budaya

Itu Bukan Iklan Rokok

Ini foto tentang apa yang tersisa dari Hari Tanpa Tembakau Sedunia, tanggal 31 Mei lalu. Pada hari itu, rupanya Pemerintah Kota Bogor menunjukkan partisipasinya dengan cara memasang reklame yang menyatakan pelarangan penayangan SEMUA iklan rokok. Reklame yang berupa banner-banner ini dipasang di beberapa titik utama Kota Bogor, yaitu: Air Mancur, perempatan Warung Jambu dan jalan Juanda.

Saya tidak tahu apakah pelarangan iklan rokok itu hanya berlangsung pada hari itu saja, ataukah berlangsung di hari-hari setelahnya. Bila pelarangan ini hanya dilakukan pada tanggal 31 Mei lalu saja, tepatlah bila Gage mengomentari hari tersebut sebagai Hari Tanpa IKLAN Tembakau.

Apa yang saya lihat di pertigaan Air Mancur ini adalah sebuah pemandangan yang ironis. Continue reading…

Langkahi Aku, Kau Kuperas

Suatu sore,

Nonadita: Eh adik lo ngebet kawin katanya?
Sepupu: Tau tuh, terserah aja kalo dia udah siap sih.
Nonadita: Lo minta pelangkah?
Sepupu: Minta Honda Jazz aja hahaha
Nonadita: Sarap. Trus adik lo gajadi kawin gitu karena keburu kere?

Teman perempuan saya akan menikah tahun ini. Kebetulan dia mendahului dua orang kakak perempuannya yang belum menikah. Mama berkomentar, “wah kasihan banget kakaknya. Kalau kayak gitu (dilangkahin adik perempuan), kakaknya bisa cepet banget atau lama banget (nyusul nikahnya)”. Woohh bisa begitu yah? Terus apa hubungannya sama pelangkah?

Continue reading…

Maaf, Tak Ada Uang Rokok di Sini

Sungguh kegiatan merokok sedemikian dekat dengan kehidupan kita yang suka berkumpul-kumpul. Kumpul-kumpul rasanya belum lengkap bila tidak ada rokok (aiihh betapa tidak sehatnya).

Pada beberapa kegiatan yang saya ikuti, sudah jadi kebiasaan bagi beberapa orang mengalokasikan dana untuk “uang rokok”. Ya semacam uang lelah atau uang saku, biasanya untuk mereka yang mengerjakan pekerjaan teknis semacam petugas kebersihan dan sopir. Tidak masalah dengan memberikan uang lelah sekedarnya, tapi kalau disertai dengan ucapan “ini Pak, ada sedikit uang rokok”, bukannya malah mendorong mereka untuk membeli rokok ya? Jadi tersugesti untuk merokok gitu.. Untuk teman-teman yang berbaik hati memberi “uang rokok”, maukah menggantinya dengan ucapan “Pak, ini ada sedikit uang buat jajan pulsa” atau “Pak, ini buat jajan nasi padang”. Harga rokok ngga jauh beda dengan harga voucher pulsa atau nasi padang tho? Jadi saya kira penggantian kalimat tersebut masih relevan.

Saya pernah menghadiri tahlilan (pengajian) yang salah satu “hidangannya” adalah rokok (di samping kue-kue kecil). Hal ini dilatarbelakangi kebiasaan warga setempat untuk ngobrol-ngobrol sambil merokok setelah tahlilan usai. Padahal orang yang dingajikan di pengajian tersebut meninggal karena sakit pernafasan, sebab pernah jadi perokok berat semasa hidupnya. Can’t all those people learn from it? Ironis. Sungguh ironis.

Yah, “orang kita” memang makhluk sosial, sangat sosial. Senang berbagi rejeki untuk membuat acara kumpul-kumpul semakin menyenangkan, dan kita jadi semakin akrab. Namun, bagaimana dengan tidak usah mengajak si rokok untuk ikut kumpul? Bisa jadi lebih menyenangkan dan (pastinya) lebih sehat untuk kita semua.

Moral postingan ini: Menjadi akrab tak selalu harus mengorbankan kesehatan kita (dan orang lain).

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia