microsoft indonesia

Photovoices: Potret yang Memberdayakan

The Photovoices Project in the Heart of Borneo The Photovoices Project in the Heart of Borneo

Beberapa tahun lalu, dalam kuliah Pengembangan Masyarakat, saya diberitahu bahwa tak ada yang bisa menjelaskan potret suatu daerah lebih baik daripada masyarakat lokalnya sendiri. Keindahan, keburukan dan keanekaragaman budayanya terekam dalam benak mereka hingga ke detail-detailnya. Ritme kehidupan sehari-hari bisa tergambar dengan alami karena mereka yang menjalani. Inilah mengapa penelitian dan pembangunan harus dilakukan bersama masyarakat lokal, karena mereka yang lebih tahu bagaimana keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakatnya.

Mungkin ide inilah yang menginspirasi para penggagas Photovoices, program untuk memberdayakan masyarakat melalui pelatihan fotografi dan dokumentasi kehidupan melalui pelibatan masyarakat secara partisipatif. Sounds like a Community Empowerment lecture, huh? Haha..walau kedengarannya serius, tapi percayalah Photovoices ini adalah suatu hal yang menarik. Just keep reading… :mrgreen:

Kegiatan ini diawali dengan pelatihan fotografi oleh para fotografer National Geographic kepada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil. Jangan bayangkan pelatihan fotografi profesional dengan kamera DSLR yang lensanya sepanjang belalai..kamera yang digunakan adalah kamera poket biasa. Masyarakat di Lamalera, NTT dan Danau Sentarum, Kalimantan Barat kemudian memotret hal-hal di sekeliling mereka. Kedekatan mereka dengan alam, tradisi sehari-hari, lingkungan tempat mereka mencari nafkah dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Menarik ya? ๐Ÿ˜€

Foto-foto karya fotografer amatir ini (etapi keren-keren lho) kini dipamerkan di Pameran Foto Photovoices, 21-23 April 2010 di American Corner, Gedung Perpustakaan Institut Teknologi Bandung. Event ini terbuka untuk umum dan gratis. Continue reading…

Nico: Pemuda Yogya yang Berjaya

A winner is someone who recognizes his God-given talents, works his tail off to develop them into skills, and uses these skills to accomplish his goals.Larry Bird

Nico BS 2010Penilaian salah satu kompetisi blog terbesar di Indonesia saat ini telah selesai. Para juri sepakat menobatkan Nico Wijaya, pemuda sukses dari Kota Gudeg itu, sebagai peraih Microsoft Bloggership Award 2010! Nico menang karena tak hanya bisa menulis dengan cerdas, namun juga karena beraksi nyata di komunitas. Ya, teman kita itu memang layak jadi juara.

Tentu ini bukan klimaksnya, juga bukan akhir dari sebuah hajatan, karena perjalanan Nico baru akan dimulai. Sejumlah tempat menanti untuk disinggahi, sejumlah pengalaman tentunya kemudian akan dibagi. Dan kita sebagai pembacanya, siaplah menjadi saksi tumbuhnya berbagai cerita menarik, ide segar dan opini.

Nico memang penuh semangat & senang belajar hal baru. Inilah yang saya lihat darinya ketika dia ikut dalam kunjungan saya ke Jawa Tengah untuk Microsoft Bloggership tahun lalu. Nggak semua orang tertarik untuk ikut jalan ke pelosok desa, bertemu dengan orang-orang baru & berbagi cerita yang didapatnya. Tapi di tengah kesibukannya kala itu, dia mau bergabung dengan antusias. Hai Nico, butuh teman jalan-jalan nggak kali ini? โ€œwink-winkโ€ :mrgreen:

Continue reading…

Microsoft Bloggership 2010, Ayo Ikut!

Microsoft Bloggership 2009 - Nonadita

Microsoft Bloggership 2009 - Nonadita

Hampir setahun yang lalu, hari-hari ini adalah saat ketika saya memutuskan mendaftar seleksi Microsoft Bloggership Award 2009. Muncul sebersit rasa ragu apakah ada peluang untuk bisa maju? Selebihnya saya merasa tertantang dan bersemangat, melihat program ini sebagai kesempatan belajar banyak dan ajang untuk berkreasi lebih baik lagi. Saya pun mensyukuri keputusan mendaftar yang saya ambil saat itu, tak pelak adalah salah satu keputusan terbaik saya.

Ketika pemenang Microsoft Bloggership 2009 diumumkan, rasa ragu, senang dan tak percaya menjadi satu. Tentu, karena nggak ada semacam role model atau panduan apa yang harus saya lakukan. Semua dipelajari lewat internet dan diskusi-diskusi dengan teman-teman dari Microsoft Indonesia. Darinya saya mendapat banyak pengetahuan dan semangat baru.

Continue reading…

Internet plus Salak, Berbuah Keripik

Ke Sibetan, KarangasemRoad to Desa Sibetan
Butuh waktu perjalanan sekitar 2 jam dari Denpasar menuju lokasi tujuan kami pada hari itu. Perjalanan merentang dari panasnya Kuta sampai ke sejuknya Sibetan, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Adat Sibetan, tujuan kami kali itu memang terletak di dataran tinggi, 500-600 mdpl membuatnya cocok ditanami tanaman perkebunan. Tak heran bila desa ini menjadi wilayah penghasil salak Bali yang sangat dikenal.

Jalanan menuju Sibetan naik turun dan berkelok-kelok, beberapa titiknya mengingatkan saya pada jalur Puncak, Bogor. Bedanya adalah kiri kanan jalan utama di sana berhias tanaman salak. Kabarnya memang sebagian besar penduduk desa ini merupakan petani buah bersisik tersebut.

