rokok

Orang Miskin Dilarang Merokok

Saya mendengar berita ini dari TV di suatu sore, kabarnya Pemda DKI Jakarta berencana mencabut jaminan kesehatan untuk orang miskin yang merokok. Nggak cuma si perokok, tapi jamkes untuk keluarganya pun ikut dicabut. Tega, heh? 😯

Merokok atau tidak, mungkin pendapat dan perasaan kita terbagi antara senang dan kecewa. Terus terang, saya mendukung idenya yaitu untuk mendidik orang untuk lebih menentukan prioritas. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 20 persen pendapatan rumah tangga miskin dihabiskan untuk membeli rokok. 🙄 Rokok menempati prioritas yang lebih tinggi dibanding alokasi dana untuk kesehatan dan pendidikan anak.

Rasanya miris gitu kalau mendengar berita tuntutan akan pendidikan & pengobatan gratis, sementara orangtua masih saja bisa membeli rokok (yang mestinya bukan kebutuhan pokok). Agak kesal juga bila menyumbang pengamen yang minta uang untuk makan, tapi di sudut jalan terlihat merokok dengan santainya. Continue reading…

Perda Rokok, Sejauh Apa?

Pelarangan merokok di tempat umum sudah dimulai di beberapa tempat di Jakarta. Sudah basi? Memang, karena peraturan ini mestinya sudah aktif sejak tiga tahun lalu. Seperti banyak peraturan lainnya di negeri ini, seringkali heboh di awal penetapan, lalu terlupa beberapa tahun kemudian. Peraturannya galak, tapi penerapannya tak bergigi.

Nonadita: bukannya pelarangan merokok di tempat umum udah sejak lama ya? Kok heboh lagi sekarang?
Teman: Lah gimana pemerintah mau razia? Susah juga kali cari petugas razia yang bukan perokok.
Nonadita: bener juga ya.. *membatin*

Begitulah, ancaman kurungan selama 6 bulan ATAU denda 50 juta rupiah diharapkan bisa mengurangi jumlah perokok yang senang hembus-hembuskan asapnya di tempat umum.

Ancaman penyakit karena rokok? Itu udah basi! Peringatan pemerintah yang berisi: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, sudah terlihat sebagai bagian dari desain bungkus rokok saja. Tak terasa mengancam apalagi menakutkan. Mungkin banyak perokok yang sudah impoten, jadi ya telanjur basah sekalian (tetap merokok).  :mrgreen:

Continue reading…

Itu Bukan Iklan Rokok

Ini foto tentang apa yang tersisa dari Hari Tanpa Tembakau Sedunia, tanggal 31 Mei lalu. Pada hari itu, rupanya Pemerintah Kota Bogor menunjukkan partisipasinya dengan cara memasang reklame yang menyatakan pelarangan penayangan SEMUA iklan rokok. Reklame yang berupa banner-banner ini dipasang di beberapa titik utama Kota Bogor, yaitu: Air Mancur, perempatan Warung Jambu dan jalan Juanda.

Saya tidak tahu apakah pelarangan iklan rokok itu hanya berlangsung pada hari itu saja, ataukah berlangsung di hari-hari setelahnya. Bila pelarangan ini hanya dilakukan pada tanggal 31 Mei lalu saja, tepatlah bila Gage mengomentari hari tersebut sebagai Hari Tanpa IKLAN Tembakau.

Apa yang saya lihat di pertigaan Air Mancur ini adalah sebuah pemandangan yang ironis. Continue reading…

Maaf, Tak Ada Uang Rokok di Sini

Sungguh kegiatan merokok sedemikian dekat dengan kehidupan kita yang suka berkumpul-kumpul. Kumpul-kumpul rasanya belum lengkap bila tidak ada rokok (aiihh betapa tidak sehatnya).

Pada beberapa kegiatan yang saya ikuti, sudah jadi kebiasaan bagi beberapa orang mengalokasikan dana untuk “uang rokok”. Ya semacam uang lelah atau uang saku, biasanya untuk mereka yang mengerjakan pekerjaan teknis semacam petugas kebersihan dan sopir. Tidak masalah dengan memberikan uang lelah sekedarnya, tapi kalau disertai dengan ucapan “ini Pak, ada sedikit uang rokok”, bukannya malah mendorong mereka untuk membeli rokok ya? Jadi tersugesti untuk merokok gitu.. Untuk teman-teman yang berbaik hati memberi “uang rokok”, maukah menggantinya dengan ucapan “Pak, ini ada sedikit uang buat jajan pulsa” atau “Pak, ini buat jajan nasi padang”. Harga rokok ngga jauh beda dengan harga voucher pulsa atau nasi padang tho? Jadi saya kira penggantian kalimat tersebut masih relevan.

