Ndoro Kakung

Kajian #fq Berjamaah. Seksis.

#fq yang saya maksud pada judul, tak lain adalah Farah Quinn (FQ). Chef cantik yang tenar tak hanya karena penampilannya di TV, namun juga karena menjadi bintang di ranah kicau. Untuk sebagian tweeps, ramainya hashtag #fq setiap weekend sudah terasa familiar. Apalagi bila ternyata bila sama-sama memfollow orang-orang dari kelompok yang berselera sama dan tanpa dikomando ngetwit soal objek pembicaraan yang sama. Jemaah Al Farah Quinniyah alias tweeps ini, bisakah kita sebut fansnya FQ?

Tweeps ini menonton demo masak tak hanya untuk belajar & mencari inspirasi menyiapkan sajian. Mereka ngetwit mengenai pakaian apa yang FQ kenakan hari ini. Mengomentari apa efek warna bajunya, bagaimana pakaian tersebut tampak di tubuhnya, seberapa ketat, dan apakah gambar di kaosnya “rusak” setelah menunduk.  Ketika membaca twit-twit ini, terkadang saya merasa sedang membaca ulasan dari komentator fashion seleb.

Tweeps ini mengomentari bagaimana gaya FQ menerangkan tahapan-tahapan memasak. Bagaimana caranya memegang bahan makanan tertentu, gayanya mengucapkan kalimat tertentu yang kemudian “dituduh” ambigu dan bagaimana caranya mengoles topping di atas sajian.

Tak cuma live report acara demo kemudian berkomentar mengenainya. Rangkaian timeline yg disusun oleh tweeps dengan objek obrolan yang sama rupanya menggelitik imajinasi beberapa orang. Ada yang lalu membayangkan gimana kalau kembennya melorot (ya masup angin lah :mrgreen: ), gimana seandainya jadi pisang yang sedang dipegang atau gimana kalau kembennya dioles madu.

Selera politik bisa berbeda, namun ketika FQ mengudara semua bisa satu suara. Demo masak ditonton sama-sama sekedar ingin melihat chefnya yang memanjakan mata. Salahkah? Tidak (tahu). Kita “terbiasa” untuk menerima bahwa penampilan seorang perempuan cantik lazim menjadi topik joke yang disukai para lelaki. Kita “terbiasa” untuk sepakat bahwa sudah dari alam sonolah laki-laki tertarik secara visual. Continue reading…

Persekongkolan Pecas Ndahe

Ucapan dari Zam dan Nonadita

Apa yang terbayang dalam benak sampean ketika mendengar kata ulangtahun, Ki Sanak? Makan-makan? Pesta? Atau malah suasana prihatin karena THR yang belum juga turun? Apapun itu, mari kita rayakan ulangtahun Manusia Kursi Pesta Bloger 2008 yang jatuh pada hari ini.

Saya diberitahu mengenai ulangtahunnya beberapa hari lalu, oleh Paman Gombal nan budayawan itu. Paman yang selalu punya ide kreatif lantas mengajak saya dan teman-teman untuk bersama-sama menulis sebuah persembahan yang ditujukan padanya. Berupa suatu blog kolaboratif yang dikerjakan untuk mengenang masa hidup mengutarakan kesan kami dalam mengenal Ndoro. Sebuah persekongkolan suci atas nama cinta.

Saya kemudian menimbang-nimbang, apa untung dan ruginya buat saya? Apakah yang saya bisa tuliskan untuknya? Sebentuk unek-unek karena selama lima kali dalam bulan Juni 2008 menjadi korban gosipnya? Ah, tapi kemudian saya juga mensyukuri hasilnya meskipun waktu itu saya sempat mutung padanya.

Jadilah suatu blog lengas tiada tepermanai yang berisi bunga rampai cerita tentangnya. Continue reading…