pekerjaan

Keresahan Seorang Pekerja

Sebuah email berjudul “Sudahkah anda berada di tempat yang tepat?” membangunkan suatu perasaan di hati saya. Memunculkan (lagi) pertanyaan di benak saya, yang (lagi-lagi) dibayang-bayangi ketidakpuasan seputar pekerjaan yang kini dijalani.

***

Ketika kuliah, pernahkah anda membayangkan akan bekerja sebagai apa? Akankah bekerja di bidang yang dipelajari selama kuliah? Lalu ketika sudah bekerja, masih adakah idealisme yang dulu tumbuh semasa kuliah?

Seorang teman menjawab, “saya kan oportunis!” ketika kami mendiskusikan soal ini. “Ada peluang untuk hidup lebih baik, ya ambil saja”, begitulah kira-kira katanya. Seakan mengamini pilihan teman-teman kami yang membelokkan kemudi hidupnya, berbeda dengan bidang yang selama ini digelutinya. Termasuk mereka yang bekerja di tempat yang dulu sempat “dimusuhinya”.

Ada mantan mahasiswa anti rokok yang kini menjadi karyawan di perusahaan rokok, mantan calon dosen yang kini meniti karir menjadi bankir, juga mantan aktivis BEM yang malah bekerja di perusahaan yang dulu ditentangnya habis-habisan.

Tak perlulah muncul pertanyaan, “ke mana idealisme yang dulu dibangun bersama?”, karena jawabannya sudah jelas meski kadang terdengar sebagai pembenaran. Continue reading…

Dari Mana Asalmu?

Siang tadi saya rapat dengan dua orang teman saya. Dua orang pria dari negara yang berbeda. Mereka belum pernah ketemuan sebelumnya. Mereka pun berkenalan dan bisa langsung mengobrol dengan akrab.

………..
(bla..bla..bla..)

P*blo: So, where do you come from?
Ram*n: I’m from Philippine, and you?
P*blo: I’m from Spain.
Ram*n: Owh.. Philippine was a colony of Spain..
P*blo: Yes! For about 300 years, and then colonized by America.
Ram*n: ……..

Oouucchhh!!!
(End of conversation)

Sejumlah teman saya adalah orang asing, kebanyakan dari mereka merupakan orang yang menyenangkan. Tapi saya belum punya teman yang berasal dari Belanda. Ketemu teman yang berasal dari negara penjajah, apakah saya akan speechless juga? Minder? Ilfeel? Humm.. harusnya tidak. Tentu saja tidak. Saya mengenal beberapa teman dari Jepang, mereka baik 😀

Pesan postingan ini: Ketemu “bekas penjajah”? Jangan langsung diam aja dong ah!

So Tired

16 Februari 2007

Satu hari yang melelahkan. Sebenernya, saya sih udah biasa ngejalanin rutinitas bekerja full day, tapi hari ini sedang beneran ngga enak body. Udah lebih dari seminggu ini pulang malem (malah hari Senin lalu begadang jadi notulis rapat hingga jam 3 pagi..!! yup anda ngga salah baca sodara-sodara). Beberapa malam di antaranya dilewatkan dengan pulang sambil hujan-hujanan pula.

Agenda pertama adalah rapat di kampus dengan salah seorang ahli. Jam 9 saya udah cabut dianter sopir kantor. Ternyata oh ternyata…. tiga menit menjelang tiba di ruangannya (saat itu mobil udah mencapai pintu belakang IPB), ahli ini menelepon ngedadak minta waktu rapat hari Senin karena beliau lupa pada saat itu ada janji ketemuan sama Wakil Rektor.

Kantor nelepon, katanya mobil harus segera puter balik (berikut saya), karena harus jemput big boss di bandara jam setengah 12. Hellow… aje gile!! Ini udah jam 10.00 AM, mu terbang apa? (Masalahna sopir yang lain berikut mobilnya sedang libur..huh!) Untung saja saya ngga jadi rapat. Singkat cerita, saya dan si Wiwin berangkat ke bandara naik mobil yang rasanya udah kaya terbang aja. Ternyata oh ternyata (again!) …. bos ku itu dari Surabaya aja baru take off jam 12.00 (!!!), jadilah saya si cewe-cantik-keren-walaupun-sedang-batuk-pilek nunggu sekian lama di bandara!!

Tiga jenis obat yang saya minum sejak pagi tak urung membuat saya terkantuk-kantuk. Tapi kantuk ini serta-merta lenyap ketika si bos mengomeli saya & Wiwin atas suatu pekerjaan yang belum selesai. Untunglah laptopnya nge-hang setelah itu. Jadi saya bisa agak-agak show off di urusan laptop itu…. Sayangnya, dia menanyakan pekerjaan lain (yang saya belum mulai kerjakan juga) dan ngomel-ngomel lagi setelahnya! Saya terdiam dan berpikir *bisa mikir?!*, apa si bos ini lagi jetlag yah? Perasaan kalo orang jetlag biasanya linglung dan ngantuk-ngantuk, kok ini malah ngomel? Another varian from jetlag symptom kali?

Kami melewatkan sore itu rapat di dua tempat berbeda, di Departemen Keuangan dan Cafe Taman Semanggi. Sayangnya, panas-pusing-batuk-pilek ini masih menemani pula. Ujung hidung udah memerah kaya orang salah ngoles blush on aje kali. Tapi untunglah (orang Indonesia banget..), seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya (emang?) saya sering penyakitan tapi cukuplah sembuh dengan obat warung yang harganya ngga lebih dari goceng.

Setelah anter bos pulang ke rumahnya, kami (saya, Wiwin, berikut pak sopir) harus terjepit dalam macetnya belantara lalu lintas Jakarta pada Jumat malam. Aaarggh….pusing berat! Udah pengen selimutan di tempat tidur.