blog

Untitled (Hati dan Akal)

Aku memilih untuk melanjutkan hidupku. Apapun yang terjadi kemarin, hal itu tak akan dapat menghentikan langkahku.

Tidakkah kau sempat bersedih?
Aku memilih untuk tidak merasakan kesedihan itu.

Kau tidak bersedih?
Kau kira aku bukan manusia? Kau kira aku tidak bisa merasakan kesedihan? Ya tentu saja aku sedih. Aku bahkan menangis. Sekarang kau bisa yakin, ya aku memang manusia biasa. Dua puluh satu tahun persahabatanmu denganku, pasti selama itu pula kau menunggu untuk melihatku menangis.

Tapi kemana Akal yang kau agung-agungkan sejak dulu?
Akal meninggalkanku sejak detik pertama pertemuanku dengan Dia. Ketika Dia pergi, aku memilih untuk meninggalkan Hati di tempat kami berpisah. Selangkah setelah aku berjalan, aku bertemu kembali dengan Akal. Aku berlutut di depannya dan memohonnya untuk tidak pernah tinggalkan aku lagi.

Bagaimana dengan Hati, tidakkah dia pernah menyusulmu?
Satu hal yang belum kuceritakan padamu, aku tidak sekedar meninggalkannya, aku mengikatnya, sehingga dia tidak pernah bisa menyusulku.

Hati pasti merasa kesepian…
Hati bukan teman yang baik. Hati cemburu pada Akal yang selalu menjadi kawan baikku. Ketika Dia bertemu denganku, rupanya saat itulah Hati melancarkan rencananya.
Hati menguasaiku dan entah bagaimana mengusir Akal keluar dari diriku.

Kau tidak sempurna lagi…
Lebih baik begitu daripada merasakan lagi apa yang pernah kurasakan.

Akal tidak selalu baik padamu…
Setidaknya dia selalu mengajakku berdiskusi mengenai segala sesuatu. Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu, dia tidak pernah mencoba menguasaiku.

Bukan dirimu yang berbicara saat ini..
Aku bahkan tidak dapat mengenali diriku lagi, tapi itu tidak menjadi masalah. Akal tidak akan mencelakakanku.

Apa kau bisa yakin?
….

Tidakkah kau merindukan Hati?
Tidak!!

Sedikitpun?
…..
…..
…..
Aku sudah lupa tempat dimana aku mengikatnya…

Inginkah kau kutemani mencarinya?
Dan kembali melewati jalan itu maksudmu?! Tentu saja tidak!

Kau akan tidak sempurna selamanya…
Kuambil resikonya. Lebih baik daripada kembali ke sana. Aku sudah berjalan sejauh ini, tidakkah itu hanya membuang-buang waktuku saja? Aku tidak mau kembali ke sana…

Lalu bagaimana dengan Hati?
…..
…..
Seseorang akan menemukannya, membebaskan ikatannya dan mempertemukanku kembali dengan Hati.
Suatu hari nanti *berdoa*.

Lagu-lagu Sosek Faperta

Semua mahasiswa Sosek selayaknya mengingat lagu-lagu yang dari tahun ke tahun menjadi ciri Sosek. Bukannya Sosek ini anak TK makanya punya banyak lagu yang cihuy dan mellow, tapi memang lebih karena Sosek ini bukan Fahutan ataupun Perikanan. Jadi Sosek ngga perlulah lagu-lagu yang terlampau macho dan malah jadi membiasakan warganya berteriak dengan suara yang lantang. Hei kita kan ngga sering hidup di alam bebas..hehehe. Piss ah.Sosek Faperta adalah titik di IPB mana saya ingin tercatat sebagai mahasiswanya, sejak masa SMU dulu. Dan voila,.. di situlah saya kemudian kuliah. Sosek, di sanalah terekam jejak langkah pertama saya sebelum kemudian menjelajahi IPB.

Seorang senior saya mengatakan, saking tua dan eksklusifnya (mungkin..jangan salahkan saya untuk pernyataan yang ini) Sosek, maka di IPB hanya ada dua jurusan, yaitu Sosek dan Non Sosek. Dari jutaan warna yang saya alami bersama Sosek, hal menyenangkan yang selalu saya ingat tentang Sosek adalah lagu-lagunya…

Bring Cikita

Bring Cikita ini khas Sosek banget, semua warga IPB yang pernah mendengarnya pasti langsung mengaitkan Bring Cikita dengan Sosek. Yel-yel inilah yang senantiasa menggetarkan Faperta di setiap acara Sosek dan lebih sering lagi menggema di Gymnasium kalau ada pertandingan yang melibatkan Sosek di sana. Bring Cikita pula salah satu yang menarik perhatian saya kepada Sosek pada masa SMU dulu. Yel-yel pembangkit semangat ini harus dibawakan dengan sikap tubuh yang khas pula. Kaki kiri diangkat ke depan membentuk sudut 45 derajat dan tubuh dicondongkan ke depan 45 derajat pula. Tangan kiri di lutut kiri dan tangan kanan yang bergerak menepuk telapak tangan kiri.

Menurut sebuah kabar, Bring Cikita ini sudah ada sejak angkatan duapuluhan. Yel-yel khas Sosek ini awalnya diciptakan dengan tempo yang lambat, dan semakin cepat ketika dibawakan oleh generasi-generasi berikutnya. Mengenai tempo Bring Cikita yang semakin lama semakin cepat ini, saya teringat suatu cerita lucu. Pada Masa Perkenalan Jurusan, yel-yel ini disosialisasikan kepada mahasiswa baru. Saat itu, pada awalnya sebagian besar dari kami merasakan semangat setiap kali menyanyikannya. Namun -dasar panitia Ospek- yel-yel ini (dan beberapa lagu lucu lainnya) seringkali dijadikan syarat setiap kali kali mau duduk, memulai acara, menyambut pembicara, mau makan, sebagai hukuman dan setiap kali kami terlihat lemas. Dan Bring Cikita pasti harus dinyanyikan lebih dari satu kali setiap ada komandonya. Pada Bring Cikita pertama dan terakhir, pasti terasa kenaikan temponya. Maklum lah, alih-alih semangat, mahasiswa barunya malah jadi naik darah.

Saya percaya saja kalau yel-yel Bring Cikita dikatakan sudah berumur lebih dari 15 tahun. Perhatikan saja liriknya :

Tu..wa..ga..pat! Bring Cikita, Bring Cikita, Bring Cikita, Bring cikicik cikicik cikita..Mantap..Gawat..Sosek SoSek Sosek..S..O..S..E..K..Viva Sosek Sosek! Ugh!

Kata “mantap” dan “gawat” itu,.. old school banget ngga sih?! Tapi semangat dari yel-yel ini emang OK banget, Bring Cikita artinya Bawa (bring) Ceria ke Sosek Kita. Satu kalimat sederhana yang daya magisnya terasa hingga belasan generasi setelahnya. Mantap. Gawat dah!

Tiperary

It’s a long way to tiperary
It’s a long way to go
It’s a long way to tiperary
To the SOSEK that I know
Goodbye piccadelly
Farewell SMU square…
It’s a long way to tiperary
But my heart is right here

Ini dia salah satu lagu mellownya Sosek. Menurut saya, lagunya lumayan enak apalagi kalau dinyanyikan bersama-sama. Namun sebenarnya dari dulu sampai sekarang, saya tak pernah tahu apa artinya, pun ejaan yang benar dari lirik lagunya. “Tiperary” dan “piccadelly”, saya tak pernah menemukan artinya di kamus Bahasa Inggris mana pun. Kata yang terdekat hanyalah “piccalilly”, satu nama makanan. Memang sudah begitu ejaan yang saya terima dari awal masa MPJ. Ketika saya tanyakan ejaan yang benar pada beberapa panitia MPJ, ternyata mereka pun tidak tahu. Jadi inilah yang lucu, ketidaktahuan yang diwariskan turun temurun.

Soseka – Soseki

Soseka dan soseki itu sama saja lincah dan ceria
Banyak orang yang rindu tuk masuk gerbangnya yang ramah menyapa
Sosekanya wibawa
Soseki sahaja menyatu mereka….
Sosekanya yang tampan
Soseki yang caem
Semua mengaku SOSEK jaminan mutu
Hai soseka…hai soseki….

Ketika pertama mendengar lagu ini dinyanyikan, saya teringat pada salah satu -entah yang mana- lagunya Bimbo. Lagu ini, lagu narsis, judulnya mengacu pada sebutan untuk mahasiswa Sosek. Soseka untuk menyebut mahasiswa Sosek dan Soseki sebutan untuk mahasiswinya. Ini juga tampaknya lagu warisan jaman bujadul, lihat saja kata-kata “caem” dan “jaminan mutu”. Haha..old school abies..

