blog

Persahabatan

1 Mei 2006

Persahabatan adalah suatu kesepakatan untuk melaksanakan suatu perjalanan bersama. Layaknya bepergian, sahabat sebagai rekan seperjalanan adalah orang yang berinteraksi secara intens dengan kita dalam suatu jangka waktu perjalanan tertentu. Dengannya kita berbagi cerita mengenai perjalanan-perjalanan terdahulu, berbagi bekal perjalanan dan memperkenalkan kita kepada teman masing-masing yang ditemui di perjalanan. Layaknya teman bepergian, kedekatan kita dengan sahabat bisa jadi karena disatukan oleh tujuan perjalanan yang sama. Namun meskipun kita punya tujuan yang berbeda pada awalnya, kadangkala kita terpikir untuk mengubah arah perjalanan kita.

Dengan adanya rekan seperjalanan yang menyenangkan, maka perjalanan menjadi sebuah pengalaman emosional yang mengasyikkan. Perjalanan akan bernilai sama (bahkan lebih) dengan tujuan itu sendiri.

Setiap perjalanan tentu mengalami sebuah persimpangan. Pada persimpangan tersebut, maka tujuan perjalanan akan dipertanyakan. Ada kalanya mood kita menurun ketika rekan seperjalanan menolak untuk berbagi bekal. Ada kalanya perjalanan menapak suatu daerah tertentu atau melampaui batasan yang seharusnya tidak boleh dilewati ….. dan perjalanan tidak akan terasa sama lagi setelah itu. Ada taste yang hilang di sana.

Dalam sebuah kontinuum persahabatan, ada poin-poin tertentu yang melambangkan derajat kedekatan yang meningkat (atau menurun) dari waktu ke waktu. Ada suatu border yang haram untuk dilewati, bila dilanggar, maka kita akan dihempaskannya ke titik nol.

Penelitian di Ibukota

15 April 2006

Dua minggu belakangan ini, saya menjajal pengalaman sebagai anak kost. Tempat ngekost nya pun ngga tanggung-tanggung, di Sunter, ibukota sono. Akhirnya lengkaplah pengalaman saya sebagai mahasiswa, bisa ngekost juga meskipun dilakukan pada tingkat akhir perkuliahan.

Ngekost ini dilakukan dalam rangka pemenuhan syarat jadi sarjana. Oh well apa lagi? Skripsi tentu saja. Skripsi ngapain juga jauh-jauh ke pinggir ibukota? Tadinya malah lebih jauh lagi rencananya, pengen ngerjain skripsi di bekas ibukota Indonesia Yogyakarta. Tapi karena keterbatasan peneliti, lokasi penelitian pun akhirnya di sini ajah.

Penelitian ini sekaligus membawa kepada pengalaman magang di suatu perusahaan besar beromzet trilyunan pertahun. Saat ini saya memang jadi karyawan magang di salah satu raksasa industri Indonesia. Menyenangkan rasanya bisa melihat proses yang terjadi dalam such a big company like this. Melihat sibuknya mereka bekerja, saya merasa tertantang ingin merasakan. Mendengar selentingan jumlah gaji yang mereka dapat, makin inginlah bisa kayak gitu. Tapi mendengar bahwa sebagian dari mereka kehilangan waktu bersosialisasi dengan teman dan keluarga, kehilangan waktu membaca dan nampak seperti budak pekerjaan, miris juga rasanya. Untuk hal terakhir ini, saya bersyukur pernah jadi mahasiswa.

Satu pengalaman menarik terjadi pada minggu pertama saya magang. Hari itu ada training untuk Penyelamatan Diri pada Keadaan Darurat gitu deh. Sore itu, saya dan teman-teman baru saja datang dari lokasi penelitian. Setibanya di kantor, rupanya ada kegiatan flyingfox di lantai 5, tempat divisi saya berada. Wuuw… teman saya dari UGM ngajak untuk nyoba! Tertantang dong??!! Iyalah, pantang bagi Sanguinis Koleris menyerah begitu saja. OK ikutan!!

Hasilnya bisa dilihat pada foto yang saya lampirkan berikut hihihi…

FYI (for your information), hingga saat saya mengetik ini, rasa takut ketinggian yang saya idap belum hilang sepenuhnya, meskipun alhamdulillah sudah berkurang. Kemarin saja, saya masih naik eskalator sambil pegangan karena takut eskalatornya tiba-tiba rubuh dan ………. (terlalu imajinatif).

