Online Communities

10 Things About #pb2010

Pesta Blogger 2010!

(Late post) tentang Pesta Blogger 2010 alias #pb2010 :mrgreen:, ada apa saja?

  1. Asyik. #pb2010 kali ini mengangkat keragaman komunitas dan platform sebagai daya tariknya. Nggak cuma bloggers yang bisa ikutan, tapi socialmediorati dari berbagai platform berpartisipasi dan menambah warna penyelenggaraan tahun ini.
  2. Banda Aceh. Saya berkesempatan ngisi Blogshop di kota Serambi Mekkah ini. Banda Aceh kabarnya kini berkembang 400% dibanding sebelum dilanda tsunami 2004. Warung kopi dengan wifi gratis bertebaran di berbagai penjuru kota. Salah satu kopi enak yang kami cicipi dijual di Dapoek Kopi, segelasnya cuma sekitar lima ribu rupiah. Kopi enak & murah plus wifi gratis, pastinya banyak blogger betah nongkrong di sini.
  3. Community. Salah satu hal yang menyenangkan dari ikutan roadshow #pb2010 adalah kenalan dengan teman-teman baru dari komunitas lain. Di Manado, saya jadi saksi reborn-nya komunitas blogger Manado, Kawanua. Kawanua menambah keramaian blogosphere Indonesia. Selamat atas kelahiran & tetap berkarya!
  4. Durian. Well, sejak jauh hari otak saya sudah mengasosiasikan Medan dengan durian. Pancake durian dan bolu Meranti jadi pesanan utama dari teman-teman yang merepotkan. Tapi Medan lebih dari sekadar durian untuk saya. Continue reading…

Pingin Punya Pulau Pribadi

Pernah nggak membayangkan gimana rasanya kalau punya pulau sendiri? Punya wilayah yang bisa kita klaim sebagai daerah kekuasaan pribadi, punya tempat untuk menyepi tanpa diganggu hal-hal lain lagi, dan bisa kita kasih nama sesuai nama yang kita sukai. Hmm… bisa jadi menyenangkan kayaknya.

Tak heran bila adaaaaa saja yang berkeinginan punya pulau sendiri. Ketika uang bukan lagi masalah dan ijin bisa didapat dengan mudah, pulau pribadi bisa menjadi pilihan menarik untuk investasi maupun sekedar ditinggali. Beberapa kasus sudah menunjukkan (peluang) terjadinya hal semacam ini. Begitupun, bukan hal yang membanggakan bila orang asing memiliki pulau pribadi di negara kita, Indonesia. Pengalaman menunjukkan, hampir kehilangan Pulau Sitabok dan Pulau Bidadari malah bikin pemerintah kita ketar-ketir. Not to mention Pulau Sipadan dan Ligitan lah ya.. :mrgreen:

Pulau memang seyogyanya tidak jadi hak milik pribadi. Mungkin “negara kecil” dalam sebuah negara, bukan hal yang baik untuk kita. Tapi kalau pingin tetap punya pulau pribadi gimana dong?

What a coincidence, a friend of mine sent me an interesting message: invitation to have your very own pulau. A virtual pulau that can be modified by yourself. VIRTUAL?! Oh ya nggak masalah, sini juga blogger kok kayak situ :mrgreen:

Continue reading…

Nonadita di Majalah Gogirl

Gogirl edisi November 2009 - Nonadita

Gogirl edisi November 2009

Bulan lalu, saya dihubungi Dwi Septika dari majalah Gogirl. Untuk edisi khusus internet di bulan November 2009, Gogirl berniat mengangkat kisah saya ngeblog di salah satu rubriknya.

Teman: Kok bisa? Gogirl kan majalah ABG, nan..
Nonadita: Lalu? Emang gw bukannya masih ABG?
Teman: …….

Maka jadilah saya diwawancara & menjalani sesi pemotretan di studio layaknya fotomodel majalah profesional lainnya. Emaaakk… Alhamdulillah akhirnya anakmu ngerasain jadi fotomodel jugaa! :mrgreen:

Continue reading…

Ajakan yang FreSh untuk Berbagi

Beberapa hari yang lalu, saya berpartisipasi dalam Freedom of Sharing (FreSh), sebuah pertemuan bulanan para IT enabler (ini istilahnya bener nggak sih? :mrgreen: ). Topik FreSh kali itu adalah “Social Enterpreneurship and Online Movement for Social Change”. Berlokasi di The Only One Club, FX Plaza, ratusan orang datang untuk berbagi bersama.

