Movie & Television

Bila Tak Bisa Datangkan Film Hollywood..

.. setidaknya tolong jangan jiplak poster filmnya, PLEASE!!

Saat membaca jadwal film 21 Cineplex di koran beberapa hari lalu, seketika saya prihatin pada adanya kemiripan yang luar biasa pada poster film dari dua negara di belahan dunia berbeda. Satu adalah film impor Drive Angry (DA), satunya lagi adalah produk lokal berjudul Dedemit Gunung Kidul (DGK). Sekilas saja, saya langsung menyimpulkan bahwa kali ini poster film DGK-lah yang mencontek poster film DA.

Kenapa langsung menuduh poster DGK yang jiplakan poster DA?

  1. Mirip banget. Kalaupun kebetulan, ah sungguh luar biasa! Somehow, poster DA sudah beredar lebih lama di internet dibanding DGK.
  2. Setir mobil di poster film DGK terletak di kiri, bukan hal yang lazim di Indonesia termasuk di Gunung Kidul. Kalau di Amerika, memang iya setir mobilnya di kiri.  Continue reading…

Jangan Tukar Isu Putri yang Ditukar

Joe Satch menulis pendapat tentang rame-rame Putri yang Ditukar dengan baik & menarik. Bukan hanya pendapat tentang cerita sinetronnya, secara khusus Joe menyoroti perkembangan perang diskusi di social media ke arah red herring. “Ketika membela sinetron sudah sama mengerikannya dengan membela agama, mau jadi apa negara kita?”, demikian kekhawatiran Choro, blogger lainnya.

Beberapa orang nggak habis pikir mengapa ada orang-orang yang bisa segitu “gemas” terhadap sinetron Putri yang Ditukar (PyD) sampai mau berepot-repot ngetwit, ngeblog dan membuat Gerakan Koin tentangnya. “Matikan saja TV-nya”, begitu kata mereka. Tapi ada orang yang baru merasa puas ketika sudah berbagi opini. Opini dan kritiknya tidak tersampaikan bila hanya memilih untuk mematikan TV. Sikap pasrah tidak menyelesaikan masalah.

Mungkin karena itulah mereka yang memiliki energi berlebih memilih berbagi di social media. Seperti pendukung yang baru puas setelah membela idolanya dengan segenap jiwa raga. Seseorang punya hak untuk menyampaikan kritiknya dan pendukung sinetron PyD punya hak yang sama untuk membela tayangan yang disukainya. Tulis saja apa hal menarik yang hiburan yang didapat dari situ. Saat debat berkembang ke arah ad hominem (menyerang sisi personal lawan bicara) dan fitnah, menurutku itu mengerikan sekaligus lucu. A huge fan of the Conspiration Theory, huh?

Penggemar Teori Konspirasi ini pula yang menuding isu dihembuskan oleh pendukung Cinta Fitri. Padahal bila lebih banyak baca sana-sini, kritik yang sama berlaku juga untuk sinetron lainnya. Continue reading…

Absurditas di Putri yang Ditukar

Plesetan posternya

Kebanyakan sinetron adalah pembodohan? I second that.

Anda tentu tahu bahan-bahan utama untuk sinetron Indonesia, yaitu: kecantikan/ketampanan, percintaan yang mustahil, perebutan harta dan sakit/kecelakaan. Campurkan bahan-bahan utama tersebut dengan pertukaran bayi dan alur cerita yang maju mundur, maka didapat sinetron Putri yang Ditukar.

Selamat datang di dunia Putri yang Ditukar. Sebuah dunia di mana kota hanya selebar daun kelor. Tokoh-tokohnya selalu ketemu secara “kebetulan“ di cafe  yang sama, sudut taman yang sama dan rumah sakit yang sama. Inilah dunia di mana setiap masalah diselesaikan dengan amarah dan mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu saja. Tokoh-tokohnya tidak pernah tampak bersekolah dan bekerja, mohon jangan bertanya mereka dapat uang dari mana. Saya juga nggak tahu.

Secara umum tidak banyak yang berbeda antara sinetron ini dengan sinetron lainnya. Satu hal yang istimewa adalah frekuensi dan durasi tayang yang luar biasa. Sejak minggu lalu, sinetron ini muncul di RCTI setiap hari selama 3-4 jam. Padahal ceritanya cuma pengulangan masalah yang itu-itu saja. Bila ada hal yang saya kagumi dari sinetron ini, itu adalah “kreativitas” penulis skenarionya memunculkan tokoh dan konflik baru demi mencegahnya selesai lebih cepat. :mrgreen:

Continue reading…

2012, Bukan Film Kiamat?

Sebagai penyuka film dengan efek visual yang dahsyat, saya sudah merencanakan untuk menonton film ini sejak jauh hari. Cuplikan-cuplikan dalam trailernya memang menarik mata, membuat tak sabar ingin menonton kehancuran bumi dalam imajinasi sang sutradara. Soal cerita? Ah spoilernya sudah beredar sejak lama kok, jadi cukuplah niatnya memanjakan mata saja. 😀 Gambarannya sudah terbayang, pesta efek visual yang bombastis dan memesona.