 

Makrab GA

13 Maret 2006

 

Huhuhu…Makrab yang menyenangkan! Kemarin terlalu cape sampai ga kuat untuk nyalain komputer dan nulis ini.

 

Yeah kemaren emang ada malam keakraban Pengurus GA bersama Rimpala (Rimbawan Muda Pecinta Alam) sebagai bintang tamu. Ngga banyak c yang ikutan, tapi udah cukup untuk meramaikan kampung Cibatok yang sepi itu. Makrabnya dilaksanakan di rumah Ipank di cibatok, Pamijahan. Rumah itu sehari-hari emang kosong dan cuma ada perabotan makan, tikar dan bantal. Bahkan ledeng pun nggak ada! Jadilah kami berbagi air sumur dengan si kodok (namanya jadi Air Kodok).

 

Sebenarnya emang acara ngga di-plot untuk ngasih pelatihan jurnalistik dan motivation training dan semacamnya. So, the main reason why we organize this night is to prepare tha organization about our leaving. Di Minggu dini hari itulah pertama kali Ipank ngomongin rencana untuk turun jabatan. Memang sudah waktunya kan? Masa mau bikin rezim di sini…

 

Setelah curhat-curhat mengenai GA selama ini, berbagi ide mengenai rencana yang akan dilakukan untuk memajukan GA, akhirnya kami voting untuk menentukan kandidat yang akan maju ke Pemilihan Pimum. Tersebutlah dua nama calon : Adhi dan iin. Nanti bakalan diadain pemilihan yang melibatkan pengurus yang lebih banyak, mudah-mudahan sih bakalan ada nama calon lain. Biar seru kampanyenya.

 

Minggu pagi, siang dan sorenya, ada acara outbond. Instrukturnya bintang tamu dari Rimpala itu. Lumayan melelahkan, tapi menyenangkan. Akhirnya setelah bertahun-tahun mengenal apa itu flyingfox, baru kali ini gw berani coba. Biarpun menurut Adhi ngga tinggi-tinggi amat (karena anak Rimpala biasa pake yang lebih tinggi), gw anggap kemarin itu udah sebuah prestasi untuk gw. Iyalah, orang-orang kan nggak tau segimana takutnya gw ketika berada di ketinggian. Jangankan menara bambu yang ngga ada pegangannya gitu, eskalator aja yang jelas bentuknya dan jelas jatuhnya kemana, hingga kini gw masih ngga bisa naik turun eskalator tanpa berpegangan. Berdiri tegak pun nggak bisa. Fiuuhh…

 

Inti dari acara ini sesungguhnya supaya kami saling mengenal satu sama lain, menumbuhkan kecintaan terhadap organisasi dan memberikan satu momen untuk dialami bersama. Sebuah tujuan yang mulia namun gw skeptis hal semacam itu bisa tercapai hanya dalam satu momen, tapi gw sepakat pada diri sendiri untuk mendefinisikan acara ini sebagai salah satu tahapan mewujudkan tujuan tersebut.

 

Semoga makrab ini tidak menjadi momen yang lain, yang jadi pengalaman menyenagkan untuk kemudian berakhir sebagai kenangan indah. Gw berharap semoga momen ini bisa mengawali lahirnya GA yang baru, yang mapan berdiri pada kakinya, dan berkembang di atas pondasi yang telah kami bangun pada awal kepengurusan dua tahun lalu.

Flying Fox di Gedung Astra


Hehehe….mau pamer..
Ini lho salah satu acara magang di Astra itu..

Ini bukan cuma sekedar pembuktian ke Koleris-an saya (nggak mau kalah) ataupun sanguinis-an saya (banci panggung) lho, ini untuk…..

….mencoba menaklukkan rasa takut ketinggian yang membebani saya selama ini, selebihnya memang tertantang oleh ledekan orang2 di sana..

Love,.. Who?

Seseorang berkata, bahwa tidak ada ucapan yang benar-benar tulus di dunia ini, yang diucapkan oleh kita manusia biasa.

