Gratis! Keliling Indonesia & Belajar di LN karena Blog – Nonadita

Akhirnya nulis juga :D

Akhirnya nulis juga 😀

Awal bulan Ramadhan lalu, saya mendapat mention dari @inibuku yang menyatakan ehm, buku saya sudah terbit. Ihiiyy… :mrgreen: Yap, beberapa waktu belakangan ini saya memang menyiapkan penerbitan buku pertama ini. Buku pertama dengan nama saya tertera sebagai penulisnya. Awal tahun 2010 tulisan saya memang pernah disertakan dalam buku kolaboratif Berbagi Cerita, Berbagi Cinta. Tapi kali ini beda, saya belajar menulis sendirian. Belajar untuk menulis sesuatu yang lebih panjang daripada posting blog, but yet it was more fun than writing my undergraduate thesis.

Buku ini berjudul Gratis! Keliling Indonesia & Belajar di Luar Negeri karena Blog. Aduh judulnya please hihih:mrgreen: Beberapa bulan lalu, penerbit Bentang Pustaka menyampaikan ajakannya untuk menerbitkan buku yang berisi pengalaman saya ngeblog dan gimana mendapatkan berbagai peluang darinya. Ada juga cerita dari pengalaman selama menjalani Microsoft Bloggership 2009. Bukunya sendiri ditujukan untuk pemula, bukan blogger level advance yang sudah mendapatkan pengalaman jauh lebih banyak  daripada saya 🙂

Nggak pernah sangka sebelumnya bahwa perkenalan dengan blog di tahun 2004 memberikan banyak kesempatan yang menyenangkan! Dapat banyak teman baru, menang lomba ini dan itu, jalan ke banyak tempat di Indonesia dan secara nggak langsung membukakan jalan saya ke Amerika. Maka penulisan buku ini juga diniatkan untuk berbagi cerita dan motivasi supaya pembaca mau terus ngeblog dan berbagi.

Continue reading…

Untukmu #indonesia65. Dirgahayu!

#indonesia65 karya Masova

#indonesia65 by Masova

Selamat merayakan hari jadimu, Indonesia!

Bangsa yang kami banggakan di luar negeri karena kekayaan bahasanya, meskipun sebagiannya kini sudah hampir tak ada. Masih teringat di benak ekspresi kagum orang-orang Amerika itu ketika kami sampaikan sebagian besar orang Indonesia biasa berbicara dua bahasa: Indonesia dan bahasa daerah/suku/ibu (atau apapun lah kau sebut itu).

Selamat berbangga, Indonesia!

Bangsa yang ramah dan terbuka terhadap datangnya teknologi. Meski internet belum tersedia untuk sebagian besar rumahtangga, namun pertumbuhan penggunanya tercepat di Asia Tenggara. Kita mesti bangga! Pada stream #indonesia65 hari ini, orang-orang meretweet ide, “merdeka berarti konten Indonesia lebih baik dari konten luar negeri”. Cita-cita yang keren! Bayangkan andai makin banyak pengguna internet Indonesia menyumbang konten sendiri, menyumbang kritik plus solusi dan mewartakan hal positif tentang negeri. Bukan cuma sekedar membuat mesin uang melalui blog autopilot yang mengandalkan agregasi hasil mencuri.

Selamat berpesta, Indonesia!

Bangsa yang kaya akan budaya baik yang asli hasil kreasi maupun hasil adopsi. Bangsa yang kini dikenal akan kebebasan berekspresi dan akses terhadap informasi yang kita miliki, privilese yang nggak dimiliki bahkan oleh negara tetangga kita sendiri. Walau belakangan ini kebebasan digerogoti dan sensor-sensor masuk ke ranah pribadi. Kita dipaksa setuju pada satu definisi “pornografi”, yang mau debat silakan lanjutkan ke kantor polisi. Padahal kita mengerti, pendewasaan nggak bisa dilakukan ala tirani. Ketika melihat situs belajar dengan kata “porn” di dalamnya, kita bisa mengerti bahwa inilah edukasi. Tapi mesin filter tetap membaca itu pornografi! Continue reading…

Perayaan 4th of July di Washington, DC

Pertama kali datang ke negara subtropis, salah satu hal yang membuat terkagum-kagum adalah siangnya yang panjang sekali. Bila di Indonesia saya berusaha pulang ke rumah sebelum gelap, maka kali ini saya sedikit lebih santai karena gelap baru datang setelah jam sembilan (magrib waktu setempat). :mrgreen:

Kami beruntung mendapatkan hotel yang terletak di pusat kota sehingga memudahkan untuk pergi ke mana saja. Homewood Suites, hotel kami itu, terletak di Massachussets Avenue tepat di Thomas Circle. Stasiun subway dan bus shelter tersedia dalam walking distance dari sana. Tapi malam pertama di Washington, DC itu kami habiskan dengan menjelajahi kota berjalan kaki dengan santai saja.