Bukan tanpa alasan saya melakukan perjalanan jauh tersebut. Ada hal yang menarik minat saya dan Mbak Yusi di sana. Tak hanya kesempatan untuk melihat kebun salak Bali dan sudut Bali yang jauh dari keramaian turis yang menunggu kami di Sibetan. Ada cerita tentang keberhasilan sebuah kelompok tani meningkatkan taraf hidupnya berkat keinginan untuk mengenal teknologi.

CTC Werdhi Guna, Teknologi untuk Membantu Petani
Namanya Werdhi Guna, adalah sebuah kelompok tani biasa tak beda dengan kelompok lainnya. Menanam salak sebagai komoditas utama untuk kemudian menjualnya ke pasar yang tersedia di sana. Namun, harga yang seringkali jatuh pada saat panen raya membuat mereka harus memutar otak untuk menjaga roda usaha tetap berjalan. Mengolah salak menjadi penganan menjadi opsi terbaik saat itu. Namun, tiadanya keterampilan, modal usaha dan pasar menjadi hambatan yang dihadapi. ๐Ÿ™„ Klise memang.

Belajar menggunakan komputer di CTCSampai pada tahun 2007, Kalimajari, sebuah LSM dari Denpasar bermitra dengan Formasi Indonesia yang didukung penuh oleh Microsoft Indonesia bekerjasama menjadikan Werdhi Guna kelompok yang lebih berdaya. Suntikan keterampilan dan dukungan teknologi jadi solusi. Maka di akhir 2007, Werdhi Guna menjadi salah satu Community Technology Center (CTC) untuk para petani dan keluarganya. Ada pelatihan komputer dan internet gratis untuk mendukung aktivitas para petani dan kegiatan belajar anak-anaknya. Persis di sebelah dapur pembuatan keripik buah-buahan. Continue reading…

Belajar Seru Bersama MultiPoint

ungaran-2.jpgPada kunjungan ke Yogya beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melihat penerapan teknologi MultiPoint di beberapa sekolah dasar di sana. Exciting, of course. Sebelum kunjungan ke Yogya, saya sudah mendengar gambaran mengenai teknologi ini dan bagaimana pemanfaatannya dalam kegiatan belajar di sekolah.

Saat ini, MultiPoint telah diterapkan pada empat sekolah di Yogyakarta yaitu: SD Ungaran 2, SD Muhammadiyah Sapen, SD Muhammadiyah Condong Catur dan SD Serayu. Keempat sekolah ini menjadi lokasi penerapan yang pertama di Indonesia.

Anda mungkin bertanya-tanya seperti apa bentuknya. MultiPoint adalah teknologi yang bertujuan memperkecil rasio antara siswa dan komputer plus membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Dengan demikian, satu kelas hanya membutuhkan satu set komputer yang terhubung dengan (maksimal) 40 tetikus dan proyektor untuk menampilkan materi pelajaran ke layar/dinding.

Setiap siswa bisa menggunakan tetikusnyanya masing-masing sehingga pengajaran bisa berlangsung secara interaktif. Masing-masing tetikus ini mempunyai pointer sendiri berbentuk icon-icon yang lucu dan nama masing-masing siswa. Tidak perlu antre untuk mengklik pilihan jawaban, karena setiap klik masuk ke “account”-nya sendiri.

Teknologi ini memungkinkan guru menciptakan bahan pengajaran yang menarik. Semacam slide power point, tapi lebih interaktif berkat aplikasi Mouse Mischief (dulunya Mighty Mice). Mouse Mischief ini dilengkapi dengan template yang memudahkan guru membuat materi pengajaran. Keluarannya apa? Bayangkan guru menampilkan materi pengajaran (bisa berupa teks, gambar dan video) menggunakan slide yang diproyeksikan ke layar, lalu para siswa bisa “menyentuh” dan menjawab pertanyaan dengan tetikusnya masing-masing.

Prakteknya, MultiPoint memungkinkan seluruh siswa ikut ambil bagian dalam proses belajar & berinteraksi tanpa harus menunggu giliran. Tak usah berebut lagi, karena semua bisa kebagian. Guru bisa menayangkan soal ujian, siswa meng-klik jawaban lalu score-nya diketahui beberapa detik kemudian. Menyenangkan!

Apakah kemudian fungsi lab komputer jadi tergantikan? Continue reading…

Dari Blog Menuju Impian

Profil Nonadita di SINDO

Dua minggu ini, rasanya banyak sekali hal baru yang terjadi. Berawal dari pengumuman terpilihnya saya sebagai peraih Microsoft Bloggership, publikasi mengenai blog ini (dan bloggernya) lantas tertayang di mana-mana. Saya tak tahu berapa artikel yang menautkan blog ini, pun tak tahu berapa media cetak yang menulis beritanya.

Beberapa wartawan lantas menghubungi saya untuk membuat janji wawancara. Ada yang lewat telepon, ada juga yang ingin bertemu muka. Duh, saya jadi makin grogi saja!

Maka, beberapa kali saya menjalani peran di luar peran saya yang biasa. Biasanya saya mewawancarai orang, sekarang malah jadi pihak yang diwawancara. Biasanya minta data pribadi dan foto narasumber, sekarang saya yang mesti menyiapkan semuanya. Pengalaman yang berbeda, asyik juga!

Anyway, saya senang bisa mendapat beberapa teman baru dari kalangan media. Jadi teringat masa-masa ketika saya masih bergelut di bidang itu. Nyatanya, saya tak pernah bisa jauh-jauh dari dunia media. Tak jadi reporter, blogger pun jadi. Sama-sama punya kesempatan untuk mempublikasikan tampang dan tulisan. :mrgreen:

Continue reading…