Jadi ketika kita berkata “ I Love You”, maka sesungguhnya ada kalimat yang secara bersamaan terucap dalam hati yaitu “Love me please…”.

Hahahaha…..

Untuk amannya, masih dalam rangka Hari Kasih Sayang ini, perkenankanlah saya mengajukan sebuah confession:

I REALLY LOVE ME, MYSELF AND I

Tulus dan tanpa basa basi.

Ngeliat Akad Nikah

Fiuuhh… baru datang dari pernikahannya Fia, temen sekelas gw di KPM. Wheew baru pertama kali ini menyaksikan akad nikah, sebelumnya belum pernah. Sebab kata orang-orang jaman dulu (yang disampaikan oleh Mama), kalo belum nikah sebaiknya jangan nonton akad nikah. Lah emang kenapa? Wanna feel tha experience kali gw… Jadi supaya ntar inget susunan acaranya dan urutan kata-katanya. Mungkin aja ada manfaatnya, bila suatu saat nanti diberi kesempatan untuk menikah…

Acara pernikahan Fia lumayan seru, walaupun ngga seluruh teman-teman KPM 39 bisa datang. Tapi kebetulan banci tampil dan banci kameranya hadir semua, jadi lumayan bikin heboh. Selain ucapan selamat menikah dan sebuah kado yang bisa menemani malam-malam panjang Fia nantinya (ehem…), kami juga punya persembahan khusus. Lagu-lagu cinta yang dibawakan secara spesial oleh vocal group dadakannya KPM 39. Hahaha….kacrut. Lumayan juga suaranya, lumayan fals… Udah gaya-gaya sedemikian rupa, sayangnya ga banyak kamera yang mendokumentasikan penampilan kami. Sepertinya the bride and the groom tersipu malu gitu melihat penampilan kami (yang malu-maluin).

Kemudian tiba acara yang ditunggu-tunggu (oleh saya dan sebagian besar teman-teman), yaitu acara pelemparan buket pernikahan. Menurut MC-nya (atau menurut kepercayaan banyak orang), seseorang yang mendapatkan buket bunga tersebut akan ‘kecipratan’ kebahagiaannya pengantin dan sesegera mungkin menyusul ke pelaminan. Waks!!! Saya ikut berebutan, tentu saja. Namun bukan karena ingin cepat-cepat menyusul Fia nongkrong di pelaminan, melainkan iming-iming berupa hadiah dibungkus kotak besar yang merupakan bingkisan dari pasangan. Hehehehe…. Tapi saya ngga dapet buketnya tuh. Gapapalah. Rezeki mah moal pahili. Lagian seandainya dapet buketnya, bingung juga, kan belum punya calon.

Pertanyaan yang lazim tersuarakan di acara seperti itu adalah : kapan nih nyusul?. Pertanyaan yang sering saya jawab dengan : tunggu aja undangannya.
– Lho memangnya udah ada calonnya?
+ Belum ada. Kenal calon yang OK?! (saya menjawab).
Begitulah. Rasanya masih ‘gemana getoh’ kalo topik tentang pernikahan sudah melibatkan saya. Seringkali terpikirkan, “Lho memang saya sudah sampai usia-pantas-menikah ya?”. Dua puluh tahun usia saya, pastinya kalau saya menikah di usia ini bakalan disebut sebagai pernikahan-usia-dini. Ada beberapa hal yang menjadi prioritas saya saat ini, menikah tidak termasuk salah satunya.

Menyaksikan pasangan yang tampak tegang manakala akad nikah, saya termenung dan berpikir apa kira-kira perasaan saya bila dalam posisi itu? Apa yang si pasangan pikirkan dalam benaknya, ya? Yakinkah bahwa kami adalah jodoh bagi yang lainnya? Bagaimana kalau suatu hari bangun tidur dan tiba-tiba ilang feeling, apakah bisa jadi penyebab cerai? Pertanyaan ini sering saya diskusikan dengan sahabat saya. Sahabat saya ini, kami saling mengetahui lika-liku hubungan yang kami pernah alami masing-masing, juga sering memikirkan hal yang sama. Mungkin itu sebabnya dia pernah mengucap keraguannya akan terjadinya pernikahan dalam hidupnya.

Saya sendiri? Masih berusaha untuk tetap optimis.