Jetlag? Sama sekali nggak kerasa! Mungkin kami terlalu excited karena bisa mengalami perayaan Independence Day-nya Amerika Serikat pada keesokan harinya. Ya, memang hari berikutnya adalah tanggal 4 Juli dan kami diundang untuk ikut menyaksikan pawai 4th of July di Washington, DC! Wow wow penasaran banget pingin tau seperti apa perayaan kemerdekaan negara lain. Apakah ada karnaval baju adat dan lomba-lomba seperti di Indonesia? :mrgreen:

Minggu pagi 4 Juli, kami sudah bersiap di lobi. Mobil sewaan sudah menunggu dan siap mengantar kami ke perayaan di Bethesda, States of Maryland. Inilah pagi pertama kami di Washington, DC Amerika Serikat. Cuacanya cerah dan sungguh bersahabat. Rapinya jalanan dan bangunan di Washington, DC terlihat jelas dan menambah kekaguman saya kepada kota ini. Dalam perjalanan menuju Maryland, kami melewati Embassy Row, jalanan tempat berkumpulnya banyak gedung kedutaan berbagai negara. Kedutaan Besar Indonesia juga terletak di sana. Kami juga melewati deretan bangunan berbata merah yang khas, terlihat kontras dengan pemandangan hijau pepohonan di sekelilingnya.

DC yang Bersih

DC yang Bersih

Lalu lintas DC yang tertib

Lalu lintas DC yang tertib

Sesampainya di Maryland, kami segera menuju rumah Joanne Huskey yang mengundang kami ke sana. Rumahnya terletak di tengah neighborhood yang terlihat nyaman dan bersih. Rumah-rumah terlihat tidak berpagar seperti yang sering terlihat di film-film. Continue reading…

Langkah Pertama di Amerika

Sesuai rencana, saya akan menurunkan tulisan berseri mengenai perjalanan ke Amerika Serikat. Judul-judul tulisan yang termasuk serial ini akan ditulis di halaman ini. Oleh-olehnya mana? Namanya juga blogger, ya oleh-olehnya tulisan dan foto-foto dong.. :mrgreen:

***

I will publish several posts about our trip to United States. As you may know, I’ve stayed there for three weeks to participate in International Visitor Leadership Program. I’m going to write all of the posts in Indonesian language/Bahasa. So, for my American fellows, in case you want to read the posts I suggest you to use online translator such as Google Translate or ToggleText. Of course, none of them can provide the actual translation, but still worth to try. :mrgreen: This page will be updated regularly by adding the title of all the posts related to the trip.

***

Langit biru cerah ketika kami berempat menjejak Dulles International Airport, Virginia untuk pertama kalinya pada sore itu. Cuaca cerah begitu menimbulkan perasaan familiar. Ya cuaca musim panas di Washington DC dan sekitarnya nggak berbeda jauh dengan Bogor – Jakarta, tempat tinggal saya. Tapi tetap saja pemandangan baru yang saya lihat di sekeliling menyadarkan saya: we’re in United States!

Rasanya capek setelah penerbangan >23 jam dari Jakarta lenyap seketika. Untuk mencapai titik sini saja, kami (kecuali Putra Nasution) sempat transit di dua negara: Korea Selatan dan Jepang. Lalu di depan saya terbentang ibukota Amerika Serikat, kesempatan untuk menjelajahinya dan saling belajar dengan masyarakatnya walaupun hanya tiga minggu saja. Rasa senangnya nggak tergambarkan. Sejak kecil bercita-cita ke AS lalu tiba-tiba mendapat kesempatan untuk mengunjunginya (dan berulangtahun di sana pula!). Best birthday prize ever!

