mengenai fenomena #fq ini?

UPDATE: baca juga Lagi, Tentang Twit #fq di situs ngerumpi.com