Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang
kamu inginkan….
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar …

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit …
Di masa itulah kamu tumbuh …

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang …

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru …
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu …

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat …
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga …

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih …
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan …

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik…
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur
akan masa surut…

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan
menjadi berkah bagimu …

>>>hasil ngambil dari sebuah email dari mailist yang saya ikuti. Mengingatkan saya untuk selalu mensyukuri setiap anugrah yang dimiliki…

Kembali ke Desa

8 April 2007

Suatu Minggu di akhir Maret 2007, saya dikejutkan oleh suatu berita dukacita. Ibu Kades di desa tempat saya melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) pada tahun 2005 lalu, meninggal dunia. Ada penyesalan terasa, menyadari saya terlalu sibuk (atau sok sibuk) hingga silaturahmi dengannya merenggang beberapa waktu belakangan ini.

Belum lama, beliau mengundang saya untuk menghadiri pernikahan putranya. Saat itu, saya berencana hadir bersama teman saya sesama eks mahasiswa KKP di desa tersebut. Namun, pada hari yang direncanakan, saya harus masuk kerja dan hujan turun deras sekali saat itu. Akhirnya saya dan teman pun hanya berkirim kabar lewat SMS, mengatakan penyesalan karena tidak bisa hadir seraya berjanji akan datang ke sana lain kali. Sehari sebelumnya, beliau berkata dalam SMS:

datang ya, neng. Ibu sudah kangen sekali..

Menyesal rasanya, usaha saya tak cukup keras waktu itu untuk datang sekedar memenuhi kerinduan beliau. Menyesal rasanya, ketika akhirnya saya datang ke desanya adalah untuk melayat beliau…

Luka

25 Februari 2007

Semua yang tidak membunuhmu hanya akan membuatmu semakin kuat.
Luka-luka ini cuma luka sementara yang pada waktunya akan sembuh.
Percayalah, alam berjalan dengan aturan yang telah digariskan.
Kau pasti merasa berat pada awalnya, namun akan terbiasa pada akhirnya.

So Tired

16 Februari 2007

Satu hari yang melelahkan. Sebenernya, saya sih udah biasa ngejalanin rutinitas bekerja full day, tapi hari ini sedang beneran ngga enak body. Udah lebih dari seminggu ini pulang malem (malah hari Senin lalu begadang jadi notulis rapat hingga jam 3 pagi..!! yup anda ngga salah baca sodara-sodara). Beberapa malam di antaranya dilewatkan dengan pulang sambil hujan-hujanan pula.

Agenda pertama adalah rapat di kampus dengan salah seorang ahli. Jam 9 saya udah cabut dianter sopir kantor. Ternyata oh ternyata…. tiga menit menjelang tiba di ruangannya (saat itu mobil udah mencapai pintu belakang IPB), ahli ini menelepon ngedadak minta waktu rapat hari Senin karena beliau lupa pada saat itu ada janji ketemuan sama Wakil Rektor.

Kantor nelepon, katanya mobil harus segera puter balik (berikut saya), karena harus jemput big boss di bandara jam setengah 12. Hellow… aje gile!! Ini udah jam 10.00 AM, mu terbang apa? (Masalahna sopir yang lain berikut mobilnya sedang libur..huh!) Untung saja saya ngga jadi rapat. Singkat cerita, saya dan si Wiwin berangkat ke bandara naik mobil yang rasanya udah kaya terbang aja. Ternyata oh ternyata (again!) …. bos ku itu dari Surabaya aja baru take off jam 12.00 (!!!), jadilah saya si cewe-cantik-keren-walaupun-sedang-batuk-pilek nunggu sekian lama di bandara!!

Tiga jenis obat yang saya minum sejak pagi tak urung membuat saya terkantuk-kantuk. Tapi kantuk ini serta-merta lenyap ketika si bos mengomeli saya & Wiwin atas suatu pekerjaan yang belum selesai. Untunglah laptopnya nge-hang setelah itu. Jadi saya bisa agak-agak show off di urusan laptop itu…. Sayangnya, dia menanyakan pekerjaan lain (yang saya belum mulai kerjakan juga) dan ngomel-ngomel lagi setelahnya! Saya terdiam dan berpikir *bisa mikir?!*, apa si bos ini lagi jetlag yah? Perasaan kalo orang jetlag biasanya linglung dan ngantuk-ngantuk, kok ini malah ngomel? Another varian from jetlag symptom kali?