Setelah pesawat benar-benar mendarat, saya, Bang Enda Nasution & Mbak Rita Uli Hutapea segera bergabung dengan Putra yang duduknya di pesawat terpisah jauh dari kami. Waktu itu kami sama-sama nggak banyak berbicara. Untuk kasus saya, mungkin saking nggak percayanya bisa ke sana jadi ingin merekam sebanyak-banyaknya pengalaman visual tentang AS untuk pertama kalinya.

Setelah menyambung perjalanan menggunakan shuttle bus yang bentuk depannya lucu, tujuan pertama kali adalah imigrasi. Beberapa minggu sebelum pergi ke AS, Mas Hedi Novianto sudah mengingatkan kepastian menghadapi antrian yang puanjaaaang di imigrasi bandara Dulles. Dia benar. Continue reading…

I Tweet, Therefore I Am

Selama tiga minggu belakangan ini, kalimat ini rasanya terus menerus terngiang-ngiang di telinga “Indonesia is the third largest tweet producer in the world”. Yup, setelah United Kingdom dan Japan, jumlah tweet kiriman kita memang yang ketiga terbanyak di dunia. Fakta ini juga sudah dikonfirm oleh orang Twitter-nya langsung lho :mrgreen: Eugh.. alhamdulillah, mari kita syukuran.

Saya nggak tahu berapa jumlah pasti jumlah pengguna Twitter yang terdaftar dari Indonesia. Tapi fakta di atas memberi gambaran bahwa jutaan Twitter dari Indonesia lumayan produktif bercuap-cuap di accountnya, membuatnya serupa dengan chatroom, mailing list dan forum yang sudah duluan ada.

Familiar dengan status pendek “suntuk”, “melapar”, “@teman jieee” ‘kan? Kita bawel? Ya nggak apa-apa, karena kita lah yang berhak menentukan penggunaan Twitter kita (dan akun social media lain pada umumnya). Social media sudah sampai pada tugasnya menyediakan wadah untuk kita berkomunikasi. Kitalah yang kemudian membuatnya lebih hidup dan punya warnanya sendiri. Bila kemudian kita menggunakan Twitter untuk personal branding dan kemudian memilih konten yang akan di-twit, itu juga pilihan. 🙂

Penasaran juga sih berapa jumlah Twitter bot yang dibuat orang Indonesia. Heran aja gitu kok bisa-bisanya iseng bikinin Kingdom of [Something] sampai… banyak. :mrgreen: Sekarang siapa yang udah di-mention oleh @KingdomofASU, @Kingdomofeaaa, @Kingdomofjieee, @Kingdomofuhuk, @Kingdomofybs? Gosh.. these are really both entertaining and absurd! Continue reading…

Internet Cepat, Datanglah Cepat

Yay! Hello, akhirnya bisa posting juga  :mrgreen:

Seminggu di AS, salah satu hal menyenangkan yang saya rasakan adalah kenikmatan berinternet yang didapat di tempat saya menginap di sini. Lalu kenapa baru posting? Nggak sempat menulis jeh, padat nih kegiatannya. :-“

Kecepatannya sih nggak istimewa, nggak sampai puluhan Mbps. Tapi yang jelas koneksinya stabil dan lancar pol untuk dipakai mengunggah puluhan foto liburan program kami ke Facebook. Tapi barusan saja saya lihat di TV sini, ada perusahaan yang menawarkan internet dengan kecepatan 40 Mbps untuk penggunaan individu. Waw. 😯

Melihat ke belakang, minggu lalu saya masih ngomel mengeluhkan lambatnya internet di Indonesia (baca: rumah saya). Baik modem portable dan yang di rumah sama mengecewakan terutama dalam hal unggah file-file besar. What if we have super duper connection in our house? Aktivitas internet bakal lebih lancar, baik yang produktif maupun konsumtif. Baik posting penting ataupun ngetwit garing.

Bulan lalu, saya mengeluarkan serial twit soal Long Term Evolution (LTE ). Yap, kabar baik sudah datang dari Telkomsel yang memulai riset mengenai teknologi ini bersama beberapa perguruan tinggi yang jadi partnernya. Bila riset berjalan sesuai rencana, diharapkan sekitar satu-dua tahun lagi, Telkomsel bisa mengeluarkan internet super cepat sampai 172 Mbps. Continue reading…