Awalnya saya tak menyangka, bahwa sampai muncul seruan penolakan menonton film ini. Ya yang sempet heboh beberapa hari lalu itu, MUI Malang mengharamkan bila memercayai hal kiamat seperti yang disampaikan dalam film. Itu kan kalau percaya.. kalau cuma pingin liat kecanggihan teknologi film boleh doms ah.. 😈 Lucunya, menurut saya larangan ini justru semakin mempopulerkan film ini. Media massa dan blog-blog personal rame-rame mengulas di sana sini.

Entah ada hubungannya dengan (promosi) film ini atau tidak, sampai-sampai infotainment di TV pun membahas isu kiamat dan pendapat (plus persiapan) para artis. Beberapa topiknya terdengar maksa (mungkin kebagian kue promosi :mrgreen: ) dan seakan nggak ada topik lain. Gimana nggak, lah ada artis yang “dituduh” buru-buru nikah karena takut keburu kiamat. 🙄 Continue reading…

Film Pertaruhan: Menyoal Otonomi Perempuan

Siapa yang menentukan nilai atau perlakuan terhadap perempuan (dan tubuhnya)? Setidaknya ada tiga: agama, stereotipe masyarakat dan norma yang mengikatnya.

Adalah Pertaruhan (At Stake), sebuah film dokumenter keroyokan karya lima sutradara. Film yang dibuat oleh Kalyana Shira Foundation bertutur mengenai kisah beberapa perempuan yang bisa kita temui dalam hidup kita sehari-hari. Pertaruhan merupakan film dokumenter yang terdiri atas empat cerita dengan kisah yang berdiri sendiri, namun ada benang merah yang menghubungkan keempat film tersebut.

Benang merahnya adalah isu-isu seputar perempuan khususnya otonomi perempuan terhadap tubuhnya sendiri. Keempat kisah berbeda dalam film Pertaruhan dengan nadanya sendiri menyuarakan pertanyaan yang sama seperti yang tertulis pada awal postingan ini.

Salah satu kisah bertutur mengenai sunat perempuan yang lazim ditemukan di Indonesia dan beberapa masyarakat lain di dunia. Padahal beberapa kalangan menilai sunat (khitan) perempuan belum jelas dasarnya hingga sekarang. Dari segi agama, masih menjadi perdebatan akibat dianggap tidak adanya dalil yang kuat. Continue reading…

Toilet vs Televisi

72,5 Juta Warga Indonesia Bersanitasi Buruk

Duh!

Apakah masyarakat Indonesia sebegitu miskinnya sehingga tidak mampu mengupayakan tersedianya sanitasi yang memadai. Saya ingat pengalaman turun lapang MK Sosiologi Pedesaan waktu saya masih kuliah. Kami tinggal di sebuah perkampungan buruh pemetik teh di Gunung Salak. Hampir seluruh penduduk di dusun yang saya tinggali punya kamar mandi yang sangat jauh dari layak. Sumur dengan air yang kotor, bersebelahan dengan tempat p*p. Setelah p*p kan kemudian kita flush, “buangan” kita itu mengalir tidak jauh dari kamar mandi menuju semacam kolam gitu lah. Tidak jauh dari situ ada tempat penampungan air dari mata air (plus air hujan) yang airnya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tidak ada yang punya akses ke PAM. Fisik kamar mandinya, eheum…berlantai tanah dan berdinding bilik yang bisa diintip dari banyak celah. Ada juga yang cuma bertutup triplek. Tiga hari menginap di sana, saya cuma mandi dua kali. Hehehe….

Anehnya (menurut saya sih aneh), sebagian besar dari mereka punya televisi besar-besar, VCD player (udah keren pada jaman itu) dan karaoke set. Ada juga yang punya mesin cuci. Humm… ternyata mereka memilih untuk spend their money untuk barang-barang elektronik yah.

: warga di sini sebagian besar punya TV dan VCD ya, Pak.

+ : ya Neng, kan hiburan ke luar mah jauh. Jadi (harus) punya hiburan di rumah.

Ketika pembicaraan menyinggung mengenai kondisi kamar mandi.

: kenapa ga dipake buat benerin kamar mandi, pak? Setidaknya supaya lebih tertutup gitu.

+ : ah di sini mah siapa juga yang mau ngintip tetangga, Neng? Sama-sama punya “barang”, kok!

Ternyata benar kata teman saya, semiskin-miskinnya orang Indonesia pasti masih mampu beli TV. Kamar mandi, karena letaknya di belakang, menjadi urusan belakangan (alias bukan prioritas).

Moral postingan ini: Utamakan sanitasi! Waspadai cemaran E. coli pada air minum!