Grace Sai, pendiri Books for Hope mengawali presentasi dengan penjelasan mengenai social entrepreneurship, praktek melakukan perubahan sosial melalui penerapan prinsip-prinsip entrepreneurship. Melalui social entrepreneurship, maka tidak hanya profit/keuntungan yang dicapai, tapi adanya peningkatan kesejahteraan massal yang bisa digapai. Namun,tentu saja konsep baru ini tidak terlepas dari pro dan kontra. Ada saja kalangan yang menganggap bahwa social enterpreneurship dapat dikatakan sebagai: menolong orang susah kemudian membisniskannya. Grace menjelaskan bahwa konsep ini tujuan utamanya bukan maximizing profit, tapi bertujuan untuk sebuah perubahan sosial.

Books for Hope sendiri adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk memberikan akses informasi terhadap kalangan yang minim fasilitas di daerah-daerah. Bentuknya adalah pendirian perpustakaan bilingual di daerah-daerah. Saat ini sudah tersedia ribuan buku yang disumbang oleh beberapa perusahaan yang bersimpati pada gerakan ini. Sekilas, gerakan ini mirip dengan beberapa kegiatan sosial yang sudah ada, menyumbang buku dan mendirikan perpustakaan. Hal yang membedakan adalah adanya Weekend Enrichment Workshops (WEW) berupa pendampingan untuk kegiatan belajar dan game untuk anak-anak serta pelatihan metode mengajar untuk guru.

Books for Hope akan menjangkau daerah-daerah remote di Asia Tenggara, diawali di Indonesia. Indonesia, negara besar yang menjadi target pelaksanaan banyak program sosial. Tanya kenapa? 🙄

Continue reading…

Dinamika Bersuara di Politikana

Apa yang menarik dari tulisan atau diskusi tentang politik? Berita terkait politik di koran hanya punya sejumlah topik yang selalu berulang, meski dengan nama tokoh yang berbeda. Kali ini korupsi anggota dewan, besok adalah aktivitas terlarang mereka di ranjang. Bila kemarin ceritanya adalah fasilitas super mewah para pejabat, lusa ada berita mengenai pemalsuan ijazah yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya. Sedikit berita baik, lebih banyak berita buruk. But good news will never be a GOOD news, right?

Maka saya tak heran bila rekomendasi saya mengenai situs Politikana.com disambut dengan mimik ragu dari beberapa teman. What’s so interesting on it? “Aku malah pusing kalo baca artikel politik dalam satu web gini”, begitu kata pacar saya. Serius dan bikin kening berkerut. Memprihatinkan dan membuat orang mengelus dada, seraya beristighfar atau mengumpat sesekali. Begitulah politik di mata mereka.

Saya pun terkenang beberapa interaksi dengan politikus yang saya kenal. Satu orang senang sekali membuat organisasi massa yang baru dan hadir di macam-macam demonstrasi. Giat mengumandangkan isu pemekaran karena keinginannya menjadi bupati di wilayah yang akan terbentuk di kemudian hari.

Satu lagi meluapkan dana milyaran untuk kampanye, yang didapat dengan cara menggaruk sana sini. Di kota mengaku seret dana, tapi di wilayahnya konon duit dia bagi-bagi. Entah serius atau bercanda tapi saya tak suka dengan jawabannya mengenai hal yang menjadi motivasi. Untuk mendapat proyek yang nilainya besar-besar setelah di dewan nanti.

Continue reading…

Alasan (Kita?) untuk Berpesta Kata

Fun! 😀

Itulah rasa yang terasa setiap kali mengingat Pesta Blogger pada akhir minggu kemarin. Bertemu dengan teman-teman baru dan teman-teman lama yang menyenangkan. Tak ubahnya seperti kopdar akbar saja jadinya. Masih ada capek dan ngantuk yang tersisa, tapi senangnya melebihi itu semua.

Keinginan bertemu dengan teman-teman, rasanya cukup satu alasan itulah yang bisa menjawab pertanyaan: kenapa kok orang-orang mau-maunya datang dari jauh ke Pesta Blogger. Ada teman-teman CahAndong dan TPC yang bercapek-capek naik kereta. Berapa jam perjalanan, Nang? “Limolas”, begitu jawab Anangku. 😯 Ada juga teman-teman BBC dan Anging Mammiri yang terbang melintas pulau hingga tiba di Jakarta.

Teman-teman yang not so into it terhadap kehidupan ngeblog mungkin tak habis pikir tentang apa yang dilakukan para bloger. Kenapa kok ada orang yang betah menulis untuk dibaca orang secara gratis? Kenapa kok ada orang-orang yang mau-maunya kopdar ke tempat yang sedemikian jauh (dan ketemu orang yang nggak begitu dikenal pula)? Masih banyak pertanyaan lain, yang saya bingung njawabnya (dan bingung juga sama pertanyaannya).

Kemarin, seorang teman saya menanyakan beberapa hal di Facebook. Apa alasan yang elegan bagi seseorang untuk ngeblog? Adakah alasan yang lebih ideologis? Nah lho, saya cuma bisa bertanya balik: elegan dan alasan ideologis iki maksudne opo?

Saya lalu menjawab, tidak ada yang spesial dari ngeblog. Continue reading…