Hymne Miseta

Hymne Miseta, lagu paling “keramat” dari seluruh lagu Sosek yang kebanyakan bernuansa ceria. Saya yakin, ngga semua mahasiswa Sosek masih ingat sama lagu ini. Mungkin hanya sebagian pengurus Miseta, Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, yang hafal. Lagu ini, senantiasa dinyanyikan dalam beberapa acara Miseta, utamanya acara formal seperti Rapat Kerja, kampanye Ketua Umum dan Up Grading. Sebagai salah satu orang yang pernah menjabat sebagai pengurus Miseta selama dua tahun (hampir tiga tahun malah, kalau saja saya tak mengundurkan diri), saya tentu hafal. Saya bahkan bisa menyanyikan lagu ini dalam mimpi :p

Saya suka lagu ini, ada sense kebanggaan di dalamnya. Ada aura wibawa terpancar dalam setiap katanya. Ah..Miseta..

Tercatat namanya dalam kebanggaan nusa…
Terukir namanya dalam tonggak sejarah
Dia lahir perkasa dan berwibawa…
Semua kenal sebuah nama…
MISETA terus jaya…

Sayangnya, seperti kita ketahui bersama, saat ini Sosek sedang menghitung hari sebelum akhirnya tercerai menjadi sekian departemen. Faperta sekarang hanyalah mengelola mahasiswa Sosek Passing Out -begitulah sebutannya sekarang- yang tersisa. Ngga ada lagi Sosek, jurusan terbesar dengan tiga PS Sarjana dan dua PS Diploma.

Pertanyaan tersisa, lagu-lagu ini jadi milik siapa ya? Akankah mereka hanya mengisi puzzle kenangan tentang Sosek? Atau menjadi bagian dari cerita manis yang (mungkin) akan diputar pada reuni Sosek di masa mendatang?

Terdiam

Saya diam.
Yah sebagian dari temen-teman saya bisa terpana kalo saya terlihat diam untuk beberapa waktu saja. Beberapa teman yang lebih mengenal saya daripada lainnya mungkin lebih bisa memahami apa yang menjadikan saya lebih ‘diam’ belakangan ini.

Bukan diam dalam arti harfiah.
Saya masih senang bergerak sebagaimana biasanya kok. Deadline penyelesaian skripsi telah memaksa saya untuk ngga bisa bersantai selama biasanya.

Diam dalam arti : berhenti sejenak dari perjalanan.

Dalam suatu petualangan pikiran, saya melihat diri saya yang kelelahan dia suatu siang menjelang sore.
Lama-lama cape juga yah jalan terus2an. Padahal di kiri-kanan jalan banyak tempat peristirahatan. Mau menyepi sebentar dari jalan yang hiruk pikuk orang yang lalu lalang. Sesekali melambai pada beberapa teman yang melewati saya.

Saya pengen dicari. Pengen jalan kalo ada orang yang ngajak. Semoga yang ngajak itu serius pengen jadiin saya temen jalannya. Tapi sebelumnya, biarkan saya menjamu dengan cara yang selayaknya.

Ngobrol2 sedikit di sore hari untuk lebih tau kemana arah perjalanannya. Say goodbye sementara kala malam menjelang untuk menyiapkan perbekalan masing-masing. Kemudian melakukan perjalanan bersama di pagi harinya.

 

 

Friendship

1 Mei 2006

Persahabatan adalah suatu kesepakatan untuk melaksanakan suatu perjalanan bersama. Layaknya bepergian, sahabat sebagai rekan seperjalanan adalah orang yang berinteraksi secara intens dengan kita dalam suatu jangka waktu perjalanan tertentu. Dengannya kita berbagi cerita mengenai perjalanan-perjalanan terdahulu, berbagi bekal perjalanan dan memperkenalkan kita kepada teman masing-masing yang ditemui di perjalanan. Layaknya teman bepergian, kedekatan kita dengan sahabat bisa jadi karena disatukan oleh tujuan perjalanan yang sama. Namun meskipun kita punya tujuan yang berbeda pada awalnya, kadangkala kita terpikir untuk mengubah arah perjalanan kita.

Dengan adanya rekan seperjalanan yang menyenangkan, maka perjalanan menjadi sebuah pengalaman emosional yang mengasyikkan. Perjalanan akan bernilai sama (bahkan lebih) dengan tujuan itu sendiri.