Kami melewatkan sore itu rapat di dua tempat berbeda, di Departemen Keuangan dan Cafe Taman Semanggi. Sayangnya, panas-pusing-batuk-pilek ini masih menemani pula. Ujung hidung udah memerah kaya orang salah ngoles blush on aje kali. Tapi untunglah (orang Indonesia banget..), seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya (emang?) saya sering penyakitan tapi cukuplah sembuh dengan obat warung yang harganya ngga lebih dari goceng.

Setelah anter bos pulang ke rumahnya, kami (saya, Wiwin, berikut pak sopir) harus terjepit dalam macetnya belantara lalu lintas Jakarta pada Jumat malam. Aaarggh….pusing berat! Udah pengen selimutan di tempat tidur.

Sekali Lagi!!

Sepi ini memanggil lagi. Seketika itu pula kusadari, telah lama ku kehilangan waktu sendiri.

Akhirnya Hati menemukan jalannya kembali. Namun Akal sempat ingin beranjak pergi. Ah rupanya mereka belum bisa bersama lagi.

Rasa ini sesungguhnya tak pernah pergi, hanya sempat mati suri. Ketika dia hidup kembali, sulit merelakan dia hilang lagi. Namun, tak perlu ada yang sakit di sini.

Ini bukan sekedar pergi menyepi. Ini bukan sekedar masalah hati. Ini adalah menjalani apa yang diyakini.

Walaupun pada akhirnya, kita semua akan berakhir dalam sendiri.

Sebuah Pengakuan …

7 Desember 2006

Dulu saya punya tempat bekal makanan favorit, warna hijau muda berbahan plastik berbentuk rumah dengan gambar tiga beruang nongol di jendela. Tempat bekal ini besarnya lumayan, bisa dimasukkan botol minum juga. Tempat bekal ini menjadi salah satu benda yang setia menemani saya sekolah TK pada umur 4 tahun.

Sebagai salah satu teman main di rumah, saya punya seekor anak kucing kecil berbulu hitam putih. Kucing ini luar biasa lincah dan lumayan sering main keluar rumah.

Suatu hari, sebuah truk datang ke depan rumah mengantarkan pesanan pasir untuk tetangga yang sedang merenovasi rumah. Truk tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk parkir di depan rumah saya. Saya teringat si kucing kecil yang sering main di bawah mobil.

Saya segera mengambil tindakan (yang saya pikir) penyelamatan. Si kucing kecil saya kurung di tempat bekal karena saya takut dia berlari keluar dan terlindas truk! Sungguh saya takut ketika membayangkan kucing manis ini mati terlindas.

Setelah beberapa lama, akhirnya truk tersebut pergi juga. Dengan perasaan bangga karena merasa telah menyelamatkan satu makhluk, saya membuka tempat bekal dan bersiap menggendongnya. Namun apa yang saya dapati sungguh tak diduga sebelumnya.

Anak kucing tersebut mati lemas di dalam tempat bekal saya.

Hari-hari selanjutnya merupakan saat-saat yang berat dalam hidup saya. Saya merasa bersalah karena pada usia sedini itu telah melakukan suatu pembunuhan (walaupun) tidak disengaja. Perasaan ini masih diperberat oleh Mama yang seringkali berkata bahwa di hari akhir nanti saya akan dihukum menghitung bulu kucing satu persatu. Mama mengatakan hal ini kalau sedang iseng dan sedang ingin menghukum saya. Setelah kejadian itu, tempat bekal saya duduk manis di atas lemari dapur dan saya tak ingin menyentuhnya lagi. Setiap kali melihat tempat bekal itu, tenggorokan saya langsung terasa sakit seperti tercekat karena menahan tangis.

Saat itu, saya hanya berpikir untuk menyelamatkan si kucing. Sedikitpun saya tidak mengerti bahwa makhluk hidup memerlukan udara untuk bernapas. Maafkan aku, kucing ….. *hiks hiks* masih sedih sampe sekarang..