Saya pernah menghadiri tahlilan (pengajian) yang salah satu “hidangannya” adalah rokok (di samping kue-kue kecil). Hal ini dilatarbelakangi kebiasaan warga setempat untuk ngobrol-ngobrol sambil merokok setelah tahlilan usai. Padahal orang yang dingajikan di pengajian tersebut meninggal karena sakit pernafasan, sebab pernah jadi perokok berat semasa hidupnya. Can’t all those people learn from it? Ironis. Sungguh ironis.

Yah, “orang kita” memang makhluk sosial, sangat sosial. Senang berbagi rejeki untuk membuat acara kumpul-kumpul semakin menyenangkan, dan kita jadi semakin akrab. Namun, bagaimana dengan tidak usah mengajak si rokok untuk ikut kumpul? Bisa jadi lebih menyenangkan dan (pastinya) lebih sehat untuk kita semua.

Moral postingan ini: Menjadi akrab tak selalu harus mengorbankan kesehatan kita (dan orang lain).

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Kompensasi dari Emisi Asap Rokok

3 Desember 2007


Seiring dengan pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim yang sedang berlangsung saat ini di Bali, topik pasar karbon semakin ramai saja dibicarakan. Ah ya, bagus juga kan kalau negara-negara produsen emisi dalam jumlah besar bisa memberikan kompensasi terhadap negara-negara lain yang kebagian sial “menghisap” emisinya dan kebagian ruginya ozon yang makin berlubang. Hitung-hitung hal ini bisa mendorong negara berkembang seperti Indonesia untuk tidak terus menggadaikan hijau hutannya demi dollar.


By the way, saya pengen nanya alias malas menghitung, kalau dari per hektar hutan bisa dihasilkan karbon sekitar 50-300 ton dengan harga CER sekian, kira-kira itu akan menghasilkan berapa dollar yah? Apakah dollar yang dihasilkan akan lebih besar ketimbang kalau hutan itu ditebang saja? Kalau ya, mungkin pelaksanaan CER di Indonesia ini bisa mengurangi tebang hutan sembarangan yang masih ada di Indonesia. Kali aja……….


By the way (lagi),

dalam skala yang lebih kecil, pemaksaan penghisapan emisi ini terjadi juga di dalam angkot. Yah iya, “emisi” asap rokok. Masih banyak orang-orang tidak berperikepenumpangan yang seenaknya saja ngerokok di angkot, memaksa kami para perokok pasif untuk menghirup udara yang menyesakkan dan (bersama-sama perokok $%&#^ itu) meningkatkan resiko terkena kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan & janin.


Kalau begini, saya jadi ingin minta kompensasi juga pada tiap perokok $%&#^ itu!! Pantasnya berapa juta yah?

Apakah Anda Orang Indonesia Sejati? (versi blog ini)

Saya terinspirasi sama postingan Rina yang bisa dibaca di sini. Jika menggunakan sudut pandang yang sama, saya bisa menambahkan tiga lagi ciri orang Indonesia, khusus seputar perilaku pengguna angkutan umum di Bogor.

1. Ngga mau geser

Angkot di Bogor (seperti juga di banyak daerah lainnya) didesain sedemikian sehingga cuma mampu menampung 10-12 orang penumpang bayar. Lebar body angkot juga ngga pernah selebar metro mini, makanya kadangkala angkot penuh cuma menyisakan gang kecil di antara lutut kedua penumpang. Udah tau angkot kecil, masih ada aja orang yang ngga mau geser ke dalem walopun ada orang baru naek! Ini masih ditambah parah sama kebiasaan sopir angkot yang buru-buru cabut padahal penumpang belum duduk dengan selayaknya, biasalah takut digetok sama polisi karena naekin penumpang sembarangan.

2. Calo-calo angkot penipu

Udah naluri calon penumpang untuk milih angkot yang keliatan penuh atau yang udah mau jalan. Ternyata perilaku ini diamati oleh para sopir angkot dan sekutunya yaitu calo angkot. Nah…bersekongkollah mereka untuk nipu calon penumpang dengan menuh-menuhin angkot sama calo…pas banyak penumpang udah naik, berbondong-bondonglah itu calo ble’e turun…

3. Meracuni sistem pernafasan orang (baik)

Perhatian khusus kepada para cowok!! Bukannya bermaksud bias gender, tapi selama saya hidup (22 tahun tahun kurang satu minggu) ini emang belum pernah menemukan penumpang angkot yang merokok berjenis kelamin perempuan. Tahukah kalian bahwa pada umumnya lelaki dianugerahkan keringat yang lebih banyak dan lebih bau? Tolong jangan semakin meracuni sistem pernafasan kami (orang baik perokok pasif) dengan asap rokok, karena angkot penuh orang ditambah bau keringat dan asap rokok menyiksa sekali rasanya ketika berada di dalamnya.

Gimana Rin, ini masuk ke kriteria nasionalis sejati menurut blog lo ga?? Heu heu………