Setiap perjalanan tentu mengalami sebuah persimpangan. Pada persimpangan tersebut, maka tujuan perjalanan akan dipertanyakan. Ada kalanya mood kita menurun ketika rekan seperjalanan menolak untuk berbagi bekal. Ada kalanya perjalanan menapak suatu daerah tertentu atau melampaui batasan yang seharusnya tidak boleh dilewati ….. dan perjalanan tidak akan terasa sama lagi setelah itu. Ada taste yang hilang di sana.

Dalam sebuah kontinuum persahabatan, ada poin-poin tertentu yang melambangkan derajat kedekatan yang meningkat (atau menurun) dari waktu ke waktu. Ada suatu border yang haram untuk dilewati, bila dilanggar, maka kita akan dihempaskannya ke titik nol.

Juice dan Air Putih

21 Mei 2006

Suatu ketika, saya memesan juice untuk melepas dahaga saya siang itu. Pada hari yang panas dan segala sesuatu terasa mengisap cairan yang tersisa, tampaknya hanya juice yang bisa mencegah saya mengalami dehidrasi. Segelas juice untuk melepas dahaga di hari yang panas, alangkah nikmatnya.

Berhadapan dengan segelas juice yang sekarang menjadi milik saya, saya tersedot ke dalam suatu pengembaraan pikiran. Teman-teman saya, seperti kebanyakan orang, seringkali meminta juice untuk menyegarkan kerongkongannya. Juice, tidak dapat dipungkiri, memang menyegarkan. Tersedia dalam berbagai rasa, seringkali disajikan dalam keadaan dingin, segarnya terasa lama bahkan hingga beberapa jam setelah diminum.

Namun juice tidak seperti air putih. Juice bukan minuman yang tepat untuk diminum dalam segala keadaan. Saya meminum juice untuk waktu tertentu saja. Sisanya, untuk menjaga organ-organ saya tetap hidup, saya memilih air putih. Betapapun menariknya juice, sesungguhnya air putih adalah teman saya yang paling setia. Air putih yang selalu membuat lidah merasakan rasa “netral” yang menjadikan saya siap mencecap rasa lain yang beraneka ragam. Juice secara otomatis meninggalkan rasa manis, namun saya tak suka mencecap rasa manis terus menerus.Istimewanya juice. Betapa dibutuhkannya air putih. Saya membutuhkan keduanya. Memang menarik menganalisis peran segelas juice, namun betapa besar gunanya air putih. Untuk menemani hidup sehari-hari, saya jelas lebih memilih air putih ketimbang juice.

Namun segelas juice yang nyata masih jauh lebih berharga daripada air putih yang berasal dari oase yang maya. Oase yang tak lain hanyalah fatamorgana di tengah Sahara. Tampak menyegarkan, namun tak pernah nyata. Sebesar apapun upaya untuk mencapainya.

FYI: ini semua hanyalah analogi. Saya tak mengharap anda untuk segera mengerti.

The Most Vulnerable Point of Achilles

 

21 Mei 2006

Achilles, pahlawan dari zaman perang Troya, kuat melawan prajurit mana pun. Siapa pun. Tangguh dalam perang apapun. Achilles, mendapatkan kekuatannya setelah ditenggelamkan terbalik pada sungai (sungai entah apa saya lupa), oleh ibunya ketika bayi. Mata kakinya yang tidak ikut terendam dalam sungai, menjadi bagian terlemah dari dirinya. Pada mata kaki itulah, ibunya menumpu berat tubuh Achilles kecil.

Seorang teman bercerita, kadang dia merasa seperti Achilles. Dia yakin dulu ibunya merendam dirinya pada sungai yang sama seperti ibu Achilles merendam anaknya. Mungkin belajar dari pengalaman orang lain, ibu teman saya itu merendam anaknya dengan posisi yang berbeda. Alih-alih menenggelamkan dengan posisi terbalik, teman saya direndam seluruh tubuhnya, dalam posisi telentang. Karena itulah, dia merasa kuat dan berani melakukan hal apapun juga. Namun, tampaknya ibunya menenggelamkan dia hanya sebentar. Sepertinya air sungai belum cukup meresap ke organ-organ dalam tubuhnya. Her heart became her vulnerable point since that time.

Itukah sebabnya hatinya terlampau rapuh? Terlampau sensitif sehingga luka sedikitpun dapat